Ficer Pemberdayaan BUMDes ala Semen Gresik (bersambung)

Memaksimalkan BUMDes merupakan salah satu prioritas PT Semen Gresik Pabrik Rembang dalam progam pemberdayaan masyarakat dan desa di sekitar perusahaan persemenan terkemuka ini. Berkat sentuhan Semen Gresik, BUMDes baik di wilayah Kabupaten Rembang maupun Blora mulai mampu berdikari. Beragam dampak positif berhasil dimunculkan. Mulai dari merangsang kreativitas anak muda, menekan peredaran minuman keras dan praktek yang cenderung melecehkan perempuan, solusi krisis air bersih yang selama bertahun-tahun membayangi warga hingga menggenjot perekonomian berbasis potensi dan kearifan lokal. Seperti apa?

Menjamurnya warung kopi plus karaoke dan pemandu lagu (PL) di kawasan Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem membuat Masdurianto (24) gusar. Tiap malam, warkop plus ini menjadi tempat nongkrong favorit anak-anak muda baik yang berasal dari wilayah Tegaldowo maupun desa lainnya seperti Dowan, Suntri, Timbrangan hingga Pasucen. Yang membuatnya lebih geram lagi, karena peredaran miras juga kian marak seiring aktivitas warkop remang-remang itu.

Masdurianto tergerak mengikis kebiasaan negatif itu. Pemuda lulusan SMK ini ingin aktivitas warung kopi di desanya maupun kawasan sekitar lebih positif. Aktivitas ngopi, jagongan sembari membincangkan apa saja tetap jalan. Namun miras, karaoke plus PL hilang.

“Prihatin sekali, makanya saya ingin berbuat sesuatu untuk desa kelahiran. Dan saya kira hal itu bisa diawali dari warung kopi yang memang populer di sini. Warung kopi yang kita impikan tidak hanya sekedar mengejar laba semata, namun juga ada misi sosialnya,” kata Masdurianto, saat ditemui baru-baru ini.

Siapa Masdurianto? Sebelumnya pemuda berperawakan “gering” ini tergolong barisan kalangan kontra pembangunan Semen Gresik di Rembang. Ia tidak pernah absen dalam aksi penolakan pabrik semen milik BUMN yang tergabung dalam korporasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk ini. meskipun hal itu diakui Masdurianto karena ikut-ikutan seiring kurangnya asupan informasi yang diterimanya. Namun seiring waktu, cara pandangnya lebih terbuka terlebih setelah melihat berbagai fenomena yang ada di sekitarnya. Dengan kesadaran sendiri, ia memilih merubah haluannya.

“Anak-anak desa seperti saya butuh aktivitas untuk mengembangkan diri. Setidaknya upaya itu bisa bermanfaat untuk diri sendiri. Syukur kalau juga bisa berkontribusi untuk masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Rupanya, keinginan Masdurianto itu ditangkap jajaran BUMDes Mumpuni Tegaldowo yang proses pembentukannya disokong penuh Semen Gresik. Kebetulan, Masdurianto juga tercatat sebagai salah satu pengurus BUMDes Tegaldowo. Gayung pun bersambut. Pemetaan potensi hingga strategi langsung disusun rapi. Djoglo Coffe disepakati sebagai nama warung kopi dengan konsep positif ini. Bekas bangunan Balai Desa Tegaldowo yang mangkrak sekitar 10 tahunan dipilih sebagai lokasi usaha ini. Masdurianto diplot sebagai Kepala Unit Djoglo Coffe yang merupakan salah satu anak usaha BUMDes Mumpuni.

Semen Gresik juga menyambut impian Masdurianto dan pengelola BUMDes Mumpuni. Dana CSR sebesar Rp50 juta dikucurkan agar “mimpi” itu terealisasi. Anggaran itu digunakan untuk proses rehab bekas balai desa, pengadaan sarana pendukung hingga operasional warung kopi dengan konsep positif ini. Hingga akhirnya, April 2018 Djoglo Coffe resmi beroperasi untuk pertama kali.

”Ini capaian yang luar biasa. Ada banyak manfaat positif yang muncul seiring beroperasinya Djoglo Coffe ini,” ujar Masdurianto.

Dalam sehari, jumlah pengunjung Djoglo Coffe bisa lebih dari 20-an orang, baik pribadi maupun rombongan organisasi. Dalam sebulan bisa mencapai ratusan pengunjung yang didominasi anak-anak muda. Omzet bulanan Djoglo Coffe sekitar Rp5 juta – Rp6 juta. Pada momen dan bulan tertentu omzetnya bahkan melonjak hingga Rp10 juta. Kehadiran Djoglo Coffe ikut menggerakkan perekonomian setempat. Snack, kuliner produksi warga setempat bahkan hingga kopi lelet khas Lasem Rembang ditampung dan disajikan di warkop ala kafe Masdurianto.

Selain itu, Djoglo Coffe juga menjadi ruang berekpresi yang positif bagi anak-anak muda di Tegaldowo dan sekitarnya. Anak-anak muda diberi wadah untuk “beraksi” sesuai potensi yang dimilikinya. Alhasil, pentas seni maupun live music yang diisi generasi milenial kerap ditampilkan dan menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung. Konsep warkop ala kafe menjadi keunggulan tersendiri Djoglo Coffe. Berbagai fasilitas seperti tempat yang artistik, layar lebar, proyektor hingga koneksi televisi berbayar ibarat menjadi jaring pemikat berbagai kalangan untuk datang dan berlama-lama di Djogo Coffe.

“Tapi fasilitas karaoke yang lazim ada di warung kopi ditiadakan. Lalu kami ganti dengan wifi. Jadi pengunjung bisa bebas berselancar di dunia maya sesuai kebutuhan mereka,” ucap Masdurianto.

Masdurianto berharap Djoglo Coffe terus berkembang. Beberapa rencana pengembangan sudah mulai disusunnya. Salah satunya, ia ingin tiap akhir pekan, ada semacam “pasar khusus” kuliner tradisional yang disajikan di area Djoglo Coffe. Upaya ini diharapkan kian memperluas cakupan pasar Djoglo Coffe. Pengunjung ditarget tak hanya dari desa-desa di Kecamatan Gunem saja, namun juga meluas hingga wilayah lain baik yang ada di Kabupaten Rembang maupun Blora.

“Saat ini kuliner tradisional jarang ditemui. Lewat upaya ini kita tidak hanya sekedar jualan saja, tapi juga ikut berusaha melestarikan kuliner beserta kearifan lokal yang ada di sekitar. Kehadiran Semen Gresik positif bagi kami,” harap Masdurianto.