Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk (SMGR) Dwi Soetjipto optimistis perseroan mampu meraih marjin Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) sebesar 35% pada akhir tahun ini. Meskipun, pada semester pertama angka yang diraih hanya 32,2%.
Menurut Dwi, margin EBITDA SMGR di semester pertama lalu sedikit menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 34%. Hal itu karena kenaikan harga semen di pasar belum bisa mengimbangi kenaikan biaya produksi selama paruh pertama. "Kenaikan biaya sekitar 7%, tetapi harga semester satu dibandingkan semester pertama 2010, hanya naik 2%," kata Dwi. Untuk mempertahankan marjin EBITDA, setidaknya butuh kenaikan harga sebesar 5%.
Meskipun begitu, margin laba bersih SMGR masih bisa naik tipis dari 24,43% di semester pertama, 2010 menjadi 24,60 pada semester satu tahun ini. Dwi bilang, margin laba bersih terangkat karena tertopang pos pendapatan lain-lain. Corporate tax yang hanya sebesar 22% turut mendukung laba bersih.
"Kami optimistis marjin EBITDA pada akhir tahun ini di kisaran 35%. Kami fokus pada efisiensi bahan baku dan biaya produksi dengan beberapa strategi," katanya. Sedangkan marjin laba bersih yang didapat dari pembagian laba bersih dengan pendapatan usaha ditargetkan akan naik 25%.
Indikator EBITDA menggambarkan aliran kas operasional tanpa memperhitungkan beban non-operasional, sehingga bisa lebih memperlihatkan kinerja operasional perusahaan yang sesungguhnya. EBITDA merupakan salah satu faktor penting bagi pasar dalam melihat kinerja dan prospek suatu perusahaan, selain laba bersih. Menurut Dwi, marjin EBITDA memperlihatkan adanya efisiensi suatu industri yang didapat dari pembagian nilai EBITDA dengan pendapatan usaha.