Industri Semen Booming

PROYEKSI INDUSTRI DAN PERDAGANGAN 2011

Seiring pertumbuhan perekonomian Indonesia yang diperkirakan bisa mencapai 6,4-6,7% pada 2011, para pelaku usaha di Tanah Air juga optimistis industri semen berkembang lebih baik. Sektor properti diyakini akan menjadi "penopang utama pertumbuhannya.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono memproyeksikan, konsumsi semen nasional tahun 2011 naik 10% menjadi 44,33 juta ton dibandingkan 2010 sekitar 40,3 juta ton. Prediksi ini jauh lebih bagus dan melebihi dari pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya yang selalu hanya naik sekitar 6%, atau sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan catatan ASI, sekitar 60-70% porsi konsumsi semen di Indonesia masih berasal dari sektor swasta dan sisanya diserap oleh proyek pemerintah. Pertumbuhan konsumsi semen terutama akan ditopang sektor properti perumahan dan perkantoran yang masih terus berkembang.

Permintaan semen juga akan terus meningkat seiring banyaknya proyek infrastruktur dan pembangunan konstruksi dari pemerintah yang mulai dikerjakan tahun 2011. Hal ini seiring dengan realisasi dan pencairan dana APBN pada proyek-proyek pemerintah, yang sempat tertunda tahun ini.

Untuk memenuhikebutuhan konsumsi tahun depan, kapasitas terpasang industri semen nasional ditaksir mencapai 51 juta ton. "Angka itu berdasarkan perhitungan utilisasi industri semen yang mencapai 85%. Saat ini, kapasitas terpasang semen nasional sekitar 47 juta ton," kata Urip, baru-baru ini.

Sedangkan Menteri Perindustrian MS Hidayat mengimbau, produsen semen di Indo-nesia mengoptimalkan pemanfaatan komponen lokal dalam membangun fasilitas pabrik, termasuk tenaga kerja dan kontraktor. "Selain itu, industri semen juga harus mengutamakan memenuhi persyaratan aspek lingkungan," harapnya.

Harga Naik

Erwin memperkirakan, harga semen bakal naik tahun 2011, seiring peningkatan harga batubara yang menjadi bahan bakar utama produksi semen. "Harga semen akan naik tahun 2011 karena harga batubara juga naik sekitar 30%," ujarnya.

Urip menjelaskan, biayaenergi, yakni listrik dan batubara merupakan penyumbang terbesar terhadap ongkos produksi semen, yakni mencapai 65-70%. Batubara saat ini menjadi energi paling murah bagi industri semen dibandingkan bahan bakar minyak bumi dan gas.

Dia juga menyampaikan, penentuan harga semen diatur oleh mekanisme pasar, yakni permintaan dan pasokan. "Kalau tidak ada alasan, produsen tidak akan menaikkan harga. Sebab sesama industri juga bersaing," imbuhnya.

Tahun 2010

Sementara itu, tahun 2010 hingga November, konsumsi semen nasional telah mencapai 36,8 juta ton, naik 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 34,6 juta ton. "Pertumbuhan terbesar penjualan semen sepanjang tahun ini terutama terjadi pada awal tahun ketika orang masih banyak membangun," tutur Urip.

Penyerapan semen terbesar masih terjadi di Pulau Jawa dengan pertumbuhan di atas 8%, atau melebihi kenaikan penjualan semen nasional 6%. Penjualan semen banyak dilakukan secara eceran mencapai 80% dari 20% dalam bentuk kemasan kantong.

Sektor yang paling menyerap semen masih berasal dari pembangunan properti perkantoran dan perumahan mencapai 60%. Sedangkan realisasi dari pembangunan infrastruktur masih belum bisa diharapkan, seiring realisasi anggaran pemerintah yang berjalan lambat pada 2010.

Penjualan semen nasional diyakini akan mencapai target 403 juta ton tahun 2010. "Kekurangan target penjualan akan terpenuhi pada kuartal IV-2010, mengingat beberapa proyek pemerintah telah selesai pembebasan lahannya dan segera dibangun," katanya. 

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy