Realisasi penjualan semen domestik sepanjang semester I - 2010 tumbuh 11 % menjadi 19,5 juta ton, dibanding periode sama 2009 sebesar 17,571 ton. Kenaikan ditopang meningkatnya konsumsi masyarakat dan bergairahnya pasar properti, serta proyek infrastruktur pemerintah.
Ketua Asosiasi Industri Semen (ASI) Urip Trimuryono mengatakan, langkah produsen menambah kapasitas pabrik lewat modifikasi pabrik juga mampu mengontrol penjualan semen dalam negeri. Sebab, pabrikan dapat memompa distribusi semen ke pasar.
"Rata - rata penjualan per bulan selama tahun ini rata - rata 3,5 juta per ton," kata Urip kepada Investor Daily, Kamis (15/7).
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), lima produsen semen mengucurkan dana US$ 645,6 tahun ini untuk menambah kapasitas produksi sebesar 11,5 % atau setara 5,38 juta ton per tahun. Beberapa produsen yang menambah kapasitas tahun ini antara lain PT Semen Gresik Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Tiga Roda).
Ekspansi kalangan produsen akan membuat total kapasitas terpasang industri semen dalam negeri akan mencapai 52,32 juta ton pada akhir 2010, dibanding 2009 sebesar 46,94 juta ton.
ASI optimis penjualan semen dapat tumbuh 6 % pada tahun ini menjadi 40 juta ton, meski realisasi konsumsi hingga Juni belum mencapai 20 juta ton. Sebab, tandas dia, produsen masih dapat menggenjot penjualan pada semester kedua.
Kenaikan TDL Ancam Konsumsi
Walau begitu, dia mengaku kisruh kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dapat menekan komsumsi semen. Soalnya, kenaikan TDL bisa memicu keraguan pengembang untuk memulai pembangunan proyek dan menunda investasi.
"Jika ini terjadi, konsumsi semen dapat terpangkas. Selama ini penjualan semen didorong oleh proyek properti dan infrastruktur yang digalang pemerintah," kata dia.
Selain menekan konsumsi, kenaiakn TDL juga dapat memangkas daya saing produk lokal. Ini terjadi karena produsen terpaksa manaikkan harga jual jika ongkos produksi membengkak.
Urip mencatat, kontribusi listrik terhadap total ongkos produksi mencapai 30 %. Adapun sisanya disumbang batubara, energi, karyawan, dan transportasi.
"Kalau harga naik, saya khawatir semen impor bakal membanjiri pasar lokal. Sekarang mereka tidak bisa masuk ke pasar karena harganya kalah dengan barang lokal. Tapi kalau harga semen lokal naik, beberapa pihak akan tertarik mengimpor semen," tegas dia.
Namun Urip belum dapat memastikan apakah produsen akan menaikkan harga jual, menyusul kenaikan TDL. Hal itu, kata dia, bergantung dari kebijakan masing - masing pabrikan.
Urip meminta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjamin pasokan listrik begitu TDL dinaikkan. Soalnya, pasokan listrik, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan kerap tersendat. Kondisi ini membuat pabrik Semen Bosowa hanya beroperasi 50 % dari total kapasitas terpasang. "Problem ini harus segera dibenahi oleh PLN," katanya.
Senada dengan Urip Direktur Industri Kimia Hilir Ditjen Industri Agro dan Kimia Kemenperin Toni Tanduk menyatakan, defisit pasokan listrik dapat menghambat rencana pabrikan melakukan ekspansi. Untuk itu, jelas dia, produsen perlu memikirkan membangun pambangkit listrik sendiri.
Langkah membangun pembangkit listrik sendiri telah dilakuakn Semen Tonasa. Anak usaha PT Semen Gresik Tbk ini membangun pembangkit PLTU berkapasitas 2 x 35 megawatt (MW) besamaan dengan pembangunan pabrik baru (Tonasa V) berkapasitas 2,5 juta ton. Nilai investasi pabrik sekitar Rp 3,5 triliun.