Comdev dan Invisible Hand

                             
 
Kondisi rumah sebelum dibedah                                              Kondisi rumah setelah dibedah
 
Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat sekitar, Semen Gresik tak henti-hentinya menebar wangi semerbaknya, dengan membagikan sebagian kecil ”kue keuntungan-nya” untuk pemberdayaan masyarakat sekitar.  Yang meliputi bantuan sarana umum, keagamaan, pendidikan, kesejahteraan sosial, kesehatan sampai bantuan infrastruktur lain.

Salah satu sumbangsih Semen Gresik terhadap warga kurang beruntung adalah di-’launching’-nya program bedah rumah untuk penduduk desa ring 1 yang dikategorikan sebagai rumah tidak layak huni. Program yang telah dilaksanakan pada bulan Desember 2008 lalu berhasil ’membedah’ 22 rumah yang berasal dari 6 desa ring satu sekitar pabrik Tuban. 
 
”Program bedah rumah ini merupakan salah satu program CSR kami yang langsung menyentuh masyarakat,” ujar Slamet Budiyanto, Seksi Bina Lingkungan Tuban.  Enam desa yang dimaksud di atas adalah 2 desa di wilayah kecamatan Kerek yaitu desa Karanglo (4 rumah) dan desa Sumberarum (3 rumah), sedangkan di kecamatan Merakurak meliputi 4 desa yaitu  Pongpongan (6 rumah), Temandang (4 rumah), Tuwiri Kulon (3 rumah) dan Senori (2 rumah).
 
Rata-rata penerima bantuan tersebut adalah janda-janda tua yang berusia di atas 55 tahun. Salah satu penerima bantuan Rochmah (57 th) warga Desa Senori yang saking senangnya ia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada SG tetapi tidak tahu harus kemana. ”Saya tidak tahu harus berterima kasih kemana?”ucapnya dalam bahasa Jawa sebagaimana  diterima Gapura.
 
Hal yang sama juga disampaikan Sarimah (71 th) warga dusun Koro-Pongpongan, dengan berkaca-kaca Sarimah mengucapkan ribuan terima kasih kepada tim, ”Matur nuwun, matur nuwun pak, mugi-mugi diparingi kesaenan dening Gusti,” penuh haru.
 
Bedah rumah yang dimaksud adalah pemugaran langsung rumah penduduk yang dikategorikan tidak sehat dan tidak layak huni untuk kemudian dibangun kembali dengan spek yang sudah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana yang pernah dilakukan salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu lalu. 
 
Adapun yang bertindak sebagai ’juri’ dalam hal ini adalah Seksi Bina Lingkungan atas saran dan masukan dari desa yang bersangkutan, karena merekalah yang lebih tahu kondisi riil penduduknya. Dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke sasaran, apakah ’target’ yang dimaksud benar-benar layak menerima bantuan. Setelah target dinyatakan layak, baru dilanjutkan dengan proses berikutnya, yaitu pemugaran dan pembangunan kembali rumah yang dimaksud.
 
Mengenai ide program bedah rumah ini, Faf Adisamsul, Kabag Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) mengatakan bahwa, jika bantuan diserahkan dalam bentuk uang maka uang tersebut tidak akan dipakai sebagaimana mestinya, ”Bahkan mungkin malah dibelikan TV atau untuk kebutuhan konsumtif lainnya,” ujar Faf, Selasa (5/5). 
 
Sebagaimana ’ajaran’ CSR, tambahnya, warga adalah salah satu bagian dari stakeholder, yang merupakan entitas bisnis perusahaan yang perlu dirangkul. ”Mereka adalah bagian dari kita, karena itu tak salah kalau kita juga berbagi terhadap mereka,” tutur Faf. Karena itulah program Comdev (community development) dibentuk yaitu untuk memberdayakan mereka juga mengeliminasi kesenjangan sosial yang terjadi. 
 
Berawal dari situlah muncul pemikiran memberi bantuan pembangunan rumah untuk warga, karena rumah adalah kebutuhan dasar dan manfaatnya bisa dirasakan langsung. Kabag PKBL juga menambahkan bahwa kedepan CSR SG akan diarahkan ke-bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan. ”Karena cakupan dari CSR adalah triple bottom line yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan, jadi tidak terbatas pada bidang sosial kemasyarakatan saja,” tandasnya 
 
Diakhir pembicaraan, ia meng­analogikan kondisi Semen Gresik bagaikan seorang yang sangat dermawan, yang tidak melupakan kewajibannya untuk berzakat, berinfaq maupun bershadaqah, sehingga hidup orang itu selalu dimudahkan dalam segala hal, dikabulkan segala hajat dan dimurahkan rejekinya.
 
Demikian juga dengan Semen Gresik, tanpa bermaksud mengecilkan peran dan fungsi dari semua pihak SG dimudahkan dalam berbisnis salah satunya adalah ditunjang oleh CSR, ”Karena do’a dari para fakir, miskin, anak yatim, janda-janda tua, dan mereka-mereka yang pernah merasakan manfaat dari baksos didengarNya, sehingga dalam berbisnis kita juga dimudahkan”, ujarnya.
 
S. Amirul Kusni, Kasi. Bina Lingkungan Tuban juga mempunyai pendapat yang sama, ”Karena do’a dan harapan merekalah kita bisa sustainable sampai dengan saat ini”, ujar Pak Gianto AK begitu dia dipanggil, Rabu (6/5). Dia juga menambahkan bahwa program Seksi Bina Lingkungan seluruhnya dikontribusikan untuk masyarakat luas terutama warga di sekitar perusahaan.
 
Analogi Faf dan S. Amirul Kusni tidaklah salah, disaat orang mendewakan ilmu pengetahuannya, ternyata ada ’ngelmu tuo’ yang sebenarnya kita semua mengetahuinya,  tetapi belum me­ nyadarinya. Terbukti saat krisis global mendera, banyak perusahaan skala dunia yang menuhankan Iptek harus kolaps bahkan tidak sedikit yang tutup, ternyata tapi Semen Gresik malah sebaliknya, membukukan laba bersih sebesar 2,523 triliun. 
 
Peruntungan itu, diakui atau tidak adalah peran dari salah satunya tangan-tangan yang tidak kelihatan, ”the invisible hand”, atas kontribusi comdev Semen Gresik terhadap masyarakat sekitar.
Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy