PT Semen Gresik Tbk (SMGR) melebarkan sayap bisnis ke kawasan Timur Indonesia. Produsen semen pelat merah itu berniat membangun pabrik pengepakan alias packing plant di Papua.SMGR menilai, pembangunan packing plant di Papua tersebut perlu untuk menghemat biaya pendistribusian semen di wilayah Timur Indonesia. Dalam hitungan SMGR, nilai proyek tersebut mencapai US$ 10 juta.
Agung Wiharto, Investor Relation Manager SMGR, mengemukakan, selama ini perusahaan menghadapi kendala dalam mendistribusikan semen ke wilayah Timur Indonesia, khususnya Papua. Biaya transportasi yang tinggi dan resiko selama perjalanan menyebabkan harga semen di Papua melambung.
Saat ini SGMR menguasai 60%-70% pangsa pasar semen wilayah Timur Indonesia, yang meliputi Nusa Tenggara, Papua dan Maluku. Di pasar ini, SMGR menjual produk secara langsung serta melalui anak usahanya, yaitu PT Semen Tonasa, yang berlokasi Biringere, Pangkep, Sulawesi Selatan.
Sejatinya, konsumsi semen di kawasan Timur relatif kecil dibandingkan kawasan lain di Indonesia. Sepanjang 2009, konsumsi semen nasional terbesar masih dikuasai Pulau Jawa, dengan porsi pasar besar 55%. Posisi kedua diduduki Sumatera 23%, Sulawesi dan Kalimantan masing-masing 6%. Selanjutnya, Nusa Tenggara, Papua dan Maluku sebanyak 10%.
Berdirinya packing plant di Papua akan memudahkan pendistribusian semen SMGR. Nantinya, semen duangkut dari pabrik Semen Tonasa berbentuk semen curah menuju packing plant di Papua. Dari sini, semen akan ditampung dan dibungkus.” Dengan proses pengantongan di Papua, risiko kerusakan barang lebih rendah,” kata Agung.
SMGR masih mengkaji lokasi persis dan jadwal pembangunan packing plant di Papua. Saat ini, manajemen masih fokus pada pembangunan pabrik baru di Tonasa, Sulawesi Selatan dan Tuban, Jawa Tmur. Masing-masing pabrik memiliki kapasitas 2,5 juta ton semen per tahun.
Sepanjang 2009, SMGR mengantongi laba bersih Rp 3,33 triliun, atau tumbuh 33% dari realisasi 2008. Kenaikan laba itu sejalan dengan peningkatan pendapatan sebesar 18% menjadi Rp 14,39 triliun.