Kandang Bebek pun Disulap Jadi Kelas

Sebagai follow up pendirian TK Semai Benih Bangsa (SBB) di Tuban, Rabu (27/5), bertempat di sekolah masing-masing dilakukan penyerahan perlengkapan sekolah berupa whiteboard dan beberapa peralatan pendukung sekolah lainnya, sebagai syarat pendirian sekolah baru.  
 
Penyerahan dilakukan langsung oleh wakil SG Foundation (SGF), Siswanto, Divisi EDC dan Sosial, yang didampingi oleh Staf Bina Lingkungan Tuban, Slamet Budiyanto dan Sugianto, yang diterimakan langsung kepada penanggung jawab TK-SBB, yaitu TK-SBB Candra Kirana - Karanglo, TK-SBB Mliwang, keduanya di Kec. Kerek kemudian dilanjutkan di Kec. Semanding, TK-SBB Bina Bakti Bektiharjo dan TK-SBB Kartika, Prunggahan kulon.  
 
Menanggapi pemberian bantuan ini, Pamundriati, Kepala Sekolah TK-SBB Kartika, berkelakar,“Pak...biasanya kita pakai kapur sekarang harus pakai spidol, nggak kalah dengan sekolah kota”. Ditambahkan Pamundriati, banyak yang sudah diterima dari SG sebelumnya, dari buku-buku cerita, buku Satuan Kerja Harian (SKH) atau Silabus Guru, Alat Peraga Edukasi (APE), gambar-gambar, juga tidak lupa bantuan renovasi ruang kelas.
 
Ucapan Pramundriati tersebut dibenarkan oleh Siswanto, dia mengatakan bahwa dalam hal ini, SGF tidak setengah-setengah dalam membantu mengembangkan sekolah binaannya. ”Semua kita bantu, tapi bantuan kita tentunya terbatas hanya pada tahun-tahun pertama”, ucap Siswanto. Untuk selanjutnya, lanjut dia, tahun berikutnya diharapkan sekolah-sekolah tersebut bisa mandiri dan dapat dikelola secara swadaya.
 
”Sesuai fungsinya, SGF hanyalah sebagai triger atau pemicu, tentunya semua akan kita kembalikan lagi ke masyarakat untuk melanjutkannya,” ucap Siswanto, saat mengomentari pendirian TK SBB. Dia menambahkan, untuk mendapat kualitas yang baik tidak harus mahal, itu dibuktikan oleh berdirinya TK SBB ini.  
 
Apalagi, tambahnya, TK SBB merupakan satu-satunya sekolah yang dalam aktivitas kesehariannya berpedoman pada silabus yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF) sebagai konsultan. Sehingga, harapnya, kualitas output dari TK SBB tidak kalah dengan TK-TK lainnya.
 
Ketika Gapura mencoba menelusuri peruntukan gedung sebelum fungsinya berubah menjadi ruang kelas, ternyata TK SBB di wilayah Tuban memiliki ‘latar belakang’ atau fungsi yang bermacam-macam. Dari bekas ruangan sekolah yang sudah dianggap suwung dan dianggap ada penunggunya karena tidak pernah difungsikan, balai pertemuan desa, gudang penyimpanan barang, bahkan sampai ada bekas kandang bebek.
 
”Dulu kelas ini kandang bebek, jadi kondisinya tidak sebersih seperti sekarang ini”, kata Suartik, salah satu guru di TK-Kartika, Telogopule-Prunggahan Kulon. Dia menambahkan, karena bantuan SG, akhirnya kandang bebek itu sekarang sudah berubah fungsi menjadi sebuah ruang kelas yang representatif untuk proses belajar mengajar.  
 
Bahkan saat ini muridnya tergolong paling banyak diantara TK-SBB yang lain, yaitu tercatat 62 anak yang dibagi menjadi dua ’shift’, masuk pagi dan siang. ”Bahkan tahun ajaran baru ini sudah terdaftar 25 anak, jumlah ini akan terus bertambah, soalnya warga sini rata-rata punya balita”, tambah Suartik bangga.
 
Saking banyaknya siswa yang terdaftar, TK Kartika saat ini mempunyai 6 guru yang semuanya berasal dari desa setempat. Sistem pengelolaannya-pun benar-benar swakelola mandiri. Artinya, seluruhnya dikelola dan dijalankan dari dan oleh masyarakat sendiri. Kelebihannya, seluruh aktivitas belajar mengajar dituntut sesuai dengan silabus atau yang disebut SKH dari IHF dan SG Foundation.
 
”Alhamdulillah, semua ini berkat bantuan SG sehingga anak-anak disini bisa belajar dengan mutu yang tidak kalah dengan sekolah di kota,” ucap Pamundriati, saat ditanya pendapatnya tentang SG. Dia juga berharap semoga SG tetap jaya sehingga bisa meneruskan pengabdiannya kepada masyarakat, khususnya kepada anak bangsa.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy