Total penjualan semen sepanjang Januari-Juli 2011 mencapai 26,87 juta ton, atau tumbuh 15,1% dibandingkan periode sama tahun lalu 23,34 juta ton. Jumlah tersebut setara USS 2,68 miliar, dengan asumsi harga semen US$ 100 per ton.
Sementara itu, data Asosiasi Semen Indonesia (ASD juga menyebutkan, penjualan semen pada Juli 2011 mencapai 4,38 juta ton. Angka ini meningkat 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 3,74 juta ton.
"Maraknya pembangunan infrastruktur dan peningkatan konsumsi semen di tingkat ritel menjadi pendorong kenaikan penjualan semen," ujar Kepala Hubungan Investor PT Semen Gresik Tbk Agung Winarto kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Menurut dia, kenaikan penjualan semen selama Juli 2011 tidak hanya terjadi di Pulau Jawa saja. Wilayah Nusa Tenggara mencatat kenaikan penjualan tertinggi yaitu 26%, Kalimantan 19,6%, Sumatera 16,8%, Sulawesi 21,4%. Sedangkan penjualan di Jawa tumbuh 16,1%.
Penjualan masih didominasi dalam bentuk bag sekitar 65% untukkonsumsi eceran, yang digunakan untuk merenovasi rumah dan pembelian semen dalam jumlah kecil. Sisanya sebanyak 35% berupa semen curah (bulk), yang banyak digunakan untuk membangun proyek properti besar, seperti apartemen, perkantoran, serta untuk proyek infrastruktur, seperti tol, pembangkit listrik, dan transportasi.
Sementara itu, Semen Gresik berhasil menjual semen 10,9 juta ton pada Januari-Juli 2011, atau meningkat 9,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 9,97 juta ton. Guna terus meningkatkan volume penjualannya, perseroan tengah menyelesaikan pembangunan dua pabrik di Tonasa dan Tuban.
Agung menyebutkan, dua pabrik tersebut mulai beroperasi awal 2012 dengan kapasitas masing-masing 2,5 juta ton per tahun. "Saat ini, pabrik di Tonasa dan Tuban sudah rampung 80% dan diharapkan sele-sai akhir tahun ini," ujar Agung.
Kapasitas pabrik secara nasional pun diproyeksikan bertambah menjadi 54 juta ton tahun ini, atau meningkat 8% dibandingkan tahun lalu 50 juta ton. Penambahan kapasitas berasal dari pabrik baru Semen Gresik 1 juta ton, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 1-2 juta ton, dan PT Semen Bosowa 500 ribu-1 juta ton.
"Sedangkan produksinya bisa mencapai 90% dari total kapasitas pabrik tersebut," ujar Agung.
Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASO Urip Timuryono mengatakan, di tengah pertumbuhan konsumsi di Tanah Air, distribusi semen masih menghadapi permasalahan karena hambatan infrastruktur yang buruk. Di Sumatera, seperti Sumatera Selatan masih seringkali terjadi keterlambatan pengiriman dari Jawa karena permasalahan pelabuhan dan lainnya.
"Kondisi tersebut cukup merepotkan. Menjelang ajang SEA Games di Palembang, konsumsi semen sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan konsumsi rata-rata 100 ribu ton per bulan," tuturnya.
Lampaui Target
Pada 2011, Urip memproyeksikan, penjualan dan konsumsi semen di Tanah Air meningkat 6-8% menjadi 43,1-44 juta ton dibandingkan realisasi tahun lalu 40,7 juta ton. Peningkatan terjadi seiringdengan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,8-6% tahun ini. "Selain itu, suku bunga perbankan yang stabil juga turut mendukung peningkatan penjualan semen," katanya.
Berdasarkan catatan ASI, sekitar 60-70% porsi konsumsi semen di Indonesia masih diserap sektor swasta dan sisanya diserap oleh proyek pemerintah. Pertumbuhan konsumsi semen terutama ditopang sektor properti perumahan dan perkantoran yang masih terus berkembang.
Permintaan semen juga akan terus meningkat seiring banyaknya proyek infrastruktur dan pembangunan konstruksi dari pemerintah yang mulai dikerjakan tahun 2011. Hal ini seiring dengan realisasi dan pencairan dana APBN pada proyek-proyek pemerintah.
Sementara itu, Agung memproyeksikan, penjualan semen pada Agustus ini turun. Pasalnya, banyak truk yang tidak beroperasi untuk mengangkut semen dan ko-moditas lainnya seiring datangnya Lebaran 2011.
Dia menjelaskan, seminggu menjelang dan setelah Lebaran biasanya ada larangan truk beroperasi, kecuali truk pengangkut bahan makanan pokok. Akibatnya, aktivitas penjualan semen hanya bisa maksimal 20 hari pada Agustus ini dan 23-24 hari pada September 2011. atau hanya efektif 66% hari saja.
Walaupun begitu, Agung memperkirakan, hal tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap target total penjualan semen satu tahun ini. Selain merupakan rutinitas setiap tahun, permintaan semen selalu berkurang selama Lebaran. Bahkan, industri juga tidak mempersiapkan apa pun untuk menghadapi hal ini.
"Kami tidak mungkin menumpuk semen sebelum Lebaran karena bisa mengeras kalau disimpan terlalu lama," imbuhnya.