Alternative Fuel Tantangan Baru Bagi Operator Pabrik

Telah kita ketahui bahwa penggunaan AFR (Alternative Fuel & Raw Material) di Industri Semen akhir akhir ini sedang giat giatnya dikembangkan dan diterapkan. Jenis yang dikembangkan di SG adalah Industry Waste (Limbah Industri) maupun Biofuel. Upaya ini dipicu oleh terbatasnya bahan bakar yang umumnya dipakai di industri semen, utamanya jenis bahan bakar Non Renewable Fosil Fuel ( bahan bakar yang tak dapat diperbaharui ) yaitu Gas, Oil & Coal.
 
Bukan hanya itu, pemakaian alternatif fuels berdampak pula dengan pengurangan emisi gas CO2  (Green House Gas) yang terbuang ke udara. Ini karena terkadang AFR berasal dari limbah industri yang masih mengandung bahan berbahaya (limbah B 3) dimana biasanya pemusnahannya dilakukan di incinerator (tempat pembakaran). Dengan demikian, pemakaian AFR di industri semen diharapkan bisa mengurangi pemanasan global.
 
Ada dua prinsip utama yang harus diidentifikasi sebelum AFR digunakan. Pertama,  mencakup komposisi kimia, energy and ash content , moisture juga alkali/ volatile content. Kedua, AFR yang dipilih umumnya didasarkan pada harga dan availabilitynya. Setelah kedua parameter dapat dipenuhi maka semua jenis AFR dapat kita gunakan baik dalam bentuk padat,powder maupun cairan.
 
Bagi operator, tantangan penggunaan AFR ini di Pabrik kita adalah: Tidak mempengaruhi proses produksi. Jadi sangat penting di sini bahwa Penggunaan AFR nantinya tidak boleh mempengaruhi produksi kita baik secara kualitas maupun kapasitasnya .  Perlu diingat bahwa alternatif fuel memiliki karakteristik pembakaran maupun sifat fisis ataupun kemis yang berbeda dengan standard fuel sehingga pemakaiannya akan menuntut perubahan desain alat ataupun kondisi operasi pabrik, terutama desain fuel systemnya.
 
AFR terkadang juga mengandung senyawa yang tidak diinginkan misalnya: phosphates, chlorine, heavy metal maupun komponen minornya lain seperti SiO2 dalam bentuk kwarsa yang akan mempengaruhi proses klinkrisasi dari rawmill yang terbentuk di kiln. Namun pada praktiknya, pabrik yang menggunakan AFR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas produksi klinkernya. Meski demikian, pemanfaatan aspect chemistry dari klinker tetap perlu diperhatikan.  
 
Menyangkut Kapasitas karena plant kita yang dirancang dengan bahan bakar batubara, maka penggunaan AFR sebagai co firing fuel kemungkinan sangat mempengaruhi produksi klinker karena kapasitas produksi klinker di pabrik semen sangat ditentukan oleh kapasitas ID Fan yang terpasang. Dengan membakar AFR (terutama jenis Biofuel) maka fuel gas yang akan ditarik oleh ID fan akan bertambah pula, sebab jika tidak akan mengakibatkan pressure drop pada up streamnya dan juga akan naik sehingga operator akan mengurangi feed Kiln.
 
Hal lain yg harus diwaspadai adalah kandungan senyawa kimia yang menyertai AFR tersebut. Misalnya saja AFR tersebut banyak mengandung senyawa Cl maka akumulasi dari klorin dalam kiln system akan menjadikan operability problem operasi bertambah. Antara lain bisa mengakibatkan dinding inlet maupun calciner sering block up dan sebagainya. Jadi, apapun jenis AFR yang dipakai perlu diidentifikasi kandungan senyawa yang mengikutinya agar operasi pabrik tidak terganggu.
 
Safe for Operator 
Di pabrik kita setelah operator Kiln bisa memproduksi Clinker 8000 ton/day dengan menggunakan AFR dan dapat mengontrol feeding rate nya dengan lancar sehingga tidak mengganggu operasi pabrik maupun kualitas klinkernya, selanjutnya operator diharapkan dapat mendelivery masing-masing AFR mulai dari menyimpannya sampai memasukkan masing-masing jenis AFR tersebut ke Feeding Point yang telah ditentukan dengan aman. Seperti kita ketahui terkadang ada jenis AFR khususnya dari waste industri yang masih mengandung bahan berbahaya atau kalau dari jenis biofuel akan sangat rentan dengan perubahan suhu sekitarnya. Maka untuk bisa menjaga kualitas dari AFR tersebut dan juga agar operator merasa aman dari kontaminasi dari bahan-bahan AFR yang kita digunakan serta mengkondisikan pabrik tetap Higienis maka kita wajib melakukan Manajemen Penyimpanan.
 
Terkait dengan aspek teknik, emisi dan higienitasnya maka metode penyimpanan AFR dibedakan menjadi: Initial Storage , Intermediate Storage dan Finish Product Storage. Karena alasan logistik umumnya storage tersebut disesuaikan kondisi plant kita dengan menyesuaikan jenis material AFR yang dipakai. 
 
Initial storage biasanya dilakukan pada jenis AFR yang rentan terhadap kontaminasi dengan biodegradable  (sub biologi content) serta mempunyai moisture (kelembaban) sangat tinggi yang menyebabkan selain tidak enak dipandang juga menimbulkan aroma tidak sedap, misalkan saja limbah rumah tangga (domestic waste). Kebetulan jenis ini kita masih belum meng­gunakannya.
 
Intermediate storage mak­sudkan untuk mem­udahkan kontrol terhadap kualitas AFR setelah mengalami treatment awal sehingga memenuhi kondisi untuk kita lakukan proses pembakaran,  misalnya Sludge Oil yang saat ini sedang kita lakukan di Tuban 2. Finish Product Storage umumnya AFR tersebut disimpan dalam keadaan siap untuk di bakar, yang harus kita hindari cuma pengaruh alam saja, misal: kelembaban atau curah hujan tinggi, maka bahan-bahan AFR ini harus kita tutup atau kita diletakkan di indoor/ warehouse, dan sebagainya. Seperti yang kita lakukan di Tuban 1 & 3 sewaktu kita mamakai Sekam padi maupun limbah tembakau. Hal lain yang perlu diingat selama kita menyimpan Alternatif Fuels ini adalah jumlahnya harus  disesuaikan dengan kapasitas membakarnya.    
 
Akhirnya kita berharap pemakaian Alternatif Fuels bisa mengurangi Cost pemakaian Batubara dan mengurangi dampak Emisi Gas buang (CO2 ) serta nyaman dan aman bagi operator sehingga harapan yang nggak kalah penting, yaitu “reward ke perusahaan semakin meningkat” 
Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy