Walaupun kondisi ekonomi global sedang didera krisis, namun sampai dengan Januari 2009 penjualan SG masih tetap eksis. Perusahaan masih optimis di tahun 2009, terbukti target penjualan SG dipatok lebih tinggi 3% dibanding realisasi penjualan tahun 2008. Pada Januari lalu, realisasi total volume Penjualan SG berhasil mencapai 100,3% atau sebesar 739,0 ribu ton semen telah melampaui RKAP sebesar 735,7 ribu ton. Sedangkan pasar domestik mampu mencapai 100,4% atau sebesar 687,9 ribu ton dari RKAP 685,7 ribu ton. Hal itu dipaparkan Rudi Hartono Kabag Perencanaan Pemasaran pada Gapura 10/2/09, di lantai 6 GU SG. Perilaku konsumen selama ini melihat biasanya bulan Februari akan terjadi hujan deras, sehingga aktivitas pembangunan, banyak dikebut pada bulan Januari. Diperkirakan banyak pengamat ekonomi, dampak krisis global akan terasa pada semester II. Karena pada semester itu, daya beli masyarakat akan menurun, sehingga persaingan antar produsen semen menjadi semakin tajam. Kondisi tersebut telah disadari manajemen dan pegawai SG, sehingga tidak ada kata lain untuk menghadapi hal ini selain peningkatan efisiensi di segala lini. Dimana jajaran Direktorat Pemasaran saat ini telah mengupayakan pentingnya optimalisasi yang bisa dilakukan pada jalur distribusi dan transportasi. Sedangkan prognose volume penjualan bulan ini (Februari 2009) diperkirakan agak turun dibanding bulan-bulan lainnya. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya karena pengaruh cuaca, biasanya terjadi banjir akibat hujan yang cukup deras, sehingga kegiatan pembangunan gedung atau rumah dihentikan sementara.
Pada kesempatan lain, kendala yang dihadapi pada angkutan darat dan laut sebagai jalur distribusi semen, dipaparkan Amat Pria Darma, Kadiv Distribusi dan Transportasi, bakal sedikit terganggu. Menurutnya, pada jalan darat di awal bulan Februari terutama di daerah Jawa Tengah, seperti Semarang dan Tegal jalurnya terputus oleh genangan air banjir. ”Kita harus menunggu air surut biasanya sampai 6 jam atau mencari jalan alternatif (re route) kalau ada namun, cara ini konsekuensinya adalah menambah biaya transport,” jelas Darma. Hal ini tetap dilakukan sebagai usaha untuk mempertahankan atau merebut pasar di daerah itu; untungnya perusahaan terbantu oleh penurunan harga BBM akhir-akhir ini, yang berdampak positif bagi penurunan bea transport sebesar 7,5%. Solusi lain yang bisa dilakukan, pada saat banjir reda, dengan segera mengirim lebih banyak semen ke gudang-gudang penyangga, meskipun saat itu belum ada order dari para distributor. ”Konsekuensinya biaya transport akan bertambah, namun keuntungannya ketika ada order bisa langsung diambilkan dari gudang penyangga,” tambahnya.
Sedangkan jalur laut, juga terjadi kendala ketika ada ombak yang tinggi. Demi keselamatan, admin pelabuhan melarang kapal kecil jalan, kalau kapal besar masih boleh. Perusahaan sedang menjajaki adanya peluang ekspor, namun sampai saat ini SG belum melakukan ekspor. Tentunya, nilai jual produk yang lebih tinggi, yang akan diutamakan dalam hal ini, setelah itu juga mengenai jarak lokasi terdekat, karena ongkos transport juga sangat berpengaruh.
Alternatif lain yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi banjir di Pantura, tambah Rudi bisa dilakukan melalui optimalisasi pengambilan semen dari packing plan di Ciwandan dan Celukan Bawang untuk daerah pemasaran di sekitar Jawa Barat dan Bali & NTB. Selain itu dengan memanfaatkan para manager area untuk aktif menginformasikan kondisi wilayah masing-masing, Bagian Transportasi dan Distribusi bisa mengoptimalkan armadanya. Misalnya dalam usaha mencari jalur alternatif bagi armada angkutan. ”Dari sisi promosi, kita akan tetap konsisten dengan pemasaran below the line. Yaitu, promosi yang langsung menyentuh pelanggan yang bersifat lokal dan banyak pilihan, misalnya temu pelanggan, iklan di media cetak, billboard dll,” pungkasnya.