Perusahaan Jatim Ditantang Go Public

BURSA Efek Indonesia (BEI) menantang perusahaan di Jatim untuk berani go publik dengan mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Dengan menjual sahamnya ke publik, perusahaan akan lebih mudah mendapatkan pendanaan untuk melakukan ekspansi.

“Perusahaan juga akan menjadi lebih transparan. Tata kelola perusahaan akan menjadi lebih baik,” ujar Dirut BEI Ito Warsito seusai membuka acara Investor Summit and Capital Market Expo 2010 di Gramedia Expo, Surabaya, Kamis (18/11/2010).
 
Ito mengatakan, masih banyak perusahaan besar di Jatim yang belum mau atau enggan melepas sahamnya ke publik. Padahal, mereka sebenarnya sangat layak untuk melantai di bursa saham. Kelayakan itu antara lain dilihat dari kinerja keuangan yang bagus. “Misalnya Bank Jatim itu sangat layak. Kita tunggu Bank Jatim, biar menyusul Bank Jabar Banten yang sudah go public,” kata Ito.
 
Sejumlah perusahaan di Jatim yang saat ini sudah menjadi emiten, antara lain, PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Surya Intrindo Makmur Tbk (SIMM), PT Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII), PT Surabaya Agung Industry Tbk (SAIP), PT Sekar Bumi Tbk (SKBM), PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI), PT Lamicitra Musantara Tbk (LAMI), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Suryainti Permata Tbk (SIIP), PT Sekar Laut Tbk (SKLT), PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON), PT Trias Sentosa Tbk (TRST), PT Kedawung Setia Industrial Tbk (KDSI), dan PT Siantar Top Tbk (STTP).

“Jika perusahaan-perusahaan di Jatim mau IPO itu juga terkait erat dengan perekonomian Jatim. Mereka mendapatkan modal untuk digunakan berekspansi ke Jatim. Otomatis perekonomian Jatim bisa semakin bergerak ke arah yang lebih bagus,” ujarnya. Ito menambahkan, selama ini terkesan ada hambatan kultural di tubuh perusahaan yang membuat mereka berpikir dua kali sebelum masuk ke bursa saham. Salah satu diantaranya adalah perusahaan milik keluarga yang masih enggan sahamnya dimiliki oleh publik.

Menjanjikan

Kinerja pasar modal Indonesia paling menjanjikan dibanding bursa saham lainnya di dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Para investor lokal diharap terus meningkatkan investasinya agar madu bursa saham tanah air tidak hanya dinikmati pemodal asing.
 
“Tahun ini Indeks Harga Saham Ganungan sudah meningkat 4%. Sejak 2002 kenaikan harga saham mencapai 8 kali lipat. Padahal, masih ada beberapa bursa saham di kawasan Asia yang terus tertekan sejak krisis 2008 dan 2009 lalu. Pokoknya asalkan horizon kita jangka panjang, pasti untung,” ujar Direktur PT Schroders Investment Manegement Indonesia Michael Tjoajadi dalam sesi seminar di acara Investor Summit and Capital Market Expo 2010 di Gramedia Expo, Surabaya, Kamis (18/11/2010). Seminar dimoderatori oleh Pemimpin Redaksi kabarbisnis.com Lutfi Hakim.
 
Michael mengatakan, saat ini Indonesia adalah pasar terfavorit bagi investor global. Beberapa hasil riset lembaga finansial dunia menunjukkan hal tersebut. Misalnya, CLSA menyebut Indonesia bagian dari tiga besar masa depan Asia bersama China dan India. Morgan Stanley juga menyebut Indonesia sebagai negara baru yang layak masuk kelompok BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China). “Deutsche Bank menyebut Indonesia sebagai Brazil-nya Asia,” jelasnya.
 
Saat ini, kata dia, fokus investor global adalah Indonesia dan Vietnam. Dua negara tersebut adalah negara berkembang yang paling menjanjikan dibanding negara-negara lain, seperti Thailand, Malaysia, atau Filipina.
 
Hanya saja, investor global kini cenderung meragukan Vietnam karena defisit fiskal di negara tersebut sangat besar, mencapai 7%. Itu berarti melebihi konsensus aman defisit sebesar 3%.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy