SG Diuntungkan Lonjakan Permintaan dari Luar Jawa

Saham sektor semen mendapat penilaian overweight. Salah satunya didukung peningkatan konsumsi domestik pada kuartal tiga tahun 2011.

Analis Kim Eng Securities, Lucky Ariesandi, mengatakan, meski saat ini perusahaan semen menghadapi tantangan dari meningkatnya biaya energi dan persaingan dengan pemain baru. Namun, data penjualan sektor semen selama 9 bulan pertama 2011 terlihat sangat solid. "Setelah turun tajam pada Agustus karena Lebaran dan puasa, penjualan semen bangkit pada bulan lalu," katanya.

Seperti diketahui, tingkat konsumsi semen pada kuartal tiga mencapai 34,3 juta ton, pertumbuhan sejak awal tahun (Ytd) tertinggi tahun ini sebesar 16,3%. Sedang tingkat konsumsi semen domestik di Indonesia pada September mencatatkan kenaikan 50% menjadi 3,84 juta ton dibanding periode yang sama 2010 (YoY). Hal ini karena dalam 3 tahun terakhir, libur Lebaran jatuh di bulan September.

Sementara itu, secara MoM, konsumsi semen domestik di bulan September naik 6,6%, seiring mulai meredanya efek libur Lebaran di akhir Agustus. Menurutnya, tahun ini, Lebaran jatuh pada Agustus 2011, sedangkan tahun lalu pada September. "Saat Lebaran, hari kerja lebih pendek. Selain itu, truk pengangkut semen dilarang melintas di jalan raya selama sepekan sebelum dan sesudah Lebaran,” paparnya.

Adapun ekspor semen anjlok 55% menjadi 947 ribu ton, karena produsen fokus memenuhi permintaan domestik yang sangat kuat didorong oleh suku bunga rendah dan lonjakan penjualan sektor properti.

Pulau Jawa pun masih menjadi motor penjualan semen domestik, di mana selama sembilan bulan 2011, penjualan semen di Jawa naik 19%. "Kami kira penjualan sampai akhir tahun bisa tumbuh 11%," kata Lucky.

Sebelumnya, Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menaikkan target penjualan semen domestik tahun ini menjadi 10% dari sebelumnya 6%, seiring tingginya realisasi penjualan. "Betul, target sudah kami revisi menjadi 10%," ujar Ketua ASI Urip Timuryono.

Adrianus Bias dari Samuel Sekuritas juga memberi penilaian positif pada sektor semen. Secara historis, konsumsi semen di kuartal empat memang relatif lebih tinggi. Bahkan seringkali mencetak level tertinggi pada Desember, seiring eksekusi belanja infrastruktur pemerintah. Sedang efek musim hujan secara historis baru terasa di awal tahun. "Maintain overwwight untuk sektor semen," ujarnya.

Ia pun memperkirakan, permintaan domestik pada kuartal empat 2011 bisa mencatatkan pertumbuhan double digit atau sekitar 12-14%. Hal ini didorong percepatan eksekusi belanja pemerintah, yang juga akan meningkatkan konsumsi semen di luar Jawa. "Dengan pencapaian konsumsi domestik di bulan September yang telah mencapai 78% dari target awal, sangat mungkin pertumbuhan konsumsi domestik 2011 mencetak double digit growth," paparnya.

Adrianus melihat Semen Gresik (SMGR) akan paling diuntungkan dengan kenaikan pemintaan di luar Jawa serta optimalnya utilisasi produksi perseroan setelah pemeliharaan pabrik.

 

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy