Meski beberapa pabrikan semen sudah menunjukkan sinyal akan menaikkan harga pada kwartal I tahun depan, kelompok produsen semen terbesar di Indonesia, PT Semen Gresik Tbk (SG), belum berniat melakukan kebijakan serupa. Direktur Utama Semen Gresik, Dwi Soetjipto, mengatakan, sampai saat ini belum ada keputusan untuk menaikkan harga jual semen di pasaran.
“Sementara ini perseroan belum ada rencana menaikkan harga. Meski demikian, kami terus melihat beberapa aspek penting yang bisa mendorong kenaikkan harga,” kata Dwi seusai paparan emiten pada Investor Summit and Capital Market Expo 2010 di Gramedia Expo, Surabaya, Kamis (18/11).
Beberapa waktu lalu, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk produsen Semen Tiga Roda menyatakan akn menaikkan harga jual semennya di awal tahun depan. Meski pesaingnya itu sudah berancang-ancang menaikkan harga, SG diperkirakan masih akan bertahan dengan harga yang sekarang ada di pasaran yakni di kisaran Rp 45 ribu per sak.
Dwi mengatakan, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kenaikan harga semen. Diantaranya biaya produksi dan daya beli masyarakat. Selain itu, persaingan dengan kompetitor juga bisa mendorong kenaikan harga.
Sementara itu, untuk pengembangan ke depan, Semen Gresik membidik pasa Kalimantan dan Sulawesi serta Indonesia bagian timur untuk memasarkan produknya. Dari hasil riset yang mereka lakukan, pertumbuhan permintaan semen di wilayan Indonesia bagian timur akan mengalami kenaikan signifikan. Di Kalimantan misalnya, dalam 10 tahun mendatang, diperkirakan kebutuhan semen akan mencapai 8 juta ton per tahun, dan pada 2030 akan melonjak menjadi 20 juta ton atau meningkat hingga lebih dari 600%