Penggunaan limbah sebagai bahan bakar alternatif oleh PT Semen Gresik Tbk (SG), ternyata mampu mendorong pertumbuhan laba bersih BUMN industri semen tersebut selama 2010.
Dirut Semen Gresik Dwi Soetjipto mengatakan, beragam inovasi terus dilakukan SG dan anak perusahaanya dengan tujuan untuk efisiensi, baik dari sisi mesin produksi, bahan baku, maupun bahan bakar alternatif. “Langkah itu cukup jitu. Yang mencolok adalah penggunaan bahan bakar limbah sebagai alternatif pengganti batubara yang selama ini kita pakai. Ternyata memberi kontribusi terhadap laba perusahaan, ” kata Dwi di Surabaya, Rabu (23/2).
Hal itu kian ia rasakan jika melihat kinerja penjualan di Semen Gresik Gruop (SGG) yang relatif stagnan di tahun lalu. Ini dampak proses upgrading permesinan dan Gempa di Sumatera Barat yang memengaruhi produksi anak usahanya, Semen Padang.
Dwi memaparkan, di 2010 laba bersih yang ia bukukan masih tumbuh sekitar 8-9 persen atau dari Rp 3,3 triliun pada 2009 menjadi Rp 3,4 triliun pada 2010. Pertumbuhan laba Rp 100 miliar itu, diakuinya, merupakan pencapaian membanggakan di saat penjualan kurang membaik. Model inovasi yang dikembangkan perusahaan dalam 5 tahun trakhir cukup positif.
Dalam tiga tahun pertama, sejak penggabungan Semen Gresik, Semen Padang dan Semen Tonasa ke dalam satu holding pada 2005, cukup mudah diciptakan banyak value added. Dirut PT Semen Tonasa Sattar Taba menambahkan, sejumlah inovasi yang sudah dan akan diterapkan membuatnya memiliki keunggulan dan berdaya saing tinggi.
“Sebelum proses penggabungan, rata-rata laba kami Rp 14 miliar, namun terus meningkat hingga Rp 700 miliar pada 2009, dan 2010 kami prediksi Rp 800 miliar,” ujar Sattar.