Prospek industri semen di Indonesia masih terbuka lebar, seiring pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan 6,7 persen tahun 2012. Permintaan semen domestik diperkirakan tumbuh 10 persen, didorong maraknya sektor properti dan adanya program infrastruktur pemerintah.
Presiden Direktur PT Semen Gresik (Persero) Tbk, Dwi Soetjipto, dalam jumpa wartawan di Jakarta, akhir pekan lalu, mengemukakan, pihaknya terus meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan peningkatan permintaan semen dalam negeri. ”Dalam tiga tahun ini, kapasitas produksi Semen Gresik praktis sudah 100 persen,” ujar Dwi.
Karena itu, Semen Gresik akan meningkatkan kapasitas produksi semen yang pada tahun ini akan mencapai 19,5 juta ton seiring rampungnya Pabrik Semen Tuban IV di Tuban, Jawa Timur, akhir tahun ini. Sebelumnya, kapasitas produksi Semen Gresik Grup (Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa) sekitar 18,5 juta ton.
Menurut Dwi, sampai dengan awal tahun depan, kapasitas produksi Semen Gresik akan menjadi 20,2 juta ton sejalan dengan upaya penerapan teknologi yang bisa mendorong produksi.
Dwi mengakui, sebagian besar produksi Semen Gresik hanya untuk konsumsi nasional yang seluruhnya mencapai 43,6 juta ton tahun 2011. Total kapasitas industri semen dalam negeri 54 juta ton. ”Dengan peningkatan kapasitas ini, Semen Gresik mengusai 43 persen pangsa pasar semen nasional,” ujarnya.
Semen Gresik merupakan pemain utama industri semen nasional dengan 20,2 juta ton. Ditargetkan, kapasitas Semen Gresik Grup menjadi sekitar 30 juta ton tahun 2015. Pemain semen nasional lainnya, yakni Indocement (18,6 juta ton), Holcim Indonesia (8,5 juta ton), Semen Bosowa (3,8 juta ton), Semen Andalas (1,6 juta ton), dan Semen Baturaja (1,3 juta ton).
Data PT Semen Gresik menyebutkan, pertumbuhan ekonomi yang positif sepanjang tahun 2011 membuat rata-rata pertumbuhan permintaan semen sekitar 15 persen. Tahun depan, diperkirakan pertumbuhan permintaan semen sekitar 10 persen. Adanya program pembangunan infrastruktur dan maraknya sektor properti, terutama pembangunan perumahan, diyakini akan mendorong permintaan semen.
Pemerintah mencanangkan pembangunan infrastruktur di Indonesia, termasuk pelabuhan dan bandara, dalam lima tahun ke depan. Pembangunan infrastruktur ini diperkirakan membutuhkan dana 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.800 triliun.
Dwi menegaskan, sekalipun harga semen di dalam negeri lebih baik dibandingkan pasar ekspor, Semen Gresik tetap berupaya menjadi pemain regional. ”Harga semen di dalam negeri bisa lebih tinggi 10-15 dollar AS (Rp 85.000-Rp 127.500) per ton, namun kami tetap mengekspor sekitar 2 persen dari produksi,” ujar Dwi. Semen Gresik mengekspor produknya ke Banglades, Sri Lanka, Maladewa, dan negara-negara di Afrika Timur.
Berkenaan dengan biaya yang terus meningkat berkaitan dengan harga batubara serta transportasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, Dwi menegaskan, Semen Gresik akan terus melakukan efisiensi, antara lain, untuk bisa mengejar pendapatan sekitar Rp 15 triliun akhir tahun ini. Tahun lalu, pendapatan Semen Gresik Grup sekitar Rp 14,3 triliun.
”Kami terus mengonversi dari penggunaan batubara berkalori tinggi ke batubara ke kalori rendah yang murah,” ujar Dwi.
Sinergi antarperusahaan dalam grup juga didorong untuk menekan biaya, seperti membeli batubara dalam jumlah besar untuk keperluan semua grup. Semen Gresik juga membangun pabrik zak semen di beberapa tempat, yang memungkinkan pengiriman semen dalam bentuk curah yang lebih murah.