Kegiatan Produksi memang tak bisa lepas dari kebutuhan energi. Beban ini ujungnya akan berimbas pada laba perusahaan.
Demi menjaga beban energi perusahaan, PT. Semen Gresik Tbk (SMGR) memilih terjun ke industri batubara. Dana yang disiapkan perusahaan untuk mengakuisisi tambang batubara di Kalimantan sebesar Rp 1 triliun.
"Dalam satu - dua tahun mendatang, rencana SMGR mengakusisi perusahaan tambang batubara di Kalimantan akan terealisasi," ucap Budi Rustanto, Analis Valbury Asia Securities.
Menurut Budi, rencana SMGR penting untuk memastikan kelancaran pasokan batubara. "Jika akuisisi ladang terlaksana, SMGR dapat memenuhi kebutuhannya sendiri," ujar dia.
Kebutuhan energi SMGR memang bakal meningkat, seiring dengan pembukaan dua fasilitas produk baru yang berlokasi di Tuban, Jawa Timur dan Tonasa, Sulawesi Selatan. Setiap pabrik diperkirakan 2,5 juta ton per tahun.
Dua pabrik ini ditargetkan beroperasi pada Januari dan April 2012. Setelah itu, SMGR juga masih akan membangun pabrik baru di Padang dan Jawa Tengah.
Menurut catatan Chandra S. Pasaribu, analisis Danareksa Sekuritas, SMGR memang menggunakan batubara sebagai energi utama. Sejak 2009, SMGR mencoba memanfaatkan biomass untuk memenuhi kebutuhan energi. Namun penggunaan energi ini tidak signifikan, karena hanya setara 62.500 ton batubara, atau 2% dari total konsumsi.
Adrianus Bias Prasuryo analis Samuel Sekuritas mengatakan, SMGR cukup berhasil menekan strategi efisiensi biaya untuk menekan lonjakan harga energi dan listrik. Post cost of goods manufactured (COGM) semester I relatif flat, padahal harga batubara dan listrik naik 27% dan 12% year on year.
SMGR kini membangun PLTU untuk memenuhi kebutuhan pabriknya. Di Tuban, SMGR mulai mengoperasikan pengolahan (mill) batubara untuk mengganti kebutuhanke batubara rendah kalori.
Pasar Mengecil
Menurut Budi, kinerja keuangan pada semester I-2011 SMGR cukup baik, dengan kenaikan laba bersih sebesar 15,1% menjadi Rp 1,89 triliun. Pendapatan juga tumbuh 14% menjadi Rp 7,61 triliun.
Hanya saja, pangsa pasar SMGR turun dari 42,7% menjadi 40,8%. Itu disebabkan pertumbuhan penjualan semen di Jawa Timur yang rendah selama kuartal I.
Analis menilai, prospek kinerja SMGR masih cerah, sesuai dengan proyeksi pertumbuhan pasar semen. Itu alasan ketiga analis merekomendasikan buy untuk SMGR.
Target harga Adrianus adalah Rp 11.200 per saham, dengan pertimbangan price to earning ratio (PER) 2012 sebesar 10,5 kali, lebih murah dibandingkan PER rata-rata industri yang mencapai 12 kali. Menurut dia, ketidakleluasaan peningkatan produksi SMGR akan segera teratasi di semester II-2011.
Target harga Chandra adalah Rp 10.300 per lembar saham. Menurut dia, penambahan kapasitas akan memperkuat penjualan SMGR ke luar Jawa. Sedang Budi mematok target harga Rp 11.500 per lembar saham.
Harga SMGR, selasa (13/9) tidak berubah dari Rp 8.900 per saham.