Sebagaimana disampaikan Menteri Perindustrian, MS Hidayat, lonjakan permintaan semen masih terus berlangsung sampai tahun 2025 mendatang. Itu dikatakan saat meninjau progress report pembangunan pabrik semen Tuban IV milik PT Semen Gresik (Persero) Tbk seminggu lalu.
Bagaimana korporasi ini menjawab tantangan sekaligus peluang itu, sehingga pasar semen domestik tak diambil produsen semen asing? Dirut Semen Gresik, Dwi Soetjipto mengutarakan, dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas produksi Semen Gresik Group (Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa) telah mentok. Besarannya mencapai 20,2 juta ton per tahun. "Tak mungkin kita lakukan penetrasi pasar kalau tak ada tambahan produksi," katanya pada satu kesempatan.
Untuk menjawab itu, sejak tahun 2009 lalu, Semen Gresik Group membangun 2 unit pabrik. Yakni pabrik semen Tuban IV di Kabupaten Gresik yang masuk lingkungan PT Semen Gresik dan pabrik semen baru Tonasa V di bawah bendera Semen Tonasa di Pangkep, Sulsel. Kedua init pabrik itu berkapasitas masing-masing 2,5 juta ton per tahun. Hingga akhir Oktober 2011 ini, progress report pembangunan pabrik Tuban IV mencapai 95,77%, sedang pabrik semen Tonasa V progress reportnya mencapai 92,55%.
"Insya Allah awal tahun 2012 mendatang, kedua pabrik itu selesai dibangun," tambahnya. Pembangunan kedua unit pabrik itu membutuhkan anggaran sekitar Rp 6,5 triliun sampai Rp 7 triliun.
Selain pembangunan pabrik baru di Tuban dan Pangkep, Sulsel, korporasi yang berkantor pusat di Kota Gresik itu berencana membangun pabrik baru di Rembang, Jateng. Satu unit pabrik baru di Rembang itu sekarang masuk tahapan uji dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). "Kita juga lakukan kajian sosial secara komprehensif terkait rencana pembangunan pabrik baru di Rembang itu," ungkap Dwi Soetjipto.
Pabrik semen milik Semen Gresik di Rembang nantinya berkapasitas 2,5 juta ton per tahun dengan nilai investasi Rp 3,5 triliun. Sekretaris Perusahaan Semen Gresik, Sunardi Prionomurti, mengutarakan, selain pabrik semen di Rembang, nantinya dibangun sejumlah infrastruktur pendukung untuk operasional pabrik semen, seperti pelabuhan dan lainnya.
"Panjang dermaga pelabuhan yang kita rencanakan 200 meter sampai 300 meter. Pembangunan pelabuhan itu beriringan dengan pembangunan pabrik semen. Dermaga itu penting untuk proses in and out equipment mesin utama pabrik," ujar Sunardi P.
Pabrik semen baru milik Semen Gresik di Rembang lokasi tapak pabriknya berada di Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, Rembang. Pembangunan pabrik semen baru ini akan membutuhkan lahan seluas 900 hektar di Kecamatan Gunem dan Bulu.
Lahan seluas itu dibutuhkan untuk pengadaan bahan baku batu gamping (520 hektar), tanah liat (240 hektar), pabrik (105 hektar), jalan tambang (15 hektar), dan jalan produksi (20 hektar). Lahan untuk pabrik dan pengadaan bahan baku akan difokuskan di Desa Pasucen, Tegaldowo, Kajar, Timbrangan, dan Suntri di Kecamatan Gunem.
Jika semua lancar, bangunan pabrik akan dimulai pada 2012. Sehingga pada 2015, satu unit pabrik berkapasitas 2,5 juta ton per tahun akan siap beroperasi 2015 mendatang. Pembangunan pabrik ini diperkirakan mampu menyedot tenaga kerja hingga 3.000 orang.
Sunardi mengemukakan, pentingnya pembangunan pabrik semen milik Semen Gresik di Rembang, Jateng karena region ini adalah pasar kedua terpenting bagi Semen Gresik setelah Jatim. Dia menyatakan, market share Semen Gresik di Jateng dan DI Yogyakarta tahun 2011 mencapai 33%. Posisi itu menempatkan Semen Gresik berada di ranking kedua di bawah Indocement Tunggal Prakarsa dengan market share sebesar 42%.
Bisnis semen yang terkait dengan transportasi mendorong manajemen Semen Gresik makin mendekat dengan pasar utamanya. Sebab, makin dekat pasar dan komsumen, nilai efisiensi biaya makin tinggi sehingga harga produk makin kompetitif di final user.
"Karena itu, dengan selesainya pembangunan pabrik semen Tuban IV, kemungkinan besar market share kita di Jateng bertambah bagus. Apalagi kalau kita lancar membangun pabrik semen di Rembang. Sebab, pada 2-3 tahun terakhir kita tak mungkin meningkatkan penetrasi pasar karena kapasitas produksi pabrik kita mentok," jelasnya.
Pada tahun 2010 lalu, tingkat permintaan semen di Jateng dan DI Yogyakarta mencapai 5 juta. Dari jumlah tersebut, sebesar 1,8 juta ton dipasok Semen Gresik. Pada tahun 2011 hingga bulan Oktober, tingkat penyerapan semen di Jateng dan DI Yogyakarta sebesar 4,96 juta ton. Dengan demikian, pada tahun 2011 ini, konsumsi semen di Jateng dan DI Yogyakarta dipastikan lebih dari 5 juta ton. "Tingkat pertumbuhan konsumsi semen di Jateng sepanjang tahun 2011 hingga Oktober mencapai 17%," tambah Sunardi.
Secara makro, hingga Oktober 2011, tingkat konsumsi semen secara nasional mencapai 41 juta ton. Dari jumlah tersebut, hampir di seluruh di Indonesia, Semen Gresik Group (Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa) leading. Hanya di Pulau Jawa, untuk sementara, Semen Gresik kalah vis a vis Indocement. Market share Indocement di Pulau Jawa sebesar 40,4%, sedang Semen Gresik hanya 36,3%.
"Pada tahun 2012 mendatang, kami perkirakan ada pasokan produksi baru sebesar 2 juta ton, sehingga kapasitas produksi Semen Gresik Group bisa mencapai 22 juta ton dibanding tahun 2011 ini sebesar 20 juta ton," kata Dwi Soetjipto.