Rembang – Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang memiliki perempuan bernama Suharti (50). Dia gigih berjuang agar tak ada lagi pernikahan dini di kampungnya. Atas usahanya PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik mendukung penuh upayanya.

Melihat maraknya kasus pernikahan dini di Desa Tegaldowo membuat Suharti prihatin. Sebab di balik fenomena sosial itu juga terselip kisah tentang minimnya pendidikan, ketidakberdayaan anak-anak menentukan pilihan masa depannya, ketidaksiapan reproduksi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga maraknya perceraian.

Suharti pun tergerak berbuat sesuatu untuk desanya yang lokasinya berada di kawasan perbukitan kapur dan berjarak 37 kilometer dari pusat Kota Rembang. Untung saja, ada berbagai lembaga mulai dari Yayasan Plan International Indonesia hingga PT Semen Gresik yang peduli mengikis praktek nikah dini di desanya.

“Dulu di sini, anak baru lulus SMP tapi sudah dinikahkan adalah sesuatu yang lazim. Makanya saat usia mereka 20 tahunan, banyak yang sudah berstatus janda atau duda, tak hanya sekali bahkan bisa 2 – 3 kali. Tapi sekarang kondisinya sudah berbeda, masih ada tapi sudah jauh berkurang,” kata Suharti saat ditemui baru-baru ini.

Suharti adalah Ketua Komite Perlindungan Anak Desa (KPAD) Tegaldowo. Suharti bersinggungan dengan lembaga ini sejak tahun 2005. Persisnya setelah sebuah NGO (Non Goverment Organization) yang concern dalam kesetaraan gender dan hak anak yakni Yayasan Plan International Indonesia masuk ke desanya. Kebetulan, Suharti merupakan Kepala TK Pertiwi Tegaldowo yang aktivitas hariannya berhubungan langsung dengan anak-anak sehingga klop dengan progam NGO yang berkantor di Jakarta ini.

Desa Tegaldowo memang salah satu desa dampingan Yayasan PLAN. Selain Tegaldowo, PLAN juga menggarap desa lain, baik di Kecamatan Gunem dan sejumlah wilayah lain di Kota Garam. Selain jambanisasi, progam pencegahan pernikahan dini termasuk prioritas yang dijalankan NGO ini. Suharti dan sejumlah rekannya adalah ujung tombak progam tersebut di Desa Tegaldowo. Anak-anak mulai usia balita hingga 17 tahun menjadi “target utama” progam tersebut.

“Tapi kita juga melakukan pendekatan dengan orang tua anak-anak itu. Saat ada kumpulan wali murid TK Pertiwi Tegaldowo atau SMP serta momen lainnya saya juga sampaikan tentang bahaya pernikahan dini. Upaya pemberdayaan ini tidak akan berhasil maksimal tanpa partisipasi dan dukungan dari orang tua, lingkungan maupun pihak terkait lainnya,” jelas Suharti.

Anak-anak yang masih proses tumbuh kembang itu diajak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan positif. Mulai dari aktivitas seni, olahraga, cinta alam, pengembangan wawasan berfikir dan lain sebagainya. Agar fokus dan tepat sasaran, berbagai kegiatan itu diwadahi dalam Forum Anak Desa (FAD). Wawasan anak-anak itu juga diperluas. Mereka diajak meneropong masa depannya. Fenomena yang terjadi di sekitar kerap dijadikan contoh untuk membuka cakrawala berpikir anak-anak itu.

“Saya bilang ke mereka, lihat sekelilingmu, saudaramu, kakakmu atau siapa saja yang menikah terlalu dini. Setelah menikah muda mereka ngapain? Umur masih muda sudah gendong anak, mengurusi rumah, pergi ke sawah atau yang sejenis. Makanya saya pesan ke mereka, menikah itu harus tapi jangan terburu-buru. Masa depan masih panjang, semangat muda harus diisi dengan mimpi dan harapan,” ujar Suharti.

Perjuangan Suharti bukan tanpa aral. Awalnya, banyak warga yang abai dengan perjuangannya. Pasalnya, menikah dini sudah menjadi kebiasaan yang berakar kuat di masyarakat. Selain itu, beban orang tua juga berkurang setelah anaknya dinikahkan. “Kepercayaan” yang berkembang di masyarakat juga seakan menguatkan praktek pernikahan dini. Mereka khawatir jika anaknya dilamar tapi ditolak maka bakal tidak laku kawin, menjadi perawan tua dan istilah lain yang sejenis.

Progam dampingan Yayasan PLAN di Tegaldowo berakhir pada tahun 2015. Seiring proses itu. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik juga melakukan upaya serupa di Tegaldowo dan kawasan sekitarnya. Progam yang dijalankan “nyambung” dengan upaya yang dirintis Yayasan PLAN. Mulai dari pemberdayaan perempuan lewat pelatihan tata boga, tata rias, progam Kejar Paket untuk anak-anak putus sekolah, Griya Pamulangan, progam jambanisasi dan lain sebagainya. (liez)

*bersambung