Pesona sektor semen belum memudar. Laporan keuangan yang dirilis dinilai cukup menakjubkan karena mampu memcatatkan margin laba di tengah tingginya harga komoditas. Hal ini ditambah rencana pemerintah fokus pada sektor infrastruktur.
Analis eTrading Suryadi Chandra Kasih memberi rating overweight pada sektor semen dan menaikkan target harga sekitar 15-30% pada ketiga produsen semen terbesar di Indonesia, yakni PT Holcim Indonesia (SMCB), PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dan PT Semen Gresik (SMGR).
“Kami menaikkan target harga karena pulihnya sentimen pasar dan pasar domestik yang menjadi katalis keuntungan industri semen Indonesia di masa krisis,” ujar Suryadi, dalam risetnya, kemarin.
Suryadi menjadikan SMCB dan SMGR sebagai saham favorit dengan rekomendasi beli. Adapun target harga untuk SMGR dan SMCB 12 bulan ke depan masing-masing di level Rp 7.100 dan Rp 1.700.
Sementara target harga INTP adalah Rp 8.900. “Rating INTP kami pertahankan pada level netral karena harganya menjadi sedikit lebih mahal setelah reli baru-baru ini,” imbuhnya.
Revisi rating dari konservatif menjadi netral terhadap sektor semen, dilakukan seiring pemulihan sentimen pasar. Namun, ia meyakini akan segera mengubah rekomendasi menjadi bullish setelah realisasi infrastruktur menunjukkan perubahan.
Pada semester I 2009, ketiga produsen semen mencatatkan kenaikan pendapatan, dimana SMGR naik 19%, INTP 7%, dan SMCB 15%. Peningkatan kinerja ini ditopang harga penjualan, dimana pendapatan SMGR dan INTP cukup baik.
Sedangkan SMCB dipengaruhi beban bunga setelah restrukturisasi besar-besaran tahun ini. “Laba SMCB tertekan setelah perusahaan merestrukturisasi utangnya, namun kita belum tahu pasti pengaruh dari bunga utang tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, kendati volume menurun dan permintaan semen Indonesia minus 8% harga jual rata-rata tetap tinggi dilihat secara tahunan dan sedikit turun untuk per kuartalan di tengah krisis global. Pertumbuhan secara kuartalan dipimpin SMGR (-1%), diikuti INTP (-7%) dan SMCB (-6%).
Hal ini menunjukkan kuatnya permintaan di luar Jawa dan harga jual yang terjaga di level tinggi. “Untuk masa mendatang, kami menyukai katalis di pulau Jawa, terkait belanja infrastruktur pemerintah yang akan mengalir deras,” paparnya.
Permintaan dalam negeri dan bisnis yang hampir oligopolistik (90% dikuasai tiga pemain besar) menjadikan perusahaan semen dominan, terutama pasar yang digerakkan permintaan domestik seperti Indonesia.
Laporan semester pertama 2009 juga akan memberi katalis Indonesia sebagai pemain pasar lokal dan terkorelasi infrastruktur yang paling di unggulkan. “Apalagi semen adalah bahan dasar dari pertumbuhan infrastruktur,” imbuhnya.
Menurut Suryadi, margin operational industri semen sangat menakjubkan. Meskipun harga energi seperti batu-bara masih tinggi, namun perusahaan mampu meningkatkan margin laba.
“Harga jual yang tinggi serta efisiensi biaya ini di luar ekspektasi kami. Tapi kami lebih optimistis pada kuartal keempat 2009 dan 2010, karena perseroan akan menikmati tingginya permintaan dan inflasi akibat perbaikan marjin pendapatan,” imbuhnya.
Sementara analis Samuel Sekuritas Sonny John lebih menyukai saham SMCB. Ia pun memberi rekomendasi hold SMCB, mengingat sejak awal Maret 2009, emiten ini sudah naik 179% (outperformed) dengan beta & leverage tinggi, baik operating leverage maupun financial leverage.
“Kami rekomendasikan hold dengan target harga dinaikkan dari Rp 970 menjadi Rp 1.300 per saham,” katanya, seperti terungkap dalam risetnya. Menurutnya, target harga Rp 1.300 per saham, mentranslasikan price earning (P/E) 2010 sebesar 12 kali. Saat ini, SMCB diperdagangkan pada P/E 2010 sebesar 13,3 kali. Angka ini di atas PE INTP yang mencapai 12,3 kali dan SMGR sebesar 9,4 kali.
Pada semester pertama 2009, pendapatan, laba kotor dan laba operasional SMCB meningkat masing-masing 15%, 23% dan 53%. Namun secara kuartalan, EBITDA relatif flat karena naiknya kontribusi dari penjualan klinker. Laba bersih turun 18% menjadi Rp 231 miliar karena peningkatan beban bunga sebesar 300%. “Kinerja Holcim didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata, sama dengan produsen semen lainnya,” imbuhnya.
Secara tahunan laba operasi SMCB meningkat paling besar dibanding SMGR dan INTP karena operating leverage yang lebih tinggi dan utilisasi pabrik yang paling rendah. Perseroan mengoptimalkan utilisasi pabrik dengan mencari pasar baru di luar negeri (ekspor). Hal ini dilakukan di tengah penurunan permintaan dalam negeri. Alhasil, SMCB pun berhasil mencatat pertumbuhan volume ekspor semen. Namun, EBITDA margin perseroan turun, paling rendah dibanding yang lainnya, karena harga jual ekspor yang lebih rendah. “Pada kuartal dua, EBITDA SMCB mencapai 27.9%, bandingkan dengan INTP sebesar 39.3% dan SMGR sebesar 32.6%,” paparnya.