Prospek saham semen masih menarik. Naiknya permintaan, margin yang tetap tinggi, proyek-proyek infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi menjadi pendorongnya.
Adrianus Bias Prasuryo dari Samuel Sekuritas menilai saham sektor semen masih overweight. Hal ini karena investasi yang tetap solid dan menawarkan penilaian sangat menarik pada level saat ini. "Kami mempertahankan penilaian overweight di sektor semen," katanya.
Salah satu sentimen positif berasal dari permintaan domestik yang kuat. Tahun ini permintaan diperkirakan tetap kuat dengan pertumbuhan tahunan 7% atau mencapai 43,6 juta ton, didukung suku bunga rendah yang berkepanjangan, dan risiko eksekusi lebih rendah pada proyek-proyek infrastruktur. "Selain itu, pendapatan pedesaan yang kuat karena kenaikan harga komoditas," ujarnya.
Seperti diketahui, konsumsi semen domestik pada 2010 mencapai 40,8 juta ton, tumbuh 6,2%, kembali ke tingkat normal setelah pulih dari krisis 2008 di mana konsumsi hanya tumbuh 0,8%. Sementara ekspor yang lamban dengan hanya 2,9 juta ton atau turun 27,8%, disebabkan produsen menurunkan profit margin di pasar ekspor untuk fokus memenuhi permintaan domestik di tengah terbatasnya kapasitas.
Adrianus menilai, margin sektor semen akan tetap tinggi, karena tekanan biaya 5% bagi produsen karena meningkatnya biaya energi, bisa ditransfer ke konsumen. Seperti diketahui, setiap 10% kenaikan harga batubara akan menekan 3-9% pendapatan produsen semen tahun ini.
Namun, produsen dinilai dapat mempertahankan margin laba. Apalagi perusahaan semen Indonesia telah menikmati marjin apung, bahkan menyentuh level tertinggi pada 2009, didukung penguatan rupiah dan kenaikan harga semen pada semester dua 2008. "Hal ini karena mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat di tengah ketatnya pasokan dan profil industri yang mirip oligopoli," paparnya.
Adrianus optimistis suku bunga KPR tahun ini masih akan menguntungkan sektor semen, meskipun ada potensi kenaikan BI rate pada kuartal dua 2011 akibat tekanan inflasi. "Hal ini karena meningkatnya persaingan di segmen KPR, dengan munculnya bank pendatang baru yang fokus di segmen ini, seperti BBCA dan BBNI,” ujarnya.
Selain itu, harga komoditas yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi keseluruhan akan mendorong pendapatan masyarakat pedesaan lebih tinggi, berlanjut pada naiknya permintaan properti dari kelas menengah. "Selama 2010, penjualan pengembang properti naik 57% dan tahun ini diperkirakan naik 20%," katanya.
Sementara Kepala Riset Recapital Securities Pardomuan Sihombing menilai, saham infrastruktur semen layak dikoleksi terkait proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang gencar digarap tahun ini. "Apalagi sekarang sudah cukup murah, setelah sebelumnya sempat terkoreksi,” ujarnya.
Pemerintahan berkomitmen menggenjot pembangunan infrastruktur sepanjang tahun ini. Dana yang dianggarkan meningkatkan 15% mencapai Rp 126 triliun. Infrastruktur juga menjadi fokus pasar, karena pemerintah berniat mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 7% per tahun. Tahun ini ditargetkan ekonomi tumbuh 6,4% dan naik terus hingga tahun-tahun berikutnya.
Sedangkan terkait koreksi IHSG, valuasi saham semen kini memang lebih menarik dengan price earning (PE) rata-rata sektor hanya 13,6 kali, menunjukkan diskon 15% untuk PE rata-rata 5 tahun sebesar 16 kali.
Dengan prospek saham semen yang menarik, Gifar Indra Sakti, analis Sucorinvest Central Gani, memberi penilaian positif terhadap saham sektor ini. Beberapa saham yang direkomendasikan adalah Semen Gresik (SMGR). “Investor bisa beli saham-saham ini,” katanya.
Adapun Adrianus menjagokan SMGR. Hal ini karena saluran distribusi skala nasional yang kuat dan valuasi termurah yang dikombinasikan dengan ROE terbaik,unggul 30%.
SMGR saat ini diperdagangkan di PE 2011 sebesar 11,9 kali, diskon 15% untuk emiten di industrinya dan diskon 28% untuk sektor rata-rata 5 tahun sebesar PE 16 kali. "Rekomendasi SMGR dengan target harga dapat mencapai Rp 11.200," ucapnya.
Namun, imbuhnya, sentimen rival SMGR, seperti Holcim dan Indocement (INTP), juga terangkat. Apalagi dengan kebutuhan capex rendah saat ini dan kas operasi yang kuat, INTP memiliki fleksibilitas besar untuk ekspansi atau menyalurkan beberapa dividen khusus di masa depan.
INTP diperdagangkan pada PE 2011 sebesar 14.0 kali, masih diskon untuk PE rata-rata 5 tahun yakni 15.5 kali. “Mengingat profil profitabilitas yang kuat dan neraca yang kuat, kami mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga di Rp 19. 500,” ujarnya.
Sedangkan Holcim menarik terkait koreksinya baru-baru ini, yakni dengan PE 2011 sebesar 15,6 kali, atau diskon rata-rata 5 tahun di 8.8 kali. Adrianus pun meng-upgrade rating ke beli dengan target harga Rp 2.500. “Hal ini didukung penilaian yang menarik, margin lebih kuat dan membaiknya leverage,” katanya.