Penjualan SG Turun Tipis

Angka penjualan domestik PT Semen Gresik Tbk (SMGR) turun tipis. Per Oktober 2010, salah satu BUMN tersebut mencatatkan penjualan sebesar 14,37 juta ton atau tumbuh negatif dibanding periode yang sama 2009 sebesar 14,61 juta ton.

Dirut Semen Gresik Dwi Soetjipto mengungkapkan, tahun ini SMGR mengalami keterbatasan produksi. Ini terjadi akibat terjadinya gempa yang mengganggu proses produksi Semen Padang. Faktor lain yang mempengaruhi adalah terhentinya aktivitas peralatan pabrik karena penyambungan alat-alat baru, sebagai bagian program ekspansi pabrik untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Penyambungan atau upgrade peralatan baru bisa dirasakan pada 2011. Produksi perseroan akan kembali terkatrol pada tahun-tahun ,mendatang setelah semua alat pendukung pemacu produksi beroperasi,” ujarnya ditemui disela Investor Summit and Capital Market Expo 2010 di Gramedia Expo Surabaya kemarin.
 
Penurunan penjualan, kata Dwi, berimbas pada pendapatan SMGR. Per kuartal III/2010, pendapatan Semen Gresik turun 1,1% menjadi Rp10,29 triliun. Meski penjualan menurun, perusahaan pelat merah ini tetap menjaga profitabilitas dengan melakukan serangkaian efisiensi. SMGR berhasil menekan cost of revenue sebesar 5,1% dari Rp5,64 triliun menjadi Rp5,35 triliun. Ini membuat laba bersih perseroan terangkat 4,7% dari Rp2,408 triliun pada kuartal III/2009 menjadi Rp2,522 triliun pada kuartal III/2010.
 
Hingga kini SMGR terus berupaya mengelola sekaligus mengefisiensikan biaya tetap dan biaya veriabel dalam produksi untuk menjaga supaya profit bisa terus tumbuh di tengah penurunan volume penjualan. “Kami melakukan efisiensi, termasuk dari sisi energi. Ini akan kami lakuakn secara berkelanjutan. Tahun ini penggunaan batu bara yang high calory sudah turun jadi 35%, sisanya medium. Tahun depan kami terus kurangi hingga suatu saat 100% bisa low caloryi,” tandasnya.
 
Direktur  Keuangan SMGR Cholil Hasan menyatakan penurunan kinerja penjualan tidak sampai mengganggu arus kas perseroan. Per September 2010, kas dan setara kas yang dimiliki perseroan masih mencapai sekitar Rp3,5 triliun. Selama ini SMGR selalu menyisihkan 10% dari total revenue setiap tahun untuk saldo. Untuk ekuitas perseroan mencapai Rp11,181 triliun. “Secara umum, meski volume penjualan turun, kita tetap bisa meng-generate kas. Kita tetap bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekspansi. Misalnya, untuk pembangunan Pabrik Tuban yang sepenuhnya dari kas internal kami, tidak ada pinjaman eksternal,” terangnya.
 
Tinjau Kontrak Kerja Sama
Sementara itu, PT Semen Gresik Tbk (SMGR) akan meninjau sejumlah kontrak kerja sama pengadaan peralatan untuk pembangunan pabrik dan pembangkit listrik yang disepakati dengan sejumlah pihak, utamanya untuk komponen pabrik yang harus impor.
 
Perseroan bakal meninjau kembali kontrak-kontrak tersebut karena penguatan kurs rupiah dalam setahun terakhir. “Tentu saja kita ingin barang-barang inpor itu menjdi lebih murah karena kurs dollar AS dan Euro cenderung melemah terhadap Rupiah. Dulu di kontrakkan patokan kursnya lebih mahal. Kita usahakn negosiasi lagi. Pokoknya cash management valas kami jaga terus,” kata Cholil.
 
Kerja sama sehubungan impor pralatan utama pabrik SMGR, diantaranya fasililtas letter of credit (L/C) impor dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai EUR 33,36 juta dan USD 10,49 juta. Selain itu, fasilitas serupa dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar EUR 45,46 juta.
 
Cholil menambahkan, penguatan kursrupiah semakin memberi fleksibilitas bagi perseroan untuk melakukan ekspansi pabrik sekaligus peningkata kapasitas pada tahun depan. Pasalnya, sejumlah komponen impor bisa didatangkan dengan harga yang lebih murah. “Terkait capital budgeting, penguatan rupiah membuat perseroan mempunyai fleksibilitas untuk alokasi belanja modal tahun depan, khususnya untuk alokasi ekspansi pabrik dan pembangunan power plant,” ungkapnya.
 
Untuk 2011 perseroan akan mengeluarkan belanja modal dalam porsi besar untuk kebutuhan peningkatan kapasitas, pembangunan pembangkit listrik, dan upaya de-bottlenecking. Berdasarkan belanja modal SMGR 2008-2014 sekitar USD 1,2miliar, pengeluaran terbanyak dilakukan pada 2009. Untuk 2010, dan 2011 masing-masing sebesar 18%, 32%, dan 30%.
 
Tahun ini belanja guna kebutuhan peningkatan kapasitas produksi mencapai USD 264 juta dan untuk pembangunan pembangkit llilstrik mencapai USD 24 juta. Tahun depan, untuk kebutuhan peningkatan kapasitas produksi, perseroan mengalokasikan dana USD 230 juta, serta untuk pembangkit listrik USD 66 juta.
 
Perseroan, imbuh Cholil, masih akan terus mengusahakan peningkatan porsi kas internal sebagai sumber pendanaan belanja odal. Untuk pendanaan eksternal, perseroan tetap menjajaki kemungkinan penerbit obligasi yang sudah direncanakan sejal lama namun belum juga dieksekusi. “Kami juga masih punya stand by loan. Kalaupun kita cari pinjaman lagi, tidak perlu khawatir karena banyak bank antre ingin membiayai Semen Gresik yang ,memang kinerja dan prospek bagus, “ pungkas Cholil.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy