Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

REMBANG – Urusan nasionalisme, kyai-kyai sepuh asal Lasem, Rembang, Jawa Tengah ibarat cermin kaca. Dari mereka kita bisa melihat kobar cinta, semangat patriotisme, bahkan rela berkorban harta, benda dan jiwa untuk tanah airnya.
Sejak ratusan tahun lalu, jiwa patriot itu sudah terpatri. Perang Sabil Lasem melawan imperialis Belanda tahun 1750 M menjadi saksi sejarah pada masa revolusi. Dan peran besar Kyai-Kyai Lasem itu masa lalu berlanjut pasca kemerdekaan negeri ini. Kiprah keturunan tokoh asal Lasem, semisal Mbah Sambu tak henti turut memberi corak dan warna perjalanan bangsa ini. Salah satunya seperti Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Sejarah mencatat, nasionalisme itu dikobarkan dari Masjid Jami’ Lasem. Sebagai bentuk apresiasi PT Semen Gresik mengucurkan Rp100 juta untuk menunjang pembangunan perpustakaan dan museum di area Masjid Jami’ Lasem. Diharapkan bantuan untuk penataan perpustakaan dan museum ini kian menggairahkan wisata religi dan sekaligus wahana edukasi untuk generasi penerus, khususnya di Lasem agar mereka tak lupa dengan nilai-nilai perjuangan leluhur mereka. Seperti apa ceritanya?

