REMBANG – Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto terpukau dengan rumah percontohan dengan material bata interlock hasil inovasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Wabup bahkan tertarik menjalin kerjasama dengan perusahaan bisnis persemenenan terkemuka ini untuk kegiatan pembangunan RTLH di Kota Garam.

Hal ini disampaikan Bayu Andriyanto saat meninjau rumah “baru” Mbah Lasmi (70 tahun), yang merupakan bantuan dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Senin (28/1). Janda tua warga Desa Sridadi Kecamatan Sridadi Kabupaten Rembang ini terpilih sebagai penerima bantuan RTLH dengan material bata interlock hasil inovasi terbaru Semen Indonesia. Dalam kesempatan itu, Wabup didampingi Sekda Rembang Subakti, Kepala Dinsos Rembang dan Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi juga melakukan pemotongan pita sebagai simbol penyerahan rumah bantuan Semen Indonesia itu kepada Mbah Lasmi.

“Nak niki nggeh mpun sae Mbah (kalau ini sudah bagus Mbah). Ini sudah bentuk rumah jadi siap ditempati,” kata Bayu Andriyanto.

Karena penasaran, Bayu Andriyanto lantas bertanya seputar pembangunan RTLH percontohan dengan material bata interlock ini. Menurutnya konsep pembangunan rumah yang berbiaya ringan namun kuat dan tahan gempa itu cocok dikembangkan untuk perumahan di Rembang.

“Saya minta nomer kontak yang mengurusi rumah bata interlock ini. Cocok ini dikembangkan di Rembang,” ujarnya.

Mbah Lasmi menerima bantuan Semen Indonesia setelah rumah lamanya ludes terbakar pada 19 November 2018 sore. Tak sampai dua jam, rumah kayu yang diwarisi dari orang tuanya itu hanya tinggal arang dan abu. Tak ada barang berharga yang bisa diselamatkan. Berbagai perabot, surat-surat penting dan beragam sertifikat, gabah bahkan hingga pakaian dilalap si jago merah. Kerugian materiil akibat kejadian ini ditaksir mencapai Rp500 jutaan.

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi mengatakan pembangunan RTLH Mbah Lasmi mulai dibangun pada 16 Desember 2018 dan rampung pada 6 Januari 2019. Bahan utamanya dari bata interlock yang merupakan material building produk turunan Semen Indonesia Grup. Bata interlock mirip dengan lego sehingga ada bagian yang saling mengunci dan menguatkan. Praktis material ini juga lebih efisien dan irit karena pemasangannya meminimalisir semen dan pasir. Bata interlock juga menghemat waktu dalam pembangunan sebuah bangunan.

“Pembangunan rumah dengan bata interlock hanya memakan waktu 15 – 20 hari saja, mulai dari fondasi hingga benar-benar siap dihuni. Ini juga bisa menekan biaya pembangunan,” ujar Kuswandi.

Fasilitas di dalam rumah dengan bata interlock yang pembangunannya menelan anggaran Rp47 juta ini tergolong komplit. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi hingga ruang tamu. Selain itu, konsep pembangunan juga mengacu rumah sehat dan layak huni. Ventilasi udara dan pencahayaan diatur sedemikian rupa sehingga penghuninya nyaman tinggal di rumah tersebut.

Selain mudah dikerjakan, rumah yang pembangunannya menggunakan bata interlock ini juga ramah gempa. Sebab bagian bata interlock yang mirip lego saling mengait sehingga tahan goncangan gempa. Rumah ini juga ramah lingkungan, ekonomis, bernilai estetika, hemat material dan juga membuat ruangan di dalamnya terasa sejuk.

“Rencananya tahun 2019 ini bantuan pembangunan RTLH dengan material bata interlock kita berikan untuk empat warga Sarang Meduro Kecamatan Sarang, Rembang,” terang Kuswandi.

Rumah “baru” Mbah Lasmi berukuran 4x 6 meter bantuan Semen Indonesia ini sudah hampir tiga pekan ini dihuni janda tua itu. Kini Mbah Lasmi juga bisa tidur lebih nyenyak di rumah berlantai keramik dan berdinding material bata interlock hasil inovasi terbaru perusahaan persemenan terkemuka ini. Sebelumnya, ia tinggal di bekas kandang sapi beralas tanah dan berdinding anyaman bambu yang masuk kategori tidak layak huni.

“Remen sanget. Kulo niki kesusahan lajeng dibantu nggeh remen (Sangat senang sekali. Saya ini sedang susah terus dapat bantuan jadi sangat bahagia),” tutur Mbah Lasmi.

Sementara itu, Kades Sridadi Edi Purwanto mengapresiasi upaya yang dilakukan Pemkab Rembang dan Semen Indonesia dan jajarannya karena telah membantu Mbah Lasmi yang rumahnya ludes terbakar. Edi berharap progam serupa bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Sebab saat ini masih ada sekitar 40 RTLH di Desa Sridadi.

“Semoga yang dilakukan Semen Indonesia ini bisa memotivasi perusahaan lainnya,” tandas Edi Purwanto. (liez)