Transformasi Semen Gresik yang Mengedepankan Sinergi

Dalam mengelola perusahaan, ternyata bukan haya dibutuhkan modal keuangan yang kuat. Tapi juga keuletan dan kerja sama yang baik dari seluruh elemen tingkatan di perusahaan. Ini akan menjadi kunci sukses dari majunya sebuah perusahaan.

Seperti yang dilakukan oleh perusahaan semen terbesar di Indonesia, PT Semen Gresik Tbk. Dengan koordinasi dan sinergi yang baik dengan seluruh karyawan, perusahaan ini mampu terus berkembang dan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk Dwi Soetjipto mengatakan, saat ini kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar Rp 56 triliun. Pada 2010, laba bersih yang berhasil dibukukan mencapai Rp 3,6 triliun. Padahal pada 2004, laba bersih Semen Gresik yang terdiri dari tiga perusahaan, yakni PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, dan PT Semen Padang, hanya sekitar Rp 500 miliar.

"Kami bertekad membangun dan memajukan perusahaan dengan mengusung sinergi dengan tujuan peningkatan kapasitas produksi. Artinya, ini juga menyasar peningkatan penjualan dan pendapatan bagi perusahaan," katanya saat ditemui Suara Karya di kantornya, beberapa waktu lalu.

Proses transformasi dengan mengedepankan sinergi di lingkungan internal dan eksternal perusahaan, menurut dia, sudah dijalani dalam enam tahun terakhir. Ini menjadi salah satu kunci sukses perusahaan membangkitkan seluruh lini bisnis untuk memberikan hasil optimal.

"Kita sudah membangun pilar kekuatan di pasar domestik dan internasional. Ini semua berkat sinergi, kapabilitas dalam proses produksi, efisiensi biaya, dan optimalisasi sumber daya manusia. Yang penting, untuk jangka panjang, sumber daya manusia (SDM) di perusahaan harus berpikir maju dan tidak terkotak-kotak dalam pandangan masing-masing. "Saat ini, kita sudah lebih melebur. Kita juga mentransformasi SDM untuk mengedepankan sinergi," tuturnya.

Sebagai produsen semen terbesar di Indonesia, Semen Gresik, yang juga merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang sudah melantai di bursa saham, saat ini memiliki kapasitas produksi 20 juta ton per tahun. Penguasaan pasar semen di dalam negeri saat ini bergerak di posisi 41-45 persen.

"Pemain semen di Indonesia ada sembilan perusahaan, dan tiga di antaranya tergabung dalam Semen Gresik Group. Sebanyak enam produsen lainnya merupakan perusahaan swasta nasional, asing, dan BUMN. Kapasitas produksi semen nasional saat ini sebesar 52-54 juta ton dengan perkiraan konsumsi 41 juta ton hingga 44 juta ton per tahun. Artinya masih ada kelebihan produksi di dalam negeri sekitar 8 juta ton per tahun.

"Namun, kami memperkirakan permintaan semen akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Kita berharap, peluang peningkatan pangsa pasar di dalam negeri ini bisa dimanfaatkan produsen semen di dalam negeri, khususnya Semen Gresik. Dengan ini kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru, sekaligus mendukung kemajuan pembangunan nasional," ucapnya.

Lebih jauh Dwi mengatakan, pada 2014, kebutuhan semen diperkirakan mencapai 55 juta ton. Kondisi ini menjadikan perusahaan-perusahaan semen di Indonesia bersiap melebarkan "sayapnya" untuk membangun pabrik guna meningkatkan kapasitas produksi. Semen Gresik sendiri kini sedang membangun dua pabrik semen, sehingga pada 2014 bisa mencapai kapasitas produksi 26 juta ton. Hal yang sama juga akan dilakukan produsen semen lain yang ada di dalam negeri.

"Jadi, kalau kita lihat pa-da 2015, produksi semen nasional bisa memenuhi kebutuhan atau mengimbangi peningkatan permintaan. Bahkan ada stok di atas 10 juta ton," ujarnya.

Apalagi, hingga saat ini, menurut Dwi Soetjipto, nyaris tidak ada kendala bahan baku untuk memproduksi semen. Namun, terkait hal ini tetap diperlukan ada dukungan dari pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.

"Banyak lokasi yang bisa kita capai dan di sana terdapat bahan baku, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu panjang. Tapi, lagi-lagi dukungan kebijakan pemerintah harus ada, khususnya agar masyarakat juga bisa menerima dengan baik aktivitas perusahaan untuk mengeksplorasi dan memproduksi bahan baku semen menjadi produk jadi," katanya.

Dwi juga berharap pemerintah bisa menjamin pasokan energi untuk opera-sional pabrik semen. Ini dikarenakan kebutuhan energi untuk memproduksi semen tergolong tinggi, khususnya batu bara dan listrik.

Dari komposisi biaya, untuk pengadaan energi sebesar 40 persen dalam struktur biaya operasional, untuk pengadaan batu bara sebesar 30 persen, dan energi listrik 10 persen. "Jadi, energi memang memegang peranan penting dalam memproduksi semen," tutur Dwi Soetjipto.
Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy