Enam Emiten BUMN Cetak Laba Rp 20,4 T

Enam emiten BUMN bidang pertambangan, energi, telekomunikasi, dan industri strategis membukukan laba bersih hingga akhir 2009 sebesar Rp 20,44 triliun atau rata-rata naik 12,36% dibanding 2008 senilai Rp 18,19 triliun.

Perolehan laba enam emiten BUMN yang belum diaudit itu terungkap dalam jawaban tertulis Kementerian BUMN saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (8/2). Keenam emiten tersebut adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Tbk (TINS).

Perusahaan Gas Negara (PGN) tercatat sebagai emiten BUMN yang meraih kenaikan laba bersih tertinggi dibanding lima perusahaan pelat merah lainnya. Laba bersih PGN tahun lalu mencapai Rp 4,4 triliun, melonjak 595,26% dibandingkan 2008 sebesar Rp 633 miliar.

Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso pernah mengungkapkan, kenaikan laba pada 2009 ditopang pertumbuhan volume penjualan gas. Pasalanya, penyerapan gas oleh pelanggan di sektor pembangkit tenaga listrik, meningkat. Volume penjualan gas sepanjang tahun lalu diproyeksikan sekitar 750-800 juta kaki kubik standar per hari (mmscfd) dengan harga US$ 5,6 per mmbtu.

Menurut Hendi, setelah penyelesaian jaringan pipa transmisi Sumatera Selatan-Jawa Barat (SSWJ) pada Agustus 2008, perseroan mampu meningkatkan distribusi gas bumi ke wilayah Jawa bagian barat secara signifikan. Pada semester I-2009, penyaluran gas melalui jaringan pipa transmisi dan distribusi mencapai lebih dari 1.500 mmscfd.

Sementara itu, emiten BUMN lainnya, yakni PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk diperkirakan mampu membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 64,03%. Kenaikan laba per akhir 2009 itu didukung perolehan pendapatan sekitar Rp 8,94 triliun, tumbuh 23,97% dibandingkan 2008 sebesar Rp 7,21 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Sukrisno mengungkapkan, volume penjualan batubara perseroan sepanjang tahun lalu sebanyak 12.224 ribu ton. Dari penjualan itu, sekitar 7.764 ribu ton batubara dijual ke pasar domestik, sedangkan sebanyak 4.460 ribu ton batubara diekspor ke luar negeri.

Di lain pihak, pendapatan PT Semen Gresik Tbk tahun lalu diestimasi mencapai Rp 14,29 triliun, naik 18,7% dibanding 2008 sebesar Rp 12,2 triliun. Kenaikan pendapatan serta efisiensi biaya produksi diperkirakan mampu mendongkrak laba bersih produsen semen terbesar di Tanah Air itu sebesar 30,91% dari Rp 2,52 triliun menjadi Rp 3,3 triliun.

Laba Turun

Sementara itu, tiga emiten BUMN lainnya, yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk diperkirakan membukukan penurunan laba bersih hingga akhir 2009. Penurunan terdalam dialami Timah sebesar 80,02% dari Rp 1,34 triliun menjadi Rp 268 miliar.

Anjloknya harga komoditas timah dunia serta penurunan volume penjualan menjadi penyebab utama penurunan laba bersih Timah. Adapun penjualan perseroan tahun lalu senilai Rp 7,61 triliun, turun 15,88% dibanding 2008 sebesar Rp 9,05 triliun.

Penurunan harga komoditas juga berdampak pada perolehan laba bersih Antam sepanjang 2009. Laba bersih perseroan ditaksir mencapai Rp 371 miliar, anjlok 72,88% dibanding tahun sebelumnya Rp 1,36 triliun. Sedangkan pendapatan Antam diestimasi turun 9,9% dari Rp 9,59 triliun menjadi Rp 8,64 triliun.

Penjualan ekspor Antam tercatat senilai Rp 5,54 triliun, tergerus hingga 37% dibanding 2008 sebesar Rp 8,8 triliun. Namun, di sisi lain, nilai penjualan perseroan di pasar domestik meroket hingga 396% dar Rp 789,1 miliar menjadi Rp 3,1 triliun.

Sementara itu, satu emiten BUMN yang diperkirakan membukukan penurunan laba bersih pada 2009 adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Laba bersih Telkom terkoreksi 12,42% dari 10,61 triliun menjadi Rp 9,3 triliun. Adapun pendapatan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu diperkirakan sebesar Rp 47,11 triliun, turun 22,36% dibanding 2008 senilai Rp 60,68 triliun.

Analis PT Valbury Asia Securities Michael Handisurya memperkirakan, kinerja perusahaan-perusahaan BUMN tahun ini diproyeksikan meningkat. Kondisi itu bakal mendorong kenaikan harga saham di lantai bursa.

Menurut Michael, saham-saham emiten BUMN masih memiliki daya tarik bagi pemodal. Pasalnya, kinerja fundamental perusahaan akan menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga saham masing-masing emiten. “Meskipun saat ini turun, nanti akan naik lagi,” ujarnya.
Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy