Gresik, 09 Januari 2012 – Pertumbuhan pembangunan infrastruktur nasional adalah salah satu peluang bagi PT Semen Gresik (Persero)Tbk untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan dibidang persemenan yang dinamis dan progressif , sehingga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perusahaan mengadakan agenda Rapat Kerja Tahunan perusahaan (RAKER) yang berfungsi untuk meriview kinerja perusahaaan tahun lalu dan meningkatkan kinerja perusahaan yang progressif ditahun depan. Acara RAKER tersebut akan diadakan pada tanggal 09 Januari 2012 di Gedung Pusat Penelitian Semen (PPS) yang diahadiri oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan dan jajaran PT Semen Gresik.
Saat ini perekonomian mengalami ketidakpastian dengan krisis ekonomi Eropa terus berlanjut hal ini memberikan pengaruh bagi penurunan ekspor secara terus-menerus. Jika penurunan ekspor terjadi maka kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang dari 2 (dua) sektor utama yaitu konsumsi & investasi. Proyek infrastruktur yang menjadi prioritas pada Master Plan Percepatan Pembangunan Infrastruktur (MP3EI) diharapkan mampu menjadi akselerator bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2012.
Dalam hal ini pemerintah menaikkan belanja infrastruktur pada tahun 2012 menjadi Rp 143 triliun atau meningkat 13,5% dibandingkan tahun 2011, untuk tahun 2012 akan ada tambahan anggaran SAL 2011 yang dialokasikan untuk infrastruktur sebesar Rp 40 triliun. Ini menjadi harapan baru bagi pertumbuhan semen di tahun 2012 yang diharapkan dapat tumbuh lebih tinggi dibandingkan perkiraan dari Asosiasi Semen Indonesia sebesar 6,0%.
Pembangunan infrastruktur dipulau Jawa tahun 2011 lebih gencar dibanding luar Jawa memberikan kontribusi kenaikan konsumsi semen di Jawa lebih tinggi dibandingkan luar Jawa. Pertumbuhan penjualan PT Semen Gresik di Jawa pada periode Januari-Nopember 2011 mencapai 21% atau diatas pertumbuhan rata-rata perusahaan secara nasional 17,8%. Pendapatan perkapita masyarakat Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp 34 juta/kapita (setara US$ 3.770 /kapita) meningkat 25% dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp 27 juta (setara US$ 3.000/kapita). Sektor retail (rumah tangga) sangat penting, karena 79% konsumsi semen diserap oleh sektor retail. Peningkatan ini turut mendorong kenaikan belanja masyarakat termasuk diantaranya peningkatan konsumsi semen per kapita.
Salah satu kunci bagi perusahaan untuk bertahan ditengah persaingan bisnis adalah mampu melakukan efisiensi biaya. Maka dibenak pikiran seluruh karyawan SGG disemua tingkatan adalah “nothing stop process”, yang akan memicu setiap karyawan untuk senantiasa melakukan perubahan yang lebih baik. Untuk itu kinerja SGG selama 5 (lima) tahun terakhir sangat menggembirakan dan menunjukkan keberhasilan dari sinergi operasional yang dilaksanakan SGG :
Revenue meningkat 64% dari Rp 8,728 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 14.344 triliun pada tahun 2010, Gross profit meningkat 105% dari Rp 3,328 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 6.810 triliun pada tahun 2010, Operating profit meningkat 122% dari Rp 2.234 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 4.970 triliun pada tahun 2010, EBITDA meningkat 152% dari Rp 1.779 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 4.489 triliun pada tahun 2010, Net Profit meningkat 180% dari Rp 1.296 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp 3.633 pada tahun 2010
Keberhasilan sinergi operasional mampu meningkatkan pertumbuhan net profit 3X lebih tinggi dibanding pertumbuhan pendapatan. Sedangkan jika dilihat dari semenjak dicanangkannya sinergi SGG, maka dalam waktu 10 tahun terjadi peningkatan keuntungan dari sekitar Rp 300 miliar menjadi lebih dari Rp 3,6 triliun (12X lipat). Pada tahun 2011 revenue SGG menembus Rp 15 triliun dan diperkirakan net profit mencapai Rp 3,9 triliun.
SGG memproyeksikan kebutuhan semen di Indonesia akan tumbuh rata-rata pertahun 6,5% sehingga pada tahun 2015 kebutuhan semen mencapai 56 juta ton/tahun. Sehubungan dengan peningkatan anggaran infrastruktur Pemerintah dalam rangka MP3EI serta peningkatan predikat investment grade, kebutuhan semen nasional dapat mencapai 60 juta ton/tahun. Untuk mempertahankan pangsa pasar sebesar 43% maka perseroan sudah memiliki rencana jangka panjang peningkatan kapasitas terpasang SGG tahun 2015 sebesar 30 juta ton/tahun.
Dirut PT Semen Gresik Dwi Soetjipto menuturkan “ Pada tahun 2012 ini, perusahaan akan fokus pada penguatan inovasi disegala lini dan meningkatkan sinergi operasional dilingkup SGG dan anak perusahaan. Pondasi sinergi yang sudah dibangun, secara fisik maupun non fisik akan ditingkatkan intensitas dan kualitas koordinasi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Semen Gresik akan fokus untuk meningkatkan penjualan, revenue dan EBITDA. Untuk meningkatkan kapasitas, Semen Gresik sedang melakukan proses studi kelayakan dan AMDAL pembangunan pabrik baru yang berlokasi di Jawa Tengah, untuk mempersiapkan kebutuhan semen pada tahun 2015”. Sehingga tahun 2012 adalah momentum bagi Semen Gresik untuk tumbuh lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan kompetitor untuk mendukung upaya Semen Gresik menjadi perusahaan semen terkemuka di Asia Tenggara.