Pertumbuhan konsumsi semen pada tahun depan diproyeksi tumbuh 7% menjadi 48,15 juta ton dari kisaran serapan komoditas ini di pasar dalam negeri sebesar 45 juta ton.
Angka ini didorong banyaknya proyek infrastruktur yang akan dibangun hingga 2014 sekitar 30 proyek senilai US$15,25 dengan asumsi kebutuhan semen 4 juta ton.
Data analisis PT Semen Gresik (Persero) Tbk menunjukkan peningkatan permintaan semen itu bahkan mencapai 143 juta ton pada 2030, didorong kebutuhan dari kawasan luar Jawa dengan pertumbuhan rata-rata 4 kali lipat.
Sekretaris Perusahaan Semen Gresik Sunardi Prionomurti mengatakan perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi tahun depan menjadi 22 juta ton.
"Pasar semen terus tumbuh. Dengan pabrik baru Tuban dan di Tonasa diharapkan ada peningkatan produksi," ujarnya siang ini.
Pembangunan pabrik baru di Tonasa V dan Tuban IV saat ini telah mencapai lebih dari 95% sehingga segera dioperasikan dalam waktu dekat.
Dua pabrik baru itu akan menambah kapasitas produksi Semen Gresik sekitar 2,5 juta ton per tahun.
Selain pabrik baru, Semen Gresik juga tengah menyelesaikan pembangunan pembangkit lisrik di Tonasa berkapasitas 2x35 MW.
Sunardi mengungkapkan tingkat konsumsi semen di dalam negeri belum tinggi sekitar 172 kg per kapita per tahun.
Sementara, Vietnam saja sudah mencapai 400 kg per kapita per tahun.
Apalagi, lanjutnya, pasar di luar Jawa dan Sumatra belum tersentuh dengan porsi pangsa pasar hanya sekitar 22% dari total permintaan semen 45 juta tahun ini.
"Karena itu kamu ke depan akan mengupayakan perluasan pasar ke luar Jawa. Diharapkan bisa dibangun packing plant di luar Jawa sehingga bisa mengurangi biaya distribusi," tambahnya.
Semen Gresik diketahui menguasai 41% pangsa pasar semen di dalam negeri. Sementara Indocement Tunggal Prakarsa menguasai 31,3%.