Keluhan keras dari masyarakat sekitar pabrik PT Semen Gresik (SG) di Kabupaten Tuban dijawab dengan tegas oleh manajemen. Kepada kurang lebih 25 wartawan se Kabupaten Tuban yang tergabung dalam Ronggolawe Pers Solidarity (RPS), Kadiv Komunikasi Saifuddin Zuhri, saat diskusi di Hotel Surya Indah, Jl Oro-Oro Ombo No 202 Kota Batu, 13-14 Februari kemarin mengaku kalau PT SG itu jualan debu.
"Jadi, sebisa mungkin akan dijaga debu agar jangan sampai keluar dari pabrik. Sebab, kalau masih keluar berarti kerugian besar bagi PT SG," katanya dengan mimik serius. Sehingga, pihaknya sebisa mungkin akan menangkap debu itu dengan berbagai teknologi mutakhir yang dimiliki oleh PT SG. Sebab, sekarang ini teknologi yang dipakai adalah yang paling terbaru.
Penjelasan masalah debu itu sangat panjang dari Saifuddin, karena memang selama ini keluhan masyarakat mengenai debu cukup banyak, selain tentang peledakan. Masih menurut Saifuddin, setelah proses peledakan, pengangkutan, hingga menuju ke pengolahan dalam pabrik, semaksimal mungkin debu tidak dibiarkan lepas begitu saja.
"Semuanya menggunakan proses tertutup. Sehingga, debu semaksimal mungkin akan tetap berada dalam peralatan yang dimilik PT SG," lanjutnya. Terpisah, ahli pertambangan Budi Sulistijo menerangkan, pada proses pertambangan yang dilakukan oleh PT SG, sejauh ini sangat memperhatikan mengenai pengelolaan lingkungan.
Sebab, sebelum dilakukan penambangan akan terlebih dahulu dibuatkan embung-embung sebagai tangkapan air. Sehingga, air hujan yang jatuh tidak segera lari ke sungai-sungai di permukaan. Melainkan lebih lama dan perlahan demi perlahan bisa terserap oleh tanah. "Jadi, selama ini banyak ditemukan model seperti itu," tegasnya.
Embung-embung itu pada musim penghujan bisa berfungsi sebagai pengurang banjir dan pada musim kemarau bisa difungsikan untuk lahan pertanian maupun perikanan. "Bisa dijadikan tambak atau pendirian keramba-keramba ikan oleh warga sekitar," lanjut Budi.
Ditanya mengenai kerusakan lingkungan yang dibuat akibat penambangan liar warga dengan PT SG ? Budi menjelaskan, sejauh ini kerusakan akibat penambangan liar sangat berbahaya. Sebab, setelah dilihat dari dekat pada masa 5 sampai 15 tahun yang akan datang, bisa jadi tempat penambangan liar itu bisa runtuh. "Saat ini saja banyak terjadi batuan yang ambrol. Sebab, penambang itu akan mengalirkan air ke tempat yang bukan jalannya," sambungnya.