“SG-RCM adalah salah satu metode untuk membantu menentukan strategi pemeliharaan yang tepat berupa perencanaan aktivitas pemeliharaan pada suatu peralatan guna memastikan keberlangsungan fungsi peralatan agar tercapai operasi yang efektif dan efisien dalam mencapai target perusahaan”.
Sebagai bentuk keseriusan penerapan sistem RCM di Semen Gresik, bertempat di Tanjung Kodok Beach & Resort (WBL-Lamongan) pada 29-30 April 2009 berlangsung Workshop RCM-SG. “Workshop ini selain untuk me-refresh implementasi RCM juga sebagai pengembangan model dari Raw Mill Tuban # 3 ke area yang lebih luas yaitu Tuban # 1, Tuban # 2,” kata Heru Sasono, TPM Promotor pada suatu kesempatan (4/5).
Workshop ini diikuti oleh 19 peserta yang terdiri dari 17 personil dari Semen Gresik, 2 orang dari Semen Tonasa. Ditambah 3 personil dari SG yang bertindak sebagai guide yaitu Heru Sasono, Rudhy Rianto Setiawan dan Martanus Sanjaya, dengan trainer Singgih Widayat plus 1 orang konsultan dari SKF.
Pada sesi pembukaan, Koordinator Project, Martanus Sanjaya, yang juga Kabag. Produksi Terak saat itu lebih menekankan pada pentingnya RCM sebagai tool untuk mencapai tujuan. ”Karena kedepan target perusahaan yang dibebankan pada kita semakin tinggi, maka penerapan RCM adalah mutlak”, begitu penekanannya. ”Bukan saja target produksi tapi juga KPI,” tambah Sanjaya.
Hal senada juga disampaikan Rudhy Rianto Setiawan, Project Champion RCM, dia mengharapkan dengan penerapan RCM secara mutlak, nantinya tidak akan ada lagi ’grey area’. ”Karena selama ini kadangkala masih ada sebuah peralatan yang tanggung jawabnya terkesan tumpang tindih, tidak jelas”. Jadi, tambahnya, nantinya diharapkan tidak ada lagi daerah abu-abu karena tim yang terlibat mempunyai area dan tanggung jawab yang sama.
Di tempat yang sama Singgih Widayat, saat presentasi menjelaskan secara riil tentang evaluasi sebelum dan sesudah di-implementasi-kannya RCM, juga disampaikan beberapa review task untuk pengembangan kedepan di Tuban#1 dan Tuban#2. Disebutkan Singgih, jumlah critical dan non critical equipment ada 595, yang terdiri dari 197 equipment critical dan 398 equipment non critical. Disampaikan pula, review task yang harus dikerjakan pada area Raw Mill Tuban#1 adalah sebanyak 2.242 task yang dibagi menjadi 7 kategori yaitu operasi, instrument, utilitas, mekanik, elektrik, P3 dan PdM.
Selain itu, disepakati juga beberapa item yang merupakan penyempurnaan dari penerapan sebelumnya yang meliputi penyeragaman nama equipment, task detail untuk Electrical Room (ER), UK penanggung jawab emergency button dan penyesuaian-penyesuaian lainnya yang bermuarakan pada ke-efektifan sebuah pekerjaan.
Mengenai ke-efektifan dan ke-efisienan sebuah pekerjaan, Heru menambahkan, bahwa nantinya tim akan dilengkapi dengan peralatan yang fungsinya mirip barcode di supermarket. “Jadi kita tinggal klik pada barcode pada equipment dan meng-klik isian yang ada, secara otomatis informasi yang di-entry-kan akan terintegrasi secara online ke sistem,” pungkas Heru menutup pembicaraan.