Efisiensi biaya jadi fokus Semen Gresik

Penjualan saham PT. Semen Gresik Tbk. milik Rajawali Group ke beberapa investor baru ternyata berimplikasi positif bagi BUMN dan emiten Semen terbesar di bursa ini.

Berita penjualan aset itu mendongkrak harga saham hingga ke level tertinggi sebesar Rp. 8.300 pekan lalu. Terlepas dari pergerakan bursa domestik yang dipengaruhi kondisi pasar modal global, harga saham perseroan relatif stabil di kisaran Rp. 7.900 – Rp. 8.250. Kembali ke masalah pemerintah, Semen Gresik, seperti halnya BUMN lain, masih terikat dengan beberapa norma. Di satu sisi melindungi dan membuat investor merasa aman, tetapi di sisi lain memperlihatkan kolotnya birokrasi.

Analis PT JPMorgan Securities Indonesia Liliana Bambang bahkan memasukkan penundaan perluasan kapasitas produksi menjadi salah satu potensi negative dari saham emiten di pasar.
Tercatat, emiten ini berencana membangun empat pabrik pengemasan (packing plant) senilai Rp. 600 miliar pada tahun ini. Pabrik itu rencananya dibangun di Sorong Papua, Pontianak Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, serta Banyuwangi Jawa Timur. Denagan pabrik itu perseroan menilai akan lebih mudah menjamah wilayah distribusi semen lebih jauh.

Namun, Liliana masih tetap optimis Semen Gresik mampu menunjukkan performanya ketika program efisiensi biaya dapat berjalan sukses tahun ini. Efisiensi itu juga terkait dengan rencana perusahaan yang berupaya menurunkan jumlah produksi klinker (clinker), bijih bahan baku semen utuh, dari sebanyak 86 % ke level 80 % - 82 % dibandingkan dengan pesaing terdekatnya, PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT. Holcim Indonesia Tbk.

"Penurunan produksi klinker itu dapat meningkatkan efisiensi ongkos produksi perseroan,” ujarnya dalam riset JPMorgan pada 29 April.
Beberapa indikasi lambatnya eksekusi perluasan kapasitas produksi semen emiten berkode SMGR itu adalah potensi ditelikungnya pertumbuhan permintaan semen oleh aksi peningkatan produksi yang dilakukan pesaing terbesarnya, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Indocement, emiten semen kedua terbesar, berniat membangun empat semen mills sekaligus hingga 2012. Analis NISP Sekuritas Adrianus Bias Prasuryo menilai penjualan industri sepanjang semester I/2010 sedikit diatas ekspektasi karena musim hujan yang tertunda.
 
Beban Pajak 

Analis PT Kim Eng Securities Lucky Ariesandi menilai perolehan triwulan I/2010 Semen Gresik masih di bawah ekspektasi karena penurunan produksi anak usaha perseroan, Semen Tonasa sebesar 4% tahun-per-tahun (y-o-y) akibat perbaikan dan renovasi tanurnya.

Lucky melihat pelepasan saham Grup Rajawali di Semen Gresik dari kacamata lain. Menurut dia, dengan pelepasan itu, pemegang saham publik perseroan dapat meningkat hingga 40% dan dapat mengurangi beban pajak perseroan tahun ini hingga di bawah 20%, dibandingkan dengan dua emiten semen lainnya yang rata-rata sebesar 25%.

Dia meningkatkan target harga Semen Gresik dari Rp. 9050 ke level Rp. 10.300 karena faktor pajak dan asumsi baru industri semen. Liliana menilai dengan perhitungan P/E sebesar 15,3 kali dan EV/EBITDA sebesar 9,7%, harga saham Semen Gresik terhadap kinerja keuangannya masih berada di dalam ekspektasinya, yang juga dikaitkan dengan valuasi indeks harga saham gabungan (IHSG).

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy