Akhir tahun ini, SGG memperkirakan pertumbuhan pendapatan di atas 10% atau lebih dari Rp. 13,2 triliun. Laba bersih diproyeksikan tumbuh sekitar 20-30% menjadi Rp. 3,02 – 3,25 triliun.
Dirut Dwi Soetjipto mengatakan target tersebut diharapkan tercapai dengan memperkuat efisiensi biaya dan menggenjot kinerja operasional, di tengah kuatnya posisi perseroan di pasar semen nasional. SGG menganggarkan belanja modal (capex) 2010 senilai US $ 400 juta atau naik 100% dibandingkan 2009 sekitar US $ 200 juta. Dirut mengatakan Capex tersebut merupakan bagian dari belanja modal perseroan untuk periode 2009-2014 senilai total US$ 1,2 miliar.
“Tahun ini capex yang terealisasi sekitar US$ 200 juta, sedangkan tahun depan dianggarkan sebesar US$ 400 juta,” jelasnya di Jakarta (26/11). Dwi juga menyatakan pihaknya akan mengandalkan kas internal untuk membiayai capex tahun depan. SGG berencana membangun dua pabrik semen di Jatim dan Makasar. Disamping itu, perseroan juga menjajaki pembangunan pabrik baru di Padang, Sumatera Barat, dengan investasi senilai US $ 350 juta. “Kami berharap kapasitas produksi perseroan bisa mencapai 25 juta ton pada 2012 dan 29 juta ton pada 2015,” ujarnya. Hingga September 2009, kapasitas produksi SGG mencapai 19 juta ton, dengan pendapatan 10,4 triliun atau tumbuh 18,31%. Laba usaha naik 27,9% dari Rp. 2,39 triliun menjadi Rp. 3,06 triliun. Sedangkan laba bersih tumbuh 34,07% dari Rp. 1,79 triliun menjadi Rp. 2,4 triliun. Sebelumnya, SGG memperoleh fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk, senilai US$ 350 juta untuk membiayai pembangunan pabrik baru tersebut. Selain itu, perseroan juga bakal mendapat dana sekitar US $ 400 juta, sehingga total kas hingga akhir tahun ini diperkirakan sebanyak US$ 750 juta. Dana tersebut sudah memenuhi 68% dari total capex perseroan dalam lima tahun ke depan.