Rajawali Investasi Rp. 10,5 Triliun
Rajawali Corporation akan menginvestasikan dana sedikitnya US$1,15 Milliar (10,5 triliun) untuk ekspansi bisnis pertambangan, perkebunan, food estate dan properti. Sebagian dana bersumber dari hasil penjualan 23,65% saham PT. Semen Gresik Tbk senilai Rp 9,8 triliun milik rajawali pekan lalu. Hal itu diungkapkan Darjoto Setyawan, managing director&chief business development Rajawali Corporation di Jakarta, Rabu (7/4), ketika menjelaskan latar belakang penjualan saham PT. Semen Gresik Tbk (SMGR). Dia didampingi Dirut Semen Gresik Dwi Soetjipto, Wadirut SMGR Navin Sonthalia dan Komisaris Utama SMGR Aditya Sumanagara.
Darjoto mengakui, Rajawali sedang berkelimpahan uang saat ini. Selain memiliki dana tunai dari penjualan saham SMGR, perusahaan milik konglomerat Peter Sondakh ini masih mempunyai sisa dana dari penjualan saham Exelcomindo (XL) dan Bentoel. Pada Juni 2009, Rajawali menjual 57% saham PT. Bentoel International Tbk senilai Rp 3,35 triliun. Rajawali juga meraup dana Rp 4,1 triliun saat melego 16% saaham XL ke Etisalat pada Desember 2007.
Menurut Drajoto, Rajawali tetap konsisten pada tiga pilar baru bisnisnya, yakni pertambangan, perkebunan dan properti. Untuk pertambangan, Rajawali menyiapkan dana US$ 400 juta. Saat ini pihaknya mengincar beberapa perusahaan tambang besar dan mencari lahan tambang baru di Kalimantan atau Sumatera.
Beberapa waktu lalu Rajawali mengincar tambang batubara Maruwai, Kalimantan, milik BHP Biliton. Namun Rajawali kalah dari pesaing utamanya, Adaro. “Kami sebenarnya sangat meminati tambang Maruwai, tapi kalah. Karena itu kami harus mencari perusahaan lain serta mencari lahan tambang baru,” tutur Darjoto.
Rajawali juga menyiapkan dana US$ 400 juta untuk pengembangan food estate di Merauke, berupa perkebunan tebu terpadu. Mulai dari pembibitan, perkebunan, hingga pabrik gula. Di daerah yang dikenal sebagai pusat bibit tebu dunia itu, kata Darjoto, Rajawali akan mengembangkan areal sekitar 70.000 hektare (ha). “Kami sudah dapat izin 40.000 ha, mudah-mudahan yang 30.000 ha sisanya tidak lama lagi,” ungkapnya.
Pabrik gula yang dibangun Rajawali berkapasitas 30.000 ton per hari. “Seluruh produksi gula akan dilempar ke pasar domestik, karena kita kekurangan suplai,” ungkapnya.
Selain tebu, lanjut Darjoto, Rajawali juga telah mengembangkan bisnis sawit di dua lokasi di Papua dengan total laha 47 ribu ha. “Hingga 2-3 tahun ke depan, bujet investasi perkebunan sawit sekitar US$ 200 juta,” kata dia.
Di bidang properti, Rajawali mengalokasikan investasi US$ 150 juta. Saat ini harga properti sangat murah, namun sejauh ini perseroan belum menemukan proyek yang cocok,” ujar Darjoto.
Dengan demikian, total dana yang dibelanjakan Rajawali mencapai US$ 1,15 miliar. “Tapi, tidak semua dana itu dihabiskan tahun ini, melainkan hingga tiga tahun ke depan,” ucapnya.
Peter Sondakh yang membesarkan Grup Rajawali sejak awal 1990-an dinobatkan oleh majalah forbes sebagai orang terkaya ke-437 dunia, dengan total kekayaan sekitar US$ 2,2 miliar.
‘Rugi’ Rp 1,7 triliun
Tentang penjualan saham Semen Gresik, Darjoto mengaku hal itu dilakukan bukan karena ada konflik atau masalah dengan pemegang saham lain, terutama pemerintah selaku pemegang saham mayoritas 51%. “kami melepas Semen Gresik karena harganya bagus, dan kami puas,” kata wakil komisaris utama Semen Gresik ini.
Namun, sebenarnya Rajawali kehilangan potensi keuntungan sekitar 1,7 triliun dari penjualan 23,65% saham SMGR. “Sebab, kami jual di harga Rp 7.000, padahal hari ini (Rabu) harganya Rp 8.250. Kalau kami sabar, bisa dapat tambahan Rp. 1,7 triliun. Tapi nggak apa-apa, nanti Rajawali dibilang serakah,” ungkap Darjoto.
Dwi Soetjipto mengakui, keluarnya Rajawali dari Semen Gresik menjadi pertanyaan banyak orang, terutama investor. Sebab kinerja Semen Gresik bagus dan prospek bisnisnya pun sangat baik, seiring bergulirnya proyek-proyek besar pemerintah di bidang infrastruktur.
Dwi Soetjipto dan Aditya Sumanagara yakin kinerja Semen Gresik tetap akan solid meski ditinggal Rajawali. Sebab, secara fundamenta kondisi perseroan sangat bagus, manajemen solid dan didukung sistem yang baik.