REMBANG – Krisis air bersih kerap membayangi warga Kabupaten Rembang bagian selatan dan penduduk Kabupaten Blora bagian utara, terlebih saat musim kemarau berkepanjangan. Saat air sumur di rumah warga mengering, maka meminta bantuan droping air bersih ke pemerintah atau pihak lain merupakan upaya yang tak terhindarkan. PT Semen Gresik berupaya mencarikan solusi atas persoalan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun tersebut. Tulisan ini juga dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang diperingati tiap 22 Maret Seperti apa ceritanya?

Jantung Muhammad Fahmi mulai berdegup kencang saat berada di depan lubang selebar 1 meteran di tepian gua bekas tambang fosfat di Dukuh Wuni Desa Kajar Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu. Lubang itu sebenarnya bukan pintu utama gua sedalam 200 meteran itu. Namun karena “jalur utama” masuk ke dalam gua terlalu curam akhirnya tim CSR PT Semen Gresik memberanikan diri masuk ke tubuh bumi melalui “jalur alternatif” tersebut.

“Petualangan” ini dilakukan dalam rangka mencari sumber air yang bakal digunakan untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga Dukuh Wuni. Selama bertahun-tahun, sekitar 135 KK atau 350 jiwa yang tinggal di kawasan perbukitan kapur ini kekurangan air bersih. Dulu, mereka terpaksa berjalan kaki sembari memanggul jeriken sekitar 1,5 kilometer untuk mengambil air bersih yang sumbernya terletak di Desa Waru Kecamatan Jepon Kabupaten Blora.

Tahun 2016, PT Semen Gresik sebenarnya sudah berusaha mencarikan solusi terkait persoalan yang dialami warga di Dukuh Wuni ini. Caranya air bersih dari mata air di Desa Waru dialirkan melalui pipa dan ditampung di bak tandon yang dibangun di Dukuh Wuni. Warga Dukuh Wuni tinggal mengisi jeriken dan membawanya pulang ke rumah.

Namun belakangan muncul “gesekan” antara warga Desa Waru dan Dukuh Wuni. Pangkal persoalannya, ternyata debit air di mata air Desa Waru itu minim, terlebih saat musim kemarau. Sehingga jika terus dialirkan melalui pipa ke Dukuh Wuni maka warga Desa Waru khawatir justru tidak kebagian air bersih.

“Akhirnya kami berinisiatif mencari sumber air lain untuk mencukupi kebutuhan warga Dukuh Wuni. Nah, sumber mata air di dalam gua (sungai bawah tanah) itu salah satu yang kita jajaki. Karena airnya melimpah dan debitnya cukup serta stabil maka kita pakai itu,” kata Koordinator Tim CSR PT Semen Gresik, Muhson.

Sebelum “petualangan” mencari sungai bawah tanah ini dimulai, tim memanjatkan doa. Lalu setelah itu, secara bergiliran, Fahmi, Muhson, Yusrol, Supriyanto didampingi dua warga Dukuh Wuni masuk ke lubang selebar 1 meteran itu. Cahaya dari senter yang mereka bawa menjadi lampu penerang andalan di dalam perut bumi. Setelah merangkak sekitar 5 meter, mereka “disambut” tangga yang terbuat dari bambu. Satu tangan berpegangan pada tali, dan satu tangan lainnya memegang bambu, mereka pun menuruni satu per satu anak tangga itu.

Sukses menuruni tangga pertama, mereka kembali harus merunduk dan merangkak menuruni jalan terjal, tajam berliku sekitar 20 meteran. Setelah itu, mereka kembali “disambut” anak tangga sepanjang 4 meteran. Dengan pola yang sama, mereka kembali menuruni satu per satu anak tangga itu. Lalu, mereka kembali harus melalui jalan terjal berliku sepanjang 45 meter.

Perjuangan menuruni anak tangga, merunduk, merangkak dilakukan hingga beberapa kali. Kondisi medan yang licin menyusahkan tim. Sempat terjadi insiden kecil. Kaca mata yang dipakai Fahmi berselimut embun. Sialnya, tangan lelaki kurus ini juga basah oleh air bercampur tanah. Praktis, ia pun geragapan. Kepalanya sempat membentur dinding doa yang terbuat dari bebatuan keras.

Tak hanya itu, saat melintasi kubangan air, ternyata oksigen di dalam perut bumi itu juga kian menipis. Fahmi dan kawan-kawannya terpaksa menahan nafas dan menghemat oksigen di paru-parunya agar tak jatuh pingsan. Setelah berjalan tertatih-tatih melalui jalur sempit serupa labirin itu, Fahmi dan tim CSR Semen Gresik akhirnya sampai di dasar gua.

“Medannya mengerikan, untung tidak ada anggota tim yang mengalami kram. Tapi kalau diminta turun lagi saya angkat tangan. Untung hasilnya menggembirakan jadi ini tidak sia-sia,” ujar Fahmi.

Di dasar gua, terdapat sungai dengan lebar 1 meteran dan panjang mencapai 30 meteran. Berdasar hasil pengecekan tim, ternyata sumber air permukaan ini layak digunakan. Debit airnya juga diperkirakan stabil baik saat musim penghujan maupun kemarau. Tim CSR pun memastikan sumber air di dalam gua bekas tambang fosfat itu yang akan digunakan untuk mensuplai dan memenuhi kebutuhan air bersih warga Dukuh Wuni.

“Teknisnya nanti air kita sedot, dinaikkan melalui pipa dan dialirkan ke tandon yang sebelumnya digunakan untuk menampung air dari Desa Waru. Target tahun ini sudah rampung,” jelasnya.

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik, Kuswandi mengatakan pihaknya berkomitmen membantu mencarikan solusi terkait persoalan krisis air bersih di desa-desa kawasan sekitar perusahaan semen terkemuka ini. Terkait hal itu, pihaknya menggandeng Fakultas Tehnik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Akademisi dari Kota Gudeg ini melakukan kajian tentang sumber air di desa sekitar Pabrik Rembang. Kajian diarahkan tidak hanya sekedar potensi sumber airnya saja, namun juga penggunaannya untuk mengatasi krisis air bersih yang kerap dialami warga ring 1 dan sekitarnya.

“Baik kuantitasnya semisal debit hingga kualitasnya diteliti. Rekomendasi tim UGM itu itu yang kita jalankan,” jelas Kuswandi. (liez) (bersambung)