Di tengah permintaan semen nasional yang mengalami penurunan hingga 5,8%, Perseroan mencatat kinerja yang menggembirakan. Sampai dengan triwulan I 2009 pendapatan (revenue) mencapai Rp 3,228 triliun meningkat 26,2% dibanding periode yang sama pada tahun 2008 sebesar Rp 2,558 triliun.
Pada presentasi acara Investor Day yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada (11-12/5/09) di galeri PT BEI Jakarta, Dirut Dwi Soetjipto menjelaskan bahwa selama triwulan I Perseroan mampu menjual semen sebesar 3,99 juta ton untuk konsumsi pasar domestik dan ekspor. Laba usaha mencapai Rp 866 milyar naik 22,9% dibandingkan tahun 2008 sebesar Rp 704 milyar. Laba bersih sebesar Rp 681 milyar naik 31,3 % dibandingkan periode yang sama pada tahun 2008 sebesar Rp 519 milyar. Ebitda mencapai 974 miliar tumbuh 10,5% lebih besar dari Ebitda triwulan tahun sebelumnya.
“Untuk tahun 2009 ini, Perseroan telah menetapkan rencana strategis antara lain: menjaga manajeman biaya, mulai biaya energi, biaya material langsung dan tidak langsung, pengelolaan inventori dan pengadaan, pemeliharaan, pengepakan, sampai transportasi,” tutur Dwi Soetjipto didampingi Wadirut Heru D. Adhiningrat, Cholil Hasan Direktur Keuangan, serta Jonathan Direktur Keuangan Semen Tonasa.
Perseroan juga akan melakukan debottlenecking/optimization project dengan kapasitas 1 juta ton semen, membangun dua pabrik semen baru di Jawa dan Sulawesi dengan kapasitas masing-masing 2,5 juta ton. Pembangunan pabrik di Jawa dan Sulawesi akan selesai pada 2012 dan 2011. Perseroan juga membangun dua pembangkit listrik 2 x 35 megawatt di Sulawesi yang diperkirakan selesai pada 2011.
Dipaparkan pula, Perseroan akan melanjutkan gerakan konservasi energi dengan melakukan efisiensi bahan bakar batu bara dan mengembangkan pemakaian bahan bakar alternatif, yaitu memanfaatkan limbah pertanian seperti sekam padi, kulit kacang, sampah, cangkang kelapa sawit dan limbah pabrik yang masih memiliki nilai kalor sebagai bahan bakar.
Ditengah krisis global saat ini yang juga berdampak ke Indonesia, dilihat dari pertumbuhannya, penjualan SGG relatif tetap bagus, karenanya Perseroan optimis konsumsi semen pada tahun 2009 masih tumbuh 0 – 3%. Hal itu tidak lepas dari lokasi pabrik yang strategis yaitu Semen Padang di wilayah Barat, Semen Gresik di wilayah Tengah serta Semen Tonasa di wilayah Timur.
Pada Triwulan I/2009 secara nasional pertumbuhan konsumsi semen minus 9,4%, sedangkan SGG hanya minus 2,1%, dengan demikian market share SGG naik menjadi 45,7% dibanding akhir tahun 2008 sebesar 43,7%.
Pertumbuhan konsumsi semen Perseroan terjadi khususnya pada Semen Tonasa, yang mengalami pertumbuhan untuk domestik sebesar 2.6%. Jonathan mengatakan, kenaikan demand semen Tonasa dipengaruhi dari meningkatnya perkembangan infrastuktur di Sulawesi, diantaranya pembangunan jalan penghubung Makassar dan Pare Pare, pembangunan power plant Poso dan infrastruktur di Halmahera yang mempunyai tambang emas. Selain itu, dipicu pula oleh terus berkembangnya proyek pembangunan di Kalimantan, sehingga diperkirakan kenaikan demand Semen Tonasa tumbuh 3% - 5%.