Dua Mualaf Dewasa Ramaikan Khitan Masal

Stevanus Kidi Ama dan David seolah menjadi selebriti dadakan kemarin (3/7). Dua lelaki asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berusia 30 dan 34 tahun itu menjadi sorotan media dan ribuan anak-anak. Mereka hendak dikhitan masal di Wisma A. Yani Jl Veteran, yang diselenggarakan PT Semen Gresik.

Sunatan masal tersebut menyambut HUT  ke-54 SG dan HUT ke-66 RI. Peserta berjumlah 1.160 orang dari lima kota, yakni Gresik, Surabaya, Bangkalan, Sidoarjo, dan Lamongan.

David adalah mualaf yang sudah punya satu anak yang bernama Linggar Eduardo, 6, dari perkawinan dengan Yohana Gati, 28. David kini mengontrak rumah di Desa Pelemwatu, kecamatan Menganti. Stevanus, tetangga David di rumah kontrakan Pelemwatu, sedang menjalani proses menjadi mualaf. “Saya ingin menikah dengan cewek Jawa,” ujar pemuda asal Larantuka, Flores, NTT, itu ketika ditanya tentang khitanannya tersebut.

Steven –sapaan Stevanus Kidi Ama- mengatakan, dirinya sebenarnya sudah lama ingin Khitan. “Tetapi, tidak ada biaya. Kebetulan ada sunatan masal. Saya minta perangkat desa untuk mendaftarkan saya,” terang kuli bangunan itu didampingi Kaur Kesra Desa Pelemwatu M. Suhadak di sela-sela menunggu giliran dikhitan kemarin.

Dia ngebet sunat karena mendapatkan informasi dari kiai bahwa khitan bisa menyehatkan badan karena darah kotor terbuang. “Saya kan ingin sehat juga,” tegasnya. Namun, ketika ditanya keinginan khitan itu karena desakan pacarnya, Steven hanya tersenyum simpul. “sampeyan itu ada-ada saja,” katanya. David, mualaf lain, terlihat masuk ruang operasi kecil sekitar pukul 10.30.

Selama 10 menit dia berada dalam ruang khusus dalam Wisma A. Yani. Ditanya sakit atau tidak ketika dikhitan, dia menjawab sakit ketika dibius. “Sunatnya nggak (sakit),” ujar David sambil berlalu dengan mengenakan sarung yang bermotif kotak.

Direktur keuangan PT Semen Gresik Tbk Ahyanizzaman mengungkapkan khitanan masal kali ini merupakan yang terbesar selama perusahaan tersebut beroperasi. “Memang repot. Tapi, melihat antusiasme peserta, tidak tertutup kemungkinan akan kami gelar lebih besar di tahun berikutnya,” ujarnya kepada wartawan.

Evaluasi akan dilakukan setelah acara rampung, terutama pelayanan yang dianggap cukup lama. Peserta khitan harus mulai siap sekitar pukul 05.30 dan diperkirakan rampung 14.00. Hildan, misalnya. Dia baru bisa dikhitan sekitar pukul 11.00. “Untung, ada hiburannya,” kata dia. Ahyaniz menambahkan, sistem pelayanan harus lebih mendapatkan perhatian.”Mungkin bisa dengan sif,” ujarnya.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy