REMBANG – PT Semen Gresik berkomitmen berkontribusi positif mencarikan solusi terkait persoalan air bersih di desa-desa kawasan sekitar perusahaan semen terkemuka ini. Anggaran hingga miliaran rupiah digelontorkan agar warga bisa menikmati air bersih dengan mudah dan melimpah. Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, air bersih itu juga diproyeksikan untuk membantu aktivitas pertanian warga yang selama ini mengandalkan sistem tadah hujan. Progam air bersih ini juga diarahkan meningkatkan partisipasi pemerintahan desa terkait pelayanan hal dasar kepada warganya. Seperti apa?

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik, Kuswandi mengatakan progam air bersih yang dijalankan jajarannya sudah dilakukan sejak 2016. Sasarannya kawasan sekitar perusahaan, baik wilayah Kabupaten Rembang maupun Blora. Progam mengatasi krisis air bersih itu diterapkan di sejumlah desa. Mulai dari Dukuh Wuni Desa Kajar; Desa Timbrangan; Pasucen; Bitingan dan Tegaldowo (Kabupaten Rembang) serta Dukuh Tambakselo Desa Ngampel Kecamatan Blora Kabupaten Blora. Tak hanya itu, juga ada progam pembangunan Embung Tegaldowo dan Embung Banyu Sumurup. Selain itu, juga rencana revitalisasi Telaga Gunung Butak yang wilayahnya meliputi beberapa desa di Kecamatan Gunem dan Sale.

“Total anggaran yang sudah dikucurkan untuk progam mengatasi krisis air bersih ini mencapai Rp6,4 miliar. Penerima manfaat progam itu 1.632 KK. Jika tiap KK berisi dua orang saja, maka lebih dari 3.200 warga yang merasakan manfaat progam Semen Gresik ini,” kata Kuswandi.

Kegiatan yang dilakukan Semen Gresik ada yang berupa mencarikan sumber air, pembangunan tandon dan pipanisasi air bersih untuk dimanfaatkan warga. Namun ada juga yang diarahkan untuk irigasi pertanian maupun kepentingan lainnya. Sejauh ini, kata Kuswandi tidak ada kendala terkait progam yang dijalankan jajarannya. Progam air bersih di sejumlah desa baik wilayah Rembang maupun Blora bahkan sudah dirasakan manfaatnya oleh warga penerima. Khusus rencana progam revitalisasi Telaga Gunung Butak proses izinnya sudah diurus mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga pusat.

Kuswandi berharap progam ini nantinya bisa disinergikan dengan kegiatan pemerintah desa setempat. Ia mencontohkan jika Semen Gresik mendekatkan air bersih dari sumber mata air ke bak penampungan, maka pemerintah desa bisa membuat pipanisasi dari tandon tersebut ke rumah-rumah warga.

“Ini kerjasama yang sinergis. Jadi seluruh pihak terlibat sehingga nanti ada rasa ikut memiliki, merawat dan menjaga bersama,” tuturnya.

Jika progam tersebut sudah jalan, diharapkan pengelolaan air bersih itu bisa dikelola oleh BUMDes setempat. Hal ini seperti yang sudah diterapkan di Desa Pasucen yang air bersihnya juga dibantu Semen Gresik. Di sana, tiap bulan PT BUMDes Pasucen Mandiri bisa memperoleh pendapatan hingga Rp1,7 juta dari hasil pengelolaan air bersih. Uang pendapatan itu yang digunakan untuk biaya operasional, perawatan hingga menggaji petugas yang mengurusi air bersih.

“Harga per meter kubik yang harus dibayar warga lebih murah dibanding PDAM,” terang Kuswandi.

Kepala Desa Pasucen Salamun mengatakan persoalan air bersih yang membayangi warganya teratasi berkat bantuan Semen Gresik. Sebelumnya, tiap kemarau panjang, pihaknya selalu mengajukan bantuan droping air bersih ke pemerintah. Pasalnya, air sumur di rumah warga berkurang drastis bahkan mengering. Lalu, Semen Gresik mengucurkan bantuan sekitar Rp200 juta yang digunakan untuk pembelian mesin penyedot air, pembangunan tandon, hingga pipanisasi. Praktis, sejak saat itu warga desanya tak perlu lagi risau kekurangan air bersih saat kemarau panjang.

“Bantuan Semen Gresik sangat berarti. Ada sekitar 100 KK yang terlayani air bersih progam itu,” ucap Salamun.

Tak hanya itu, Semen Gresik juga kembali mengucurkan bantuan sebesar Rp15 juta. Dana itu digunakan sebagai modal PT BUMDes Pasucen Mandiri untuk mengelola air bersih. Saat ini, pihaknya berupaya memperluas cakupan wilayah pelayanan air bersih agar bisa menjangkau seluruh warga Desa Pasucen. Terkait hal itu, pihaknya juga ikut mengucurkan anggaran sebesar Rp90 juta dari dana desa.

“Target kami layanan air bersih itu bisa menjangkau hingga kawasan perbukitan persisnya di Dukuh Bandilan yang lokasinya sekitar 1 km dari pusat desa,” ungkap Salamun.

Sementara itu, Kepala Desa Kajar, Sugiyanto mengatakan pihaknya mengapresiasi upaya Semen Gresik mencarikan solusi persoalan air bersih di Dukuh Wuni. Sebab selain kawasan pemukiman yang dihuni 350 jiwa, Dukuh Wuni juga memiliki berbagai fasilitas publik mulai dari sekolah, tempat ibadah hingga balai pertemuan warga.

“Selama ini air memang jadi masalah utama warga. Semoga setelah ini tidak ada lagi cerita warga kami yang kekurangan atau bahkan krisis air bersih. BUMDes Kajar juga siap menggarap progam air bersih ini agar manfaatnya lebih bisa dirasakan seluruh warga,” ujar Sugiyanto.

Direktur PT BUMDes Ngampel Berkarya Desa Ngampel Kecamatan Ngampel Kabupaten Blora, Galih Hangga mengatakan pihaknya juga mengembangkan progam air bersih yang sudah dirintis Semen Gresik. Selain untuk melayani warga desanya, diharapkan juga bisa memenuhi kebutuhan penduduk desa tetangga.

“Progam air bersih termasuk andalan BUMDes Ngampel. Potensi lain semisal pengembangan produk berbahan dasar ketela juga akan kita garap. Pelatihan yang diadakan Semen Gresik sangat berguna menambah wawasan dan ketrampilan kami untuk memaksimalkan potensi yang ada di desa,” tandas Galih Hangga. (liez) – (bagian terakhir).