Pangsa pasar Semen Gresik naik menjadi 45%
Meski penjualan semen nasional tahun lalu naik 17%, saham tiga emiten semen hanya menguat rata-rata 6,7% sepanjang tahun berjalan. Pemodal bursa dinilai perlu meneropong prospek jangka panjang sektor tersebut.
Saham PT Holcim Indonesia Tbk yang menjadi penyumbang terbesar indeks sektor industri dasar di PT Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun ini memang menguat 17,42% ke level harga Rp1.820.
Kenaikan itu setara dengan pertumbuhan semen nasional seperti di atas. Namun, kinerja positif itu tidak diikuti dua emiten semen lain yakni PT Semen Gresik Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang sahamnya turun masing-masing sebesar 1,32% dan 1,46%.
Analis PT Citigroup Securities Indonesia Ella Nusantoro mencatat industri semen nasional tahun lalu hanya terkendala penurunan permintaan semen dunia, yang kontribusinya terhadap total penjualan mereka tidak signifikan.
"Industri tersebut membukukan pelemahan konsumsi sebesar 2% menjadi 17,3 juta ton, tertekan ekspor yang melemah. Secara keseluruhan, periode 2009 tidak terlalu buruk meski terjadi pelemahan semester pertama," tuturnya dalam laporan riset per 14 Januari.
Ekspor, lanjutnya, memang turun 19% secara tahunan menjadi 4 juta ton. Namun permintaan domestik perlu dicermati karena membaik pada semester kedua sehingga naik 22,4% menjadi 38,4 juta ton.
Data Asosiasi Semen Indonesia per 31 Desember 2009 menunjukkan permintaan semen di Jawa turun menjadi 21 juta ton, setara dengan 55% total permintaan domestik, sedangkan di luar Jawa membukukan penurunan permintaan sebesar 2% menjadi 42 juta ton.
Namun, penjualan masih tumbuh dengan pertumbuhan di luar Jawa melonjak lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan di Jawa. Pasar di luar Jawa yang menyumbang 44% penjualan domestik hanya tumbuh 24% secara tahunan (9% secara bulanan), sedangkan di Jawa tumbuh 21% secara tahunan (7% secara bulanan).
Secara umum, konsumsi semen domestik tumbuh 17% secara tahunan menjadi 4 juta ton. Permintaan domestik menyumbang 94% dari total konsumsi dan melonjak 22% secara tahunan menjadi 3,8 juta ton. Sebaliknya, konsumsi ekspor turun 29% secara tahunan dan 8% secara bulanan menjadi 247.000 ton.
"Triwulan IV/2009 merupakan masa kuatnya industri semen, dengan pertumbuhan penjualan 13% secara triwulanan menjadi 12 juta ton. Pasar domestik tumbuh 16% secara triwulanan menjadi 11 juta ton, sedangkan pasar ekspor turun 15% secara triwulanan menjadi 926.000 ton," ujar Ella.
Pangsa pasar
Pada periode yang sama, Citigroup mencatat grup Semen Gresik menguasai 45% pangsa pasar semen nasional, naik dari posisi 31 Desember 2008 yang masih berada di level 43,7%.
"Tingginya kontribusi Semen Gresik dan Semen Tonasa masing-masing sebesar 22,4% dan 9,5% menjadi penopang utama, sedangkan Semen Padang mempertahankan pangsa pasar sebesar 13,1%," ujar Ella.
Sebaliknya, pangsa pasar dua pesaingnya yakni Indocement dan Holcim Indonesia justru turun menjadi 30,4% dan 13,8%, dari posisi 2008 masing-masing sebesar 31,6% dan 14,1%.
Dalam laporan terpisah, analis CLSA Capital Markets Nicholas Cashmore justru menilai Semen Gresik akan menghadapi keterbatasan kapasitas yang membatasi pertumbuhan laba.
"Jika semua kapasitas yang tersisa dijual di pasar domestik dan bukannya ekspor, Semen Gresik tidak akan mencatat kenaikan laba pada 2010 karena perseroan telah mencapai 100% kapasitas," ungkapnya dalam laporan riset per 11 November 2009.
Di sisi lain, lanjutnya, imbal hasil bersih (net gain) Indocement dan Holcim pada 2010 justru berpotensi menyentuh kisaran 20% dari laba 2010. Proyeksi itu dihitung berdasarkan perkiraan margin bersih sekarang dengan asumsi harga US$75 per ton.
Akibatnya, Indocement dan Holcim akan berada pada posisi yang kuat untuk memenuhi pertumbuhan permintaan semen pada 2010. "Kami memproyeksikan pertumbuhan permintaan domestik sebesar 10% untuk kedua perusahaan," ujar Nicholas.
Secara umum, CLSA optimistis memandang prospek emiten semen Indonesia. Berdasarkan anualisasi penjualan domestik Oktober, mereka memperkirakan permintaan domestik 2010 mencapai 45,6 juta ton, setara dengan kapasitas sekarang 46 juta ton.
Perusahaan sekuritas asing itu tahun lalu telah memprediksi industri semen Indonesia akan membukukan kinerja kuat pada triwulan IV dan memiliki prospek cerah pada 2010.
"Perlu dicatat bahwa pertumbuhan berasal dari konstruksi rumah dan belanja infrastruktur yang tidak disponsori pemerintah. Ekonomi masih tumbuh meski kontribusi pemerintah masih kecil di sektor infrastruktur," ujarnya.
Lebih jauh lagi, Nicholas memandang bullish sektor tersebut karena kemungkinan akan terjadi keterbatasan suplai semen pada 2011, yang berpotensi membuat Semen Gresik menjadi importir murni clinker.
Konsumsi semen per kapita di Indonesia tercatat masih terendah di Asia, yakni sebesar 160 kg per tahun. Permintaan gabungan satu dekade terakhir setara dengan 8% per tahun, didukung kecenderungan perbankan menaikkan suplai likuiditas pasar perumahan.
Harga saham
Nicholas mengakui harga saham emiten semen memang bisa dibilang mahal jika dilihat berdasarkan basis perhitungan nilai perusahaan (enterprise value/ EV) per ton. Saham semen saat ini ditransaksikan dengan EV/ton sebesar US$220-US$240.
"Posisi harga ini memang tidak murah karena biaya penggantian kapasitas baru per tahun yang bisa mencapai US$140 per ton. Namun membangun pabrik semen baru pada posisi harga sekarang tergolong masuk akal," ujarnya.
Secara esensial, lanjutnya, posisi EV/ton menginformasikan kondisi sekarang terhitung ekonomis untuk menambah kapasitas dan inilah yang dilakukan para emiten semen tersebut.