Usai menyampaikan khutbah nikah, dua penghulu yang dipimpin Mahfud Hasan, KUA Kebomas Gresik di dampingi 2 orang saksi secara berkelanjutan menikahkan 25 pasangan dalam prosesi pernikahan massal yang digelar SG pada 31 Maret 2009 di lapangan tennis indoor SG Gresik. Selanjutnya 25 pasangan dari Gresik bergabung dengan 125 pasangan dari Surabaya untuk perjalanan kirab dengan bis melintasi perumahan dinas Segunting. Pasangan manten massal ini turun di depan SMA SG dengan diiringi musik hadrah, diarak menuju gedung Wisma A Yani untuk acara resepsi.
Suasana resepsi pernikahan berlangsung meriah, karena setiap pasangan mengenakan pakaian baru: jas hitam, sarung dan kebaya warna-warni serta diawali dengan persembahan tari Karonsih dan hiburan musik karawitan serta campursari Setyo Laras dari Gresik. disaksikan keluarga pengantin. Pesta pernikahan semakin khidmat karena disaksikan Bupati dan Wabup Gresik, para tenaga pimpinan SG, Kepala Kantor Urusan Agama, Camat, Lurah, Muspida Gresik dan Muspika setempat, keluarga pengantin, serta masyarakat yang menyaksikan.
Maksud dari nikah massal seperti yang selenggarakan SG, kata Robbach Maksum Bupati Gresik guna meningkatkan status hukum pernikahan agar sah menurut agama dan pemerintah. Bupati sangat mendukung dan senang dengan kegiatan SG selama ini, ia berharap agar SG terus berinisiatif dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya agar citra kabupaten Gresik bisa lebih baik. “Mudah-mudahan menjadi keluarga yang harmonis, bahagia dunia dan akhirat,” harapnya.
Saifuddin Zuhri dalam sambutannya mewakili Direksi mengatakan, bagi SG kegiatan ini merupakan kegiatan pertama kalinya sekaligus terbesar dalam acara yang sama yang pernah digelar. Oleh karenanya sebuah pengalaman berharga bagi SG karena kegiatan ini tidak semudah menggelar khitanan massal. ”Mudah-mudahan dapat meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar, utamanya kepada pasangan pengantin yang belum resmi secara hukum,” ungkapnya.
Tujuan utama acara ini ujar Faf Adisamsul Kabag PKBL merupakan bentuk nyata kepedulian perusahaan untuk mengangkat harkat dan martabat anggota masyarakat yang memerlukan perhatian, untuk meningkatkan statusnya. ”Rencananya penyelenggaraan nikah massal digelar pada 4 Desember 2008, namun sempat mundur, karena jumlah peserta belum memenuhi dan akhirnya sekarang baru bisa diselenggarakan, SG “mantu” 150 pasang,” ujar Djatmiko ketua Panitia.
Sementara itu KH Mukhtar Djamil dalam nasehatnya kepada 150 pasangan, ”Perkawinan bukan bertujuan untuk mencari kesenangan nafsu dan kemewahan duniawi. Jangan mencari kepuasan, sebab kepuasan tempatnya di akhirat nanti.” Kebahagiaan dimulai dari perkawinan yang benar dan sah. Rumah tangga yang dimulai dari perkawinan yang sah secara agama dan benar secara pemerintah akan menghasilkan keluarga yang Sakinah, Salamah dan Saadah. ”Ayem dan tentrem, selamat dan bejo dunia dan akhirat,” jelasnya.
Sejak subuh kesibukan ratusan perias dan asistennya dari paguyuban perias Surabaya dan Gresik dengan seluruh perlengkapannya sudah siap mendadani para pengantin di gedung Sarana Olahraga Semen Gresik dan dikoordinir oleh ANTEBU Surabaya yang merupakan mitra SG dalam even ini. Sementara bus-bus penjemput rombongan penganten dan keluarganya sudah berkumpul di Islamic Center dan Masjid Al Akbar Surabaya. Sementara 24 pengantin dari desa yang agak jauh dari Semen Gresik diinapkan di sebuah hotel di Gresik agar tidak terjebak kemacetan lalulintas.
Peserta nikah massal tertua adalah pasangan Imam Suwandi (65 tahun) dan Tumijah asal Tambak Sari Jayabakti Sukomanunggal Surabaya, sedangkan pasangan termuda Adi Suprijono (21 tahun) dan Sistiani asal Wonocolo, Surabaya. Peserta dari Surabaya lainnya diantaranyanya berasal Kenjeran, Semampir, Wonokusumo, Sawahan, Putatjaya, Bulakbanteng, Kedurus, Tegalsari, Pegirian, Wonosaritegal, Ujung, Tambaksari, Gundih Lapangan, Dupak Magersari, Bubutan, Krembangan dan Kemayoran, Surabaya. Peserta dari Gresik berasal dari Kedamean, Balongpanggang, Manyar, Kebomas, Cerme dan Kecamatan Gresik.