Penjualan Semen Domestik Melejit 14 %

KENAIKAN TDL GERUS DAYA SAING PRODUK LOKAL

Realisasi penjualan semen dalam negeri selama Januari-Mei 2010 melejit 14 % menjadi 16,1 juta ton dibanding periode sama tahun lalu sebesar 14,1 juta ton. Akumulasi penjualan ini melambat dibanding periode Januari-April 2010 yang mencapai 16 %.

Ketua Umum Asosiasi Semen lndonesia (ASI ) Urip Timuryono menyatakan, perlambatan konsumsi semen sudah diprediksi oleh ASI. Sebab, kata dia, penjualan semen memasuki Mei tahun lalu mulai meningkat, seiring berkurangnya tekanan krisis finansial dunia. "Pertumbuhan penjualan ini masih cukup bagus. Tahun lalu Penjualan mulai bergerak di pengujung semester pertama," kata dia di Jakarta, Kamis (1716).

Urip mencatat, konsumsi semen pada Mei 2010 hanya naik 7 % menjadi 3,26 juta ton, dibanding bulan sama 2009 sebesar 3,052 juta ton. Angka pertumbuhan lebih rendah dibanding April yang mencapai 12%. Urip menegaskan, sejauh ini konsumsi semen nasional masih didorong oleh proyek properti dan infrastruktur pemerintah. Saat ini, kata dia, kalangan pengembang masih mengerjakan proyek-proyek properti yang sempat tertunda pada tahun lalu.

Sedangkan dari sektor infrastruktur, dia menilai, sejauh ini belum ada lonjakan konsumsi. Dia berharap pemerintah segera membelanjakan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum agar konsumsi semen dapat dipacu. "Mudah-mudahan semester II proyek infrastruktur mulai berjalan. Ini akan sangat membantu kami," tegas dia. Berdasarkan Penelusuran, Hingga Mei 2010, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) baru menyerap RP 4,6 triliun anggaran, lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu Rp 6,2 tiliun. Total pagu anggarap PU pada tahun ini mencapai RP 34,79 triliun.

Daya Saing Tergerus

Sementara itu, terkait dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) rata-rata 10 % pada Juli tahun ini, Urip menilai hal itu akan memangkas daya saing semen lokal. Sebab, produsen bisa menaikkan harga jual untuk merespons membengkaknya biaya produksi.

Dia mencatat, kontribusi listrik terhadap total produksi mencapai 30 %. Sedangkan sisanya disumbangkan oleh batubara, energi, karyawan dan transportasi. "Kalau harga naik, saya khawatir semen impor bakal membanjiri pasar lokal. Sekarang mereka tidak bisa masuk ke pasar karena harganya kalah dengan barang lokal. Tapi kalau harga semen lokal naik, beberapa pihak akan tertarik mengimpor semen," tegas dia.

Walau begitu, Urip tidak dapat memastikan apakah produsen akan menaikkan harga jual, menyusul kenaikan TDL. Hal itu, kata dia, bergantung dari kebijakan masing-masing pabrikan. Yang pasti, tegas dia, biaya produksi akan membengkak.

Urip meminta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjamin pasokan listik begitu TDL dinaikkan. Soalnya, pasokan listrik, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan kerap tersendat. Akibatnya, pabrik Semen Bosowa hanya beroperasi 50 % dari total kapasitas terpasang. "Problem ini harus segera dibenahi oleh PLN," katanya. ASI, kata Urip, menargetkan konsumsi semen domestik tahun ini tumbuh 6-7 % menembus 40 juta, dibanding 2009 sebesar 38,415 juta ton.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofian Wanandi mengatakan, kenaikan TDL pasti memberatkan sektor industri. Apalagi, kondisi industri nasional masih pada tahap konsolidasi pascakrisis global dan implementasi perdagangan bebas Asean-Tiongkok (AC-FTA). "Beri kami napas dalam menghadapi AC-FTA, terutama tahun ini kami sedang konsolidasi," katanya.

Namun, jika TDL terpaksa dinaikkan, lanjut dia, pemerintah harus mencari alternatif untuk meringankan beban industri, misalnya dengan menghapus tarif multiguna dan daya maksimal. 'Tadi kami sudah sepaham, menteri ESDM akan membantu kita agar tidak terjadi PHK di sektor industri. Tarif-tarif listrik mau disederhanakan jadi semua sama. Kami bisa bertahan dengan kenaikan TDL sekitar 10-l2 % apabila tarif multiguna dihilangkan," tegas Sofan.

 

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy