Fokuskan Perhatian Pada 13 BUMN

"Kontribusi di APBN akan meningkat"

Kementrian Badan Usaha Milik Negara dinilai harus fokus pada peningkatan keuntungan dan pengembangan 13 BUMN yang menyumbang 85,42% dari total laba 132 perusahaan berpelat merah.

Pengembangan dan peningkatan keuntungan 13 BUMN itu akan meningkatkan daya saing di pasar global dan akhirnya memberikan sumbangan yang lebih besar kepada APBN. "Ke-13 BUMN ini punya potensi melakukan ekspansi usaha dengan cepat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja," ujar Tanri Abeng, Komisaris Utama PT. Telkom Indonesia Tbk, akhir pekan lalu.

Dia menyampaikan hal itu dalam ujian terbuka promosi Doktor Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dia mengatakan kebijakan privatisasi melalui penjualan sejumlah saham milik negara hanya boleh digunakan untuk pembayaran utang negara. Strateginya, jelasnya melalui restrukturisasi, profitisasi dan privatisasi. Dia menyayangkan pendayagunaan BUMN tidak terealisasi dengan sempurna, akibatnya utang negara bertambah dan menekan APBN karena pembayaran bunga dan cicilan utang terus meningkat.

"Logikanya, pelepasan aset berupa saham-saham diimbangi dengan pengurangan kewajiban (liability) berupa penurunan utang," paparnya. Lebih jauh, dia mengemukakan profitabilitas BUMN Indonesia sebagai korporasi masih jauh di bawah potensi riil yang dimilikinya. Pada 2008, 132 BUMN di Indonesia hanya menghasilkan keuntungan bersih US$ 8,6 miliar. 

Angka ini, ujarnya jauh tertinggal dibandingkan perusahaan pelat merah Malaysia, Petronas yang mencapai US$ 20,2 miliar. Bahkan BUMN Indonesia kalah dengan 131 perusahaan negara China yang mencapai US$ 150,4 miliar pada 2007. Menurut Tanri Abeng, pada akhir 1999 Master Plan BUMN 2000-2005 telah dirumuskan dalam 5 tahun nilai BUMN berpotensi mencapai US$ 115 miliar, atau US$130 miliar termasuk Pertamina. Dengan pertumbuhan konservatif rata-rata 15% per tahun maka nilai BUMN pada 2008 harusnya mencapai US$ 200 miliar.

"Untuk mempertahankan sedikitnya 50% kepemilikan negara, maka pemerintah masih bisa melepas 40% sahamnya ke publik utnuk memperoleh US$80 miliar. Jumlah dan sebesar itu bisa digunakan untuk pembayaran utang luar negeri," tegasnya. Dia menyesalkan master plan tersebut tidakdilanjutkan lagi oleh kabinet pemerintah pada periode itu, sehingga potensi untuk memperkuat holding company tidak jalan, dan beban utang luar negeri membengkak.

10 Induk Usaha

Menurut Menteri BUMN Mustafa Abubakar pada 2014 pihaknya menargetkan sudah dibentuk 10 induk usaha BUMN dan telah mengkaji 16 holding sebagai langkah awal. "Saat ini yang hampir selesai adalah penggabungan perusahaan pupuk. Holding semen baru sekitar 60%, holding perkebunan dan hutan dalam proses. Ke depan kami akan pisahkan holding company dan investment holding," ujarnya.

Keuntungan 13 BUMN Terbesar di Indonesia selama 2009

Nama Perusahaan
Jumlah %
% Terhadap Total
 Pertamina  15,79 21,41 18,29
 Telkom Indonesia
 11,33  15,37  13,13
 PLN  10,36  14,04  12
 BRI  7,31  9,91  8,47
 Mandiri  7,16  9,7  8,29
 PGN  6,23  8,45 7,22
 Semen Gresik
 3,33  4,51  3,85
 Bukit Asam
 2,73  3,7  3,16
 Pusri  2,52  3,41  2,92
 BNI  2,48  3,37  2,88
 Askes  2,12  2,87  2,45
 Jamsostek  1,38  1,87  1,6
 Garuda  1,02  1,38  1,18
 Total  73,74  100  -
Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy