Meskipun terjadi kenaikan ongkos produksi, karena tingginya harga batu bara, listrik dan transportasi tentunya akan mendorong harga semen domestik dan ekspor akan naik. Namun demikian perkembangan industri semen nasional diperkirakan masih memiliki daya saing yang kuat di antara sesama negara Asean, maupun negara Asia lainnya.
Pada pembuka konferensi AFCM, Urip Timuryono, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memaparkan kondisi umum perekonomian di Indonesia dan perkembangan industri semen pada tahun lalu dan tahun ini sampai bulan Agustus. Mulai dari kapasitas produksi semen nasional, total produksi, permintaan domestik, ekspor/ impor dan harga semen dalam negeri.
“Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 secara signifikan tumbuh sampai 6%, dan diharapkan akan tidak berubah tahun ini. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan mencapai 6 – 6,2% dan inflasi berkisar pada 10,4%. Secara umum kami berharap pada tahun ini kondisi ekonomi tanah air bisa bisa berubah ke level yang lebih baik,” ujarnya.
SG kali ini mensponsori pertemuan delegasi (council meeting) ke-33 dan simposium federasi industri semen Asean atau Asean Federation of Cement Manufactures (AFCM) dan pertemuan ke-11 Asean Conference Federation (ACF) yang diselenggarakan oleh ASI di hotel Sheraton, Surabaya pada 21 – 24 Oktober 2009. Urip juga melaporkan bahwa secara nasional, produksi klinker pada tahun 2008 sebesar 37,6 juta ton dan semen sebesar 38,5 juta ton. Sedangkan pada tahun ini sampai bulan Agustus produksi klinker nasional 37,5 juta ton, sedangkan produksi semen 38 juta ton
AFCM diikuti delegasi industri semen dari 6 negara Asean, antara lain Indonesia, Malaysia, Phillipina, Singapore, Thailand dan Vietnam . Sedangkan konferensi ACF diikuti oleh enam negara peserta AFCM ditambah 4 negara Asia, yaitu: Hongkong, Korea, China dan Taiwan. Sedangkan, delegasi dari Brunei dan Jepang kali ini absen.
Council Meeting AFCM dibagi dua komite: Standing Committee on Business Development dan Technical Cooperation yang digelar pada 21 Oktober 2009 kemudian disambung dengan konferensi pada 22 Oktober 2009.
Reog Pudak Arum SG, tarian tradisional Banyuwangi, peragaan busana batik dan band modern juga turut menghibur peserta dalam acara makan malam (22/10) di salah satu restoran ternama di Surabaya. Hari terakhir peserta diajak tur mengunjungi berbagai lokasi seperti lumpur Lapindo, kerajinan tas Tanggulangin, pengrajin bordir, museum rokok, pengrajin batik, Suramadu dan Karapan Sapi di Pamekasan.
Sementara itu pada hari Jumat (23/10/09) forum komunikasi antara negara industri semen se Asia berlangsung cukup dinamis. Forum pertemuan ke- 11 ACF dihadiri Asisten Pembangunan & Perekonomian Propinsi Jatim, Choirul Djaelani mewakili Gubernur Jatim dan perwakilan Kadin Jatim, Iskandar. Forum yang diselenggarakan Asosiasi Semen Indonesia (ASI) diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan industri semen, terlebih dalam kondisi krisis ekonomi secara global.
Perkembangan perekonomian global ini telah mengubah situasi menjadi tidak menentu yang disebabkan oleh permintaan yang lebih rendah dari barang-barang konsumsi, sedangkan di sisi lain adanya kenaikan harga listrik, energi, distribusi dan perkapalan. “Sebagai pemain industri semen, kita berharap sebuah keajaiban akan terjadi pada akhir tahun ini, dengan banyak proyek-proyek infrastruktur dan properti banyak dibangun,” ujarnya.
Untuk itu ia berharap forum ACF ini, dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi dan bertukar informasi, pengalaman, inovasi untuk mencapai sebuah kerjasama yang lebih baik dalam bidang teknis atau bisnis di antara semua anggota, sehingga menjadikan industri persemenan berkelanjutan. Sebagai tuan rumah dalam pertemuan ini Gubernur Jatim dalam sambutan yang dibacakan Choirul Djaelani mengucapkan terima kasih kepada ASI, bahwa Jatim ditunjuk sebagai tuan rumah dalam forum komunikasi dan informasi tentang perkembangan pasar industri semen di negara-negara Asia. Pertemuan ini diharapakan dapat memberikan dampak positif bagi industri semen di Jatim utamanya dalam penciptaan peluang pasar baru serta menciptakan jaringan industri semen secara nasional dan internasional. Di sisi lain akan dapat berdampak peningkatan kerjasama ekonomi yang lebih dekat dan saling menguntungkan.
Gubernur Jatim berharap, forum ini dapat dijadikan sebagai ajang saling tukar informasi khususnya dalam rangka memperkuat jembatan komunikasi dengan organisasi terkait maupun stakeholders lainnya seperti kerjasama dalam perumusan kebijakan dalam pembangunan industri semen serta memberikan masukan terhadap solusi pemecahan terhadap permasalahan yang dihadapi pada industri semen. Pertemuan sehari negara industri persemenan ini banyak mengungkapkan akibat dampak krisis ekonomi global yang terjadi. Seperti yang diutarakan delegasi dari Korea, menurutnya akibat dampak ini sektor konstruksi swasta termasuk perumahan dan permintaan semen mengalami penurunan.