Implementasi Alternative Fuel dan Multiplyer Effect

Saat ini, dunia khususnya Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global (global warming), yaitu meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Salah satu penyebabnya adalah greenhouse effect atau yang kita kenal dengan efek rumah kaca. Efek ini disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya ke atmosfer.

Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar yang berasal dari fosil misalnya minyak bumi, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

Perubahan iklim, sebagai salah satu akibat langsung dari pemanasan ini telah menjadi isu besar dunia. Musim panas lebih panjang yang berakibat pada gagalnya panen, sulitnya sumber air bersih bahkan mencairnya es di Kutub Utara dan Kutub Selatan yang secara langsung menyebabkan kepunahan habitat yang ada di sana. Itu adalah sebagian kecil akibat dari dari pemanasan global.

Untuk mengatasi ancaman ini, ada beberapa cara, yaitu dengan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan, pembakaran dan pembalakan hutan, serta mulai menggunakan energi alternatif yang bisa diperbaharui dan tersedia melimpah misalnya matahari, air, angin, hasil-hasil pertanian, dan lain-lain yang tentunya lebih ramah lingkungan

Demikian intisari presentasi yang disampaikan oleh Stefanus Johan, dari Sindicatum Carbon Capital Indonesia, consultant strategic SG dalam implementasi proyek CDM saat mempresentasikan makalah tentang latar belakang diaplikasikannya proyek substitusi biomass SG dalam pertemuan stakeholder program mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development Mechanism Project (CDM) di Dormitory - Tuban, Rabu (22/7).

SG akan menerapkan CDM yaitu dengan mengimplementasikan alternative fuel berupa biomass atau bahan bakar re-newable resource, sebagai antisipasi terhadap isu global warming. Bahan bakar biomass yang dimaksud adalah tongkol jagung, sekam padi, kulit kacang, serpihan kayu, sisa tembakau, dan lain-lain.

Penggunaan bahan bakar alternatif tersebut selain sebagai partisipasi SG dalam ikut serta menurunkan emisi gas buang yang nantinya akan memperlambat global warming, nantinya timbul semacam multiplyer effect khususnya kepada masyarakat sekitar dengan keikutsertaannya sebagai pemasok.

Untuk me-reduce atau mengurangi emisi gas CO2 yang akan teremisi ke atmosfer, SG juga telah berpartisipasi dengan kegiatan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon baik di Gresik ataupun di Tuban. Hal itu dilakukan adalah semata-mata untuk menurunkan gas karbon dioksida yang menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global.

Penggunaan bahan bakar alternatif biomass ini nantinya diaplikasikan dalam proses pembakaran, tentunya dengan prosentase pemakaian yang disesuaikan dengan tetap mengutamakan keberlangsungan operasi.

Biomass yang akan dipakai nanti tidak akan mengganggu konsumsi biomass yang dimanfaatkan masyarakat. Yang menjadi sasaran tembak adalah 56% yang belum termanfaatkan. Setelah mapping, dari 3 daerah (Tuban, Bojonegoro dan Lamongan) ada 44% potensi energi yang termanfaatkan sedangkan sisanya tidak termanfaatkan.

Sehingga dengan implementasi proyek ini akan mendukung pembangunan yang berkelanjutan yaitu: mengurangi bahan bakar fosil, bahan bakar lebih ramah lingkungan dan memanfaatkan biomass yang tidak terpakai sehingga akan juga mengikut sertakan masyarakat yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan perekonomian mereka.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy