Efisiensi energi pacu kinerja perseroan
Pertumbuhan konsumsi semen nasional diyakini terus meningkat, terutama didukung oleh geliat pembangunan sektor properti. Belum lagi proyek-proyek pemerintah yang dikemas dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3E). Sejalan dengan itu, tentunya pundi-pundi produsen semen bakal semakin tambun asalkan mereka bisa mengikuti pergerakan permintaan semen yang terus meningkat.
Untuk menangkap peluang itu serta untuk mengantisipasi terjadinya kelebihan permintaan, beberapa produsen semen besar sedang sibuk menambah kapasitas produksinya, baik dengan pembangunan pabrik semen baru maupun lewat akuisisi.
PT Semen Gresik (Persero) Tbk adalah salah satunya. BUMN semen ini sedang konsentrasi dengan program ekspansi peningkatan kapasitas produksinya. Beberapa langkah ekspansinya saat ini adalah penyelesaian pembangunan pabrik Semen Tuban IV berkapasitas 2.5 juta ton per tahun dan pabrik Semen Tonasa V berkapasitas 2,5 juta ton per tahun. Saat ini, realisasi pembangunan kedua pabrik masing-masing mencapai 91,07% dan 83,39% sehingga diharapkan bisa beroperasi pada awal tahun depan.
Tidak hanya itu, perseroan yang dipimpin oleh Dwi Soetjipto itu juga berencana membangun pabrik semen baru berkapasitas 3juta ton di wilayah Sumatra dengan kebutuhan investasi Rp7 triliun-Rp9 triliun.
Semen Gresik juga berencana membangun pabrik semen baru di Rapua berkapasitas 600.000 ton per tahun dengan nilai investasi mencapai USS 150 juta.
Tidak cukup bermain di pasar domestik. Semen Gresik juga berambisi melakukan penetrasi pasar luar negeri dengan cara mengakuisisi perusahaan semen di Malaysia dan Vietnam. Di luar itu, ekspansi perseroan juga dilakukan melalui joint venture dengan produsen semen luar negeri.
Selain pembangunan pabrik semen baru dan akuisisi, perseroan yang 51,01 % sahamnya dikuasi oleh pemerintah itu juga intens menjalankan program debottlenecking dalam rangka peningkatan kapasitas produksinya.
Produksi semen perseroan hingga Juli berada pada level 10.7 juta ton dari total target tahun ini sebesar 19,5 juta ton. Pada 2012, produksi semen perseroan diperkirakan naik 17,9% menjadi 23 juta ton per tahun.
Ekspansi besar-besaran Semen Gresik tersebut membuat analis PT Valbury Securities Budi Rustanto tetap memberikan outlook positif bagi fundamental keuangan Semen Gresik. "Valuasi kami dengan menggunakan metode discounted cash flow memperoleh target harga sebesar Rpll.500. Oleh karena itu, kami tetap mem pertahankan rekomendasi buy untuk saham SMGR," katanya dalam riset yang dirilis pada 22 Agustus.
Dia memperkirakan proyekdebottlenecking dan ekspansi pabrik semen perseroan akan mendongkrak kapasitas produksi.
Faktor efisiensi
Selain faktor ekspansi produksi. Budi juga mempertimbangkandua katalis lainnya yaitu manajemen efisiensi biaya dan energi untuk mempertahankan level margin dan kinerja keuangan yang relatif baik pada semester 1/2011. sesuai dengan ekspektasi Valbury Securities.
Dalam menghemat biaya operasional, perseroan menggunakan banyak cara antara lain optimalisasi tarif transportasi melalui kontrak jangka panjang dan mengamankan kontrak jangka panjang untuk pasokan batu bara.
Dalam mengelola penggunaan energi, Semen Gresik juga melakukan konversi batu bara dengan nilai kalori (inggi ke batu bara dengan nilai kalori medium-rendah.
Terkait dengan kinerja keuangan, Budi menilai pada 6 bulan pertama tahun ini perseroan membukukan kinerja yang relatif baik dengan peningkatan laba bersih sebesar 15,1% menjadi Rpl,87 triliun dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun lalu Ppi,63 triliun.
"Pendapatan tumbuh 14,2% menjadi Rp7,61 triliun dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,66 triliun," katanya.
Peningkatan pendapatan tersebut didukung oleh naiknya volume penjualan semen di dalam negeri sebesar 9,7% menjadi 9,17 juta ton dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun lalu sebesar 8,36 juta ton.
Kendati demikian, market share Semen Gresik turun menjadi 40,8% dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun lalu 42,7% akibat melambatnya konsumsi semen di Jawa Timur pada kuartal 1/2011. "Market share perseroan akan kembali meningkat pada saat pabrik semen baru dengan total kapasitas produksi 5 juta ton mulai beroperasi," ujarnya.