Kalimat prasasti dari Babad Lasem bertuliskan “Sarampungi sembahyang Jumuwahan Ing Mesjid Jami’ Lasem kang diimami Kyai Ali Baidhowi, nuli wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda” yang diabadikan juga tertulis di batu seberat sekitar sepuluh ton di area Masjid Jami’ Lasem menjadi salah satu titik “pemikat” jamaah maupun peziarah. Seruan jihad yang dikumandangkan kyai kharismatik inilah yang ikut menggerakkan umat Islam, abangan, ningrat hingga keturunan tionghoa di Lasem untuk bangkit melawan imperalisme Belanda.
Berkat seruan itu, rakyat Lasem bersatu angkat senjata untuk mengusir penjajah. Mereka tak ragu mengorbankan apapun untuk membela tanah airnya. Kisah patriotisme Kyai Ali Baidhowi ini ditulis sejarah dengan tinta emas. Tak heran jika banyak jamaah juga menziarahi makam Kyai Ali Baidhowi atau Ki Joyo Tirto yang terdapat di komplek Masjid Jami’ Lasem.
“Seruan Kyai Ali Baidhowi benar-benar mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Perang terjadi di semua wilayah Lasem,” kata pemerhati sejarah Lasem Abdullah Hamid, saat ditemui baru-baru ini.
Siapa Kyai Ali Baidhowi? Tokoh panutan ini adalah keturunan kelima dari Adipati Tejakusuma I atau dikenal juga dengan nama Mbah Srimpet yang makamnya juga ada di komplek Masjid Jami’ Lasem. Sosok ini merupakan cikal bakal raja-raja Lasem pasca keruntuhan Majapahit.
Kyai Ali Baidhowi merupakan keturunan Mbah Sambu (Sayyid Abdurohman) yang merupakan menantu Mbah Srimpet. Jika dirunut silsilahnya, Mbah Sambu merupakan anak Pangeran Benowo, atau dengan kata lain juga cucu Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Mbah Sambu menurunkan tokoh-tokoh dan juga ulama besar di Indonesia. Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga termasuk keturunan Mbah Sambu. Silsilah ini didapat dari nenek Gus Dur (istri KH Hasyim Asy’ari – pendiri Nahdlatul Ulama). Meskipun dari jalur ayah, nasab Gus Dur juga tersambung dengan Pangeran Benowo.
“Ulama besar di Jawa seperti KH Hamid Pasuruan, KH Ahmad Sidiq Jember juga keturunan Mbah Sambu. Orang besar juga melahirkan orang besar ada di sini,” jelas Abdullah Hamid Salah satu keturunan Kyai Ali Baidhowi yang kiprahnya dicatat sejarah mewarnai perjalanan Indonesia adalah Mbah Baidhowi. Saat terjadi pergolakan pasca kemerdekaan, Mbah Baidhowi merupakan orang yang menegaskan kepemimpinan nasional di bawah komando Presiden Soekarno.
Cucu dari Kyai Ali Baidhowi ini menyebut jika founding father Indonesia itu adalah waliyyul amri adh- dhoruri bisyaukah (pemimpin nasional dalam keadaan darurat yang kuat). Upaya ini dilakukan karena usia kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung rawan pemberontakan serta potensi krisis legitimasi kepemimpinan nasional yang mengancam keutuhan NKRI dan mandegnya roda administrasi negara.
“Jadi kalau berbicara soal nasionalisme, tokoh-tokoh asal Lasem tak perlu diragukan lagi kontribusinya,” tuturnya.
Di area Masjid Jami’ Lasem, terdapat sejumlah makam. Mulai dari Mbah Srimpet, Mbah Sambu, Kyai Ali Baidhowi, juga ada makam Mbah Ma’shoem yang juga termasuk salah satu pendiri NU. Selain itu, juga makam-makam kyai Lasem lainnya yang masih ada jalur keturunan atau kekerabatan dengan Mbah Sambu.
Selama ini, kata Abdullah Hamid Masjid Jami’ Lasem dan makam yang ada di sekitarnya menjadi jujugan peziarah dari berbagai kota di Indonesia, baik kawasan Pulau Jawa maupun luar Jawa, bahkan hingga mancanegara. Tiap harinya, terutama hari Sabtu dan Minggu, ada sekitar 15 – 30 bus yang mendatangi kawasan wisata religi ini.
Rombongan jurnalis maupun peneliti dari luar negeri juga pernah mengunjungi Masjid Jami’ Lasem. Kedatangan mereka dalam rangka penelitian terkait berbagai peninggalan benda maupun nilai-nilai warisan luhur dari leluhur Lasem itu.
Seperti peninggalan berupa gerabah Majapahit dan keramik cina kuno. Ada juga buatan pabrik Maastricht Belanda tahun 1836 (zaman VOC) yang pada masanya merupakan ‘tandingan’ keramik asal China. Ada juga yang datang untuk memetakan potensi wisata di kawasan ini.
“Ada orang Rusia yang datang karena tertarik dengan makam Mbah Sambu. Bangunan makam kuno itu ternyata identik dengan arsitektur khas Samarkand (sekarang Uzbekistan),” jelasnya.
Berbagai benda peninggalan zaman dulu yang ditemukan di komplek Masjid Jami’ Lasem memang unik. Salah satunya adalah mustoko masjid yang yang dibuat tahun 1588 M. Mustoko yang hingga kini kondisinya masih utuh itu menunjukkan masa transisi dari era Hindu Budha Majapahit ke Islam. Mustoko yang sudah berusia ratusan dengan relief Batharakala ini menjadi simbol jika toleransi antaragama sudah menjadi ruh warga Lasem.
“Sampai sekarang mustoko setinggi 1,60 meter ini masih utuh. Padahal dulu belum ada teknologi semen. Tapi meski kena hujan dan panas kondisinya masih utuh. Kalau Semen Gresik mau meneliti ini semisal unsur keasaman, bahan tanah yang digunakan dan lain sebagainya pasti hasilnya menarik,” tukas Abdullah Hamid sembari berkelakar.
Peninggalan lainnya yang tak kalah “mempesona” adalah Prasasti Dodo Peksi yang merupakan simbol berdirinya Masjid Jami’ Lasem. Namun sayangnya, hingga kini belum ada ahli yang bisa menerjemahkan secara tuntas prasasti itu. Selain itu, ada juga manuskrip lama berupa mushaf Alquran, tafsir, kitab kuning, dan burdah salawatan yang ditulis tahun 1294 H atau sekitar 135tahun lalu. Ada juga berbagai keramik, koin kuno, kendi dan gerabah zaman dulu dan lain sebagainya.
“Berbagai peninggalan ini akan merupakan benda berharga bagi generasi masa depan. Semisal manuskrip Tafsir Jalalain tahun 1294 H, iluminasinya ikut menginspirasi motif batik Lasem. “Leluhur kita ternyata sudah punya jiwa seni dan ketelitian luar biasa. Makanya warisan ini harus terus kita jaga dan rawat,” ujar pengelola perpustakaan dan museum Masjid Jami’ Lasem ini.
Sementara itu, Ketua Ta’mir Masjid Jami’ Lasem, H Abdul Muid mengatakan saat ini proses pembangunan sejumlah bagian penunjang masjid sudah dan terus berjalan. Mulai dari penginapan hingga toilet. Khusus gedung perpustakaan dan museum diproyeksikan bisa rampung pada tahun 2020.
Pihaknya mengapresiasi Semen Gresik yang sudah mengucurkan bantuan untuk Masjid Jami’ Lasem. Ia berharap semoga bantuan serupa juga masih dikucurkan agar proses pembangunan yang sudah dirintis sejak 2014 atau saat masa H Abdul Hafidz masih menjadi Wabup Rembang (kini menjabat Bupati Rembang) bisa kelar lebih cepat dari rencana. Selama ini, anggaran untuk kegiatan ini mayoritas disokong dari dana swadaya masyarakat.
“Perpustakaan atau museum itu termasuk yang kami prioritaskan. Kita berharap upaya ini berdampak positif untuk menunjang wisata religi maupun sarana edukasi,” tandas Mbah Muid. (liez)

* Feature ini dimuat di Jawa Pos Radar Kudus, Senin 4 Maret 2019