Pasar semen nasional pada Juli 2009 meningkat 2,8% dibanding bulan yang sama 2008 menjadi 3,51 juta ton dari sebelumnya 3,414 juta ton. Ini merupakan pertumbuhan penjualan pertama sepanjang 2009, setelah sebelumnya terpuruk selama enam bulan berturut-turut.
Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono menilai, peningkatan pasar semen tak lepas dari kian rendahnya BI rate yang pada Agustus 2009 diturunkan lagi menjadi 6,5%. Hal ini mendorong penurunan bunga kredit yang berimbas pada bergairahnya pasar properti.
“Pada semester pertama 2009, bunga masih tinggi sehingga pengembang menunda pembangunan proyek baru. Ini membuat pasar semen terus turun. Tapi sekarang bunga mulai turun dan pilpres (pemilihan presiden) juga berlangsung aman,” ujarnya ketika dikonfirmasi di Jakarta, akhir pekan lalu.
Penurunan bunga kredit, ujar Urip, dibarengi dengan mulai cairnya stimulus infrastruktur pemerintah sebesar Rp 12,2 triliun pada Juli. Alhasil, pasar semen mulai bangkit dari kemerosotan penjualan. Selama ini pasar semen digerakkan oleh proyek properti swasta dan infrastruktur pemerintah.
Urip mencatat, pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa mulai bergeliat. Contohnya, kata dia, pengerjaan tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) yang menyedot banyak semen. Di Jawa Barat, kata dia, proyek tol Jakarta Outer Ring Road(JORR) juga menyerap semen dalam jumlah besar.
Merujuk data ASI, lonjakan penjualan terbesar terjadi di Sulawesi sebesar 41% menjadi 283 ribu ton. Di Maluku dan Irian Jaya, pasar semen melambung 37% menjadi 60 ribu ton. Sedangkan konsumsi semen di Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara meningkat masing-masing sebesar 1,3%, 5%, dan 11,5%.
Menurut Urip, peningkatan pasar semen pada bulan lalu sesuai dengan ekspektasi produsen. Biasanya, siklus penjualan semen memang meningkat pada paruh kedua. Situasi berbeda, ujar dia, terjadi pada tahun lalu, saat pasar meningkat tajam pada semester pertama namun melambat memasuki paruh kedua.
“Pada 2008 pasar semen justru anomali. Tahun lalu beberapa proyek rampung pada Juni, setelah itu tidak banyak proyek besar. Di samping itu, krisis mulai menjalar pada kuartal IV dan berlanjut sampai semester pertama tahun ini,” tuturnya.
Prediksi Semester Kedua
Pasar semen domestik sepanjang Januari-Juli 2009, berdasarkan data ASI, tercatat melemah 5,5% menjadi 21,084 juta ton dibanding periode sama 2008 sebanyak 22,303 juta ton. Hingga kini, ASI belum merevisi target penjualan semen pada tahun ini sebesar 38 juta ton atau stagnan dibanding 2008.
Walau begitu, Urip menduga pasar semen tahun ini cenderung terkoreksi. Hanya saja ASI belum mengeluarkan besaran resmi penurunan pasar. “Masih akan dirapatkan oleh anggota,” paparnya.
Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk Dwi Sutjipto sebelumnya optimistis pasar semen pada semester kedua lebih baik ketimbang semester pertama. Senada dengan Urip, Dwi menilai, krisis global telah memukul penjualan semen sepanjang semester pertama tahun ini.
Namun, dalam dua hingga tiga bulan terakhir, konsumsi semen menunjukkan tren peningkatan terutama ditopang sektor properti. Selama ini sektor properti memberi kontribusi 70% dan infrastruktur hanya 10%.
“Dari gambaran ini, kami yakin semester dua akan lebih baik. Bahkan, kalau pasar semen nantinya tetap melemah, kami perkirakan pada semester dua bisa jadi ada pertumbuhan sekitar 0,3% dan jika tetap minus hanya 2-3%,” ujar Dwi.
Di sisi lain, ekspor semen hingga Juli 2009 merosot 17% menjadi 2,386 juta ton dibanding periode sama 2008 sebanyak 2,878 juta ton. Total penjualan semen sampai Juli tercatat mencapai 23,470 juta ton, turun 6,8% dari periode sebelumnya 25,182 juta ton.