SG Lebih Optimis Dibanding Ekonom

Dibalik permasalahan selalu ada jawaban, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan dibalik persoalan selalu ada hikmah. Prinsip optimisme itu ditekankan Dirut Dwi Soetjipto saat upacara 7 Agustus 2009 yang merupakan puncak dari serangkaian peringatan HUT SG ke 52 yang  diselenggarakan di Pabrik Tuban.

Patut disyukuri, tandas Dwi, karena perusahaan tidak hanya mampu melewati kesulitan di masa krisis, yang selama ini menerpa perekonomian Indonesia dan dunia.  Meski krisis belum selesai ternyata pilihan langkah yang ditempuh SG telah memberikan hasil yang baik. ”Alhamdulillah kita bisa bertahan dalam melewati halangan itu dan bisa terus tumbuh dan berkembang,” ujarnya. Sekali lagi, ujarnya, di HUT SG ke 52 ini merupakan momentum bagi perusahaan untuk mengevaluasi diri apa yang sudah dijalankan dan menyusun langkah-langkah strategis menghadapi situasi krisis yang belum selesai.
 
Pentingya efisiensi menjadi perhatian khusus Dirut, sehingga statement ini berulang kali disampaikan, hal ini tidak lain bertujuan agar bisa menjadi mindset seluruh pegawai.  Efisiensi ini bisa dijalankan di berbagai lini, misalnya saja dalam hal pemakaian bahan bakar, transportasi, dan juga sektor pemeliharaan terutama dalam hal recovery peralatan. Tidak hanya itu, dalam masa sulit tersebut, berbagai pihak telah memberikan apresiasi, atas produktivitas, efisiensi, utilisasi dan hari operasi tanpa stop terpanjang sebagai prestasi Pabrik Tuban yang perlu dipertahanakan dan ditingkatkan lagi. Sehingga selama ini pabrik Tuban masih menjadi acuan sebagai pabrik terbaik tidak hanya dari grup tapi juga secara nasional.   
 
Sedangkan Komut SG Deddy Aditya Sumanagara mengingatkan, ”Jangan ada yang merasa puas dengan prestasi yang  kita raih selama ini, apalagi sampai terlena, harus ada perbaikan berkesinambungan agar kita tidak ketinggalan dari perusahaan lain sehingga tetap bertahan seterusnya.” Fokus perusahaan ke depan, dalam menghadapi krisis global yang belum selesai, kemungkinan besar adalah demand yang akan tertekan, oleh karenanya harus lebih fokus pada aspek biaya; ”Manajemen biaya harus  menjadi prioritas yang utama,” tegasnya.
 
Tanda-tanda positif mengenai prospek industri semen di tahun ini dan 2010 mendatang, menurut ekonom Faisal Basri, sejak Mei 2009, perkembanganya akan cenderung positif. “Juli lebih ’kenceng’ melampaui posisi tertinggi tahun lalu,” tegasnya.  Intinya masih ada sisa semester kedua minus bulan Ramadhan, demikian seperti diungkapkan dalam seminar dengan 3 pembicara pada 6/8/09 di gedung PPS Gresik.  Sektor properti dan infrastruktur trendnya terus akan meningkat, karena sektor ini sama dengan jamu dan rokok kretek, orientasi pasarnya domestik dan kandungan impornya relatif rendah.   Selain berbagi pandangan positif dari Faisal yang muncul dalam situasi krisis, perusahaan juga perlu memperhatikan uraian GCG dan CSR yang di presentasikan Mas Achmad Daniri dalam forum yang sama.  Intinya, penerapan GCG dan CSR hakekatnya berbisnis dengan tujuan maksimal untuk meraih keuntungan yang berkelanjutan.  Karena CSR bukan semata-mata biaya, atau terbatas pada ketaatan terhadap peraturan, melainkan sebuah investasi yang terkait dengan bisnis inti dan merupakan bagian dari rencana strategis.
 
Forum ilmiah tersebut menjadi semakin lengkap dengan sajian rohani yang di paparkan oleh Kapoda Jatim, Anton Bahrul Alam yang terkenal komit untuk mengajak bawahannya kepada kebaikan.  Sambil mengutip Al Quran surat 103 Al Ashr, Anton menghimbau kepada jajaran Komisaris dan Direksi SGG, serta tenaga pimpinan lainnya untuk berlaku baik bagi dirinya, namun berdakwah untuk kebaikan lingkunganya.  ”Berlaku baik untuk diri kita sendiri saja tidak cukup, apalagi kita diberi amanah sebagai pemimpin, mari kita manfaatkan untuk mengajak bawahannya  kepada kebaikan,” jelasnya.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy