Seiring dengan pemulihan perekonomian nasional akibat dampak krisis global, penjualan semen pada tahun depan diprediksi akan kembali membaik. Permintaan semen akan kembali naik karena dunia usaha sudah mulai ekspansif setelah tiarap pada tahun ini.
Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk (SMGR) Dwi Soetjipto mengatakan, penjualan semen pada tahun depan minimal akan tumbuh 6%, seperti rerata pertumbuhan setiap tahun sebelum 2009. Kapasitas industri semen secara nasional diprediksi mencapai 49 juta ton.
”Kami sendiri tetap menargetkan untuk menjaga market share sekitar 45% dengan pertumbuhan penjualan kurang-lebih sama dengan pertumbuhan industri semen,” ujar Dwi di sela-sela acara Semen Gresik UKM Award di Hotel Shangri-La, Surabaya, Selasa malam (8/12/09).
Sementara untuk tahun ini, Dwi memprediksi pertumbuhan penjualan semen akan stagnan alias 0%. Bahkan, berpotensi minus.
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang dikutip kabarbisnis.com, Rabu (9/12/09), sepanjang Januari-Oktober 2009, penjualan semen secara nasional mencapai 34,563 juta ton, masih minus 3,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 35,909 juta ton. Semen Gresik sendiri pada periode tersebut berhasil menjual 14,622 juta ton, nyaris sama dengan penjualan sepanjang Januari-Oktober 2008 yang sebesar 14,620 juta ton.
”Tahun ini, penjualan secara nasional berpotensi minus 1%. Tiga bulan terakhir pada tahun ini, Oktober-Desember, pertumbuhannya cukup bagus sehingga bisa mengkompensasi penurunan pasar pada awal tahun. Kalau Semen Gresik sendiri tahun ini penjualan mungkin stagnan atau sama dengan tahun lalu, kita jaga supaya tidak minus,” ujar Dwi. Pada 2008, SMGR berhasil menjual sekira 18 juta ton.
Dwi mengatakan, pendongrak utama pertumbuhan pada tahun depan adalah percepatan berbagai proyek infrastruktur. Kebijakan pemerintah untuk menuntaskan semua hambatan pembangunan yang terangkum dalam National Summit 2009 lalu berimbas positif bagi percepatan proyek-proyek infrastruktur.
”Pemerintah bagus, ada debottlenecking agar semua proyek pembangunan lancar. Itu yang akan mendongrak penjualan semen pada tahun depan,” ujar Dwi.
Laba dijaga dengan efisiensi
Meskipun penjualan Semen Gresik pada tahun ini stagnan, Dwi optimistis laba bersih perseroan akan tetap tumbuh. Bahkan, hingga 30%. Efisiensi menjadi kunci bagi perseroan untuk mengelola kinerja keuangan di tengah seretnya penjualan.
”Kami berprinsip bahwa perseroan tidak hanya berproduksi dan jualan saja, tapi juga fokus memikirkan efisiensi,” ujarnya. Per kuartal III/2009, laba bersih SMGR mencapai Rp2,4 triliun, tumbuh 34,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,79 triliun.
Saat ini, kata Dwi, upaya efisiensi tersebut semakin menunjukkan hasil, termasuk dalam hal sinergi dengan PT Semen Tonasa dan PT Semen Padang yang merupakan anak usaha perseroan.
”Aspek sinergi ini mampu menekan cost. Rasio antara EBITDA dan revenue bisa semakin baik. EBITDA margin membaik dari 31,6% menjadi 32,5%,” jelasnya.
Sekadar diketahui, efisiensi sebuah perusahaan bisa dilihat dari rasio EBITDA dibagi revenue yang mencerminkan kemampuan sebuah perusahaan dalam membukukan laba usaha. EBITDA margin yang besar menunjukkan sebuah perusahaan mempunyai kemampuan untuk membukukan pendapatan guna menghasilkan laba usaha.
Prediksi analis
Per Oktober 2009, market share Semen Gresik mencapai 45.3%, Indocement 29.9%, dan Holcim 13.3%. Penguasaan pasar Semen Gresik per Oktober 2009 naik 1,9% dibanding posisi Oktober 2008 yang sebesar 43,4%. Sementara market share Indocement dan Holcim turun jika dibandingkan penguasaan pasar mereka pada Oktober 2008, masing-masing turun sebesar 2,2% dan 0,9%.
Hingga akhir tahun, e-Trading Securities dalam riset yang diterima kabarbisnis.com 16 November lalu memprediksi, penjualan semen secara nasional akan menembus level 36,17 juta ton. Semen Gresik diperkirakan mampu membukukan penjualan 17,430 juta ton, Indocement diramal bisa menjual 14,166 juta ton, dan Holcim diprediksi mampu menjual 6,952 juta ton.
Jika prediksi tersebut benar, maka market share Semen Gresik pada akhir tahun diperkirakan akan semakin meningkat hingga 48,2%. Sementara Indocement menguasai pasar 39,2% dan Holcim menguasai 19,2%.
Ekspansi jalan terus
Dwi mengatakan, perseroan masih mempunyai ruang gerak sangat luas untuk melakukan ekspansi, terutama dari segi pendanaan. Rasio leverage yang masih sangat besar membuat SMGR lebih leluasa dalam menjajaki berbagai potensi pinjaman guna melakukan ekspansi.
Saat ini, berdasarkan laporan keuangan perseroan, rasio utang terhadap EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi/earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization) SMGR di bawah satu kali. Perseroan mempunyai ruang hingga debt to EBITDA mencapai maksimal tiga kali.
Per kuartal III/2009, EBITDA SMGR mencapai Rp3,37 triliun, tumbuh 21,4% dibanding periode yang sama 2008 sebesar Rp2,78 triliun.