Konsumsi semen di Provinsi Bali tahun ini diperkirakan meningkat 11% atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata angka nasional yang hanya 6%.
Urip Timuryono, Ketua Asosiasi Semen Indonesia, mengatakan kontribusi penggunaan semen di Bali dan Nusa Tenggara mencapai 6% dari konsumsi nasional yang mencapai 40,78 juta ton.
"Pertumbuhan kebutuhan semen di Bali termasuk tinggi," katanya seusai membuka Cemtech Asia Conference hari ini.
Konferensi semen yang digelar di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali itu dihadiri 150 peserta dari 25 negara membahas mengenai peluang dan potensi pasar.
Menurut dia pembangunan akomodasi wisata dan perumahan menjadi penyebab tingginya pertumbuhan kebutuhan semen di Bali. Urip memaparkan kebutuhan semen untuk infrastruktur dan perumahan mendominasi penyerapan bahan bagunan di Indonesia termasuk Bali.
Dia mengungkapkan kebutuhan semen nasional tahun 2010 lalu mencapai 40,78 juta ton. Jumlah ini akan meningkat dan menyentuh level 55 juta ton pada Tahun 2015 mendatang.
Sementara itu produksi semen nasional masih jauh lebih tinggi sehingga Indonesia tak perlu harus impor. “Tahun 2015 mendatang produksi kita mencapai angka 75 juta ton, sementara kebutuhan hanya 55 juta ton,” katanya. Sedangkan, produksi semen dunia mencapai angka mencapai 3,2 miliar ton setahun. Jumlah ini pun terus meningkat setiap tahun.
Urip menjelaskan Indonesia memiliki potensi bahan semen yang luar biasa. Hampir di semua daerah memiliki potensi ini. Saat ini Indonesia baru memiliki 9 perusahaan semen yang 5 di antaranya merupakan perusahaan BUMN. "Kita terus mendorong berdirinya perusahaan pabrik semen. Beberapa investor dari Cina dan India sudah ada yang menyatakan berminat, namun baru secara lisan," katanya.