Lima produsen semen merampungkan investasi baru senilai US$ 645,6 juta untuk menambah kapasitas produksi sebesar 11,5 % atau setara dengan 5,38 juta ton per tahun. Investasi baru itu meningkatkan kapasitas produksi semen secara nasional dari 46,94 juta ton menjadi 52,32 juta ton per tahun guna mengantisipasi lonjakan permintaan domestik dalam beberapa tahun ke depan.
Lima produsen tersebut berencana mengoperasikan fasilitas baru itu secara komersial mulai kuartal IV / 2010. Berdasarkan data kementrian perindustrian, produsen semen itu yakni PT. Semen Andalas Indonesia (SAI), PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (ITP), serta Semen Gresik Group yang terdiri dari PT Semen Padang, PT Semen Gresik, dan PT Semen Tonasa (ST).
Semen Andalas, yang mayoritas sahamnya (88 %) di kuasai Lafarge (produsen semen asal Prancis) merampungkan investasi baru yang telah dirancang pada 2006 senilai US$ 216 juta di Lhok Nga, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). “Semen Asndalas sudah menyelesaikan proses konstruksi dan akan berproduksi komersial mulai kuartal IV / 2010 dengan utilisasi awal 60 % - 70 %,” kata Direktur Industri Kimia Hilir Ditjen Industri Argo dan Kimia Kementrian F. Toni Tanduk kemarin.
Sementara itu, Indocement merampungkan optimalisasi kapasitas cement mill sebesar 1,5 juta ton per tahun dengan investasi sekitar US$ 180 juta di Palimanan, Cirebon. Dengan optimalisasi ini, kapasitas produksi perusahaan yang 51 % sahamnya dikuasai Birchwood Omnia Ltd ini menjadi 18,6 juta pada tahun ini. Adapun, semen Padang juga merampungkan penambahan kapasitas produksi sebesar 860.000 ton di fasilitas produksi Indarung VI dengan investasi sekitar US$ 103,2 juta ton. Penambangan ini mendongkrak kapasitas produksi BUMN semen itu menjadi 6,1 juta ton pada 2010.
Semen Gresik juga telah merampungkan optimalisasi sebesar 800.000 ton di pabrik Tuban IV, Jawa Timur, dengan investasi US$ 96 juta. Dengan perluasan ini, Semen Gresik memiliki kapasitas total 9 juta ton per tahun.
Selain itu, tambah Toni, Semen Tonasa menyelesaikan ekspansi sebesar 420.000 ton menajdi 3,9 juta ton dengan nilai US$ 50,4 juta. Dengan demikian, total kapasitas terpasang Semen Gresik Group (SGG) pada tahun ini meningkat 12,29 % dari 16,92 juta ton menjadi 19 juta ton per tahun. SGG merupakan BUMN semen yang 51 % sahamnya di kuasai pemerintah, sekitar 25 % dimiliki Blue Valley Holding dan 24 % saham lainnya dimiliki publik.
Lahap energi
Toni mengatakan industri semen merupakan sector manufaktur yang lahap energi listrik. Apabila dirata – rata, setiap ton semen membutuhkan daya listrik sekitar 112 kWh (kilowatt per hour). Dengan begitu, penambahan kapasitas 5,38 juta ton setidaknya membutuhkan tambahan listrik sekitar 602,56 megawatt (MW).
Untuk ekspansi pabrik semen keluar Jawa, lanjut Toni Kemenperin meminta produksi semen menyiapkan pembangkit listrik yang dikelola secara swadaya. Alasannya, pasokan listrik diluar Jawa sangat terbatas sehingga jika produsen semen bergantung pada listrik PLN di khawatirkan tidak mencukupi. “Konsumsi semen pada lima tahun ke depan di perkirakan tetap tumbuh 7 % - 8 % seiring dengan tingginya permintaan di sektor konstruksi dan transportasi. Ini pertanda baik bagi produsen semen yang meningkat kapasitas. Namun, listrik juga merupakan problem yang harus di pecahkan,” jelasnya.
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), realisasi penjualan semen dalam negeri pada Januari – Mei 2010 meningkat 14 % menjadi 16,1 juta ton dibandingkan periode yang sama 2009 sebesar 14,1 juta ton.
|
Kapasitas produksi
produsen semen 2009-2010 (ribu ton/ tahun
|
|
Perusahaan
|
2009
|
2010
|
Realisasi 2009
|
|
PT
Semen Andalas Indonesia
|
0
|
1.800
|
0
|
|
PT
Semen Gresik Group
|
16.920
|
19.000
|
17.600
|
|
PT
Indocement Tunggal Prakarsa
|
17.100
|
18.600
|
11.531
|
|
PT
Semen Holcim
|
8.300
|
8.300
|
5.283
|
|
PT
Semen Bosowa Maros
|
2.800
|
2.800
|
1.800
|
|
PT
Semen Kupang
|
570
|
570
|
0
|
|
Total
|
46.940
|
52.320
|
38.000
|