PT Semen Gresik Tbk (SMGR) menargetkan penjualan hingga akhir 2009 sekitar Rp12,8 triliun.Target tersebut naik 5% dari perolehan penjualan perseroan pada 2008 sebesar Rp12,2 triliun.
“Perseroan tahun ini hanya menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi pasar masih belum stabil dan permintaan semen kian melambat akibat lemahnya perekonomian dan aktivitas konstruksi,” ungkap Direktur Utama SMGR Dwi Soetjipto di Jakarta baru-baru ini. Untuk meraih target tersebut, SMGR akan meningkatkan efisiensi dan berencana memodifikasi pabrik (de-bottlenecking) guna mencapai kapasitas maksimal.
Dwi menjelaskan,perseroan juga akan mengonsolidasikan dua anak usahanya, PT Semen Tonasa dan PT Semen Padang. Hingga kuartal I/2009,perseroan hanya mampu menjual 1,8 juta ton semen atau turun 0,8% dari periode sama tahun lalu (year on year/yoy) sebanyak 1,82 juta ton. Penjualan pada Maret 2009 bahkan hanya 590.150 ton atau melemah 5,6% yoy 2008 di posisi 624.940 ton.
Tahun semester I/2006,SMGR juga mengalami penurunan penjualan 3,8% yoy.Namun, total penjualan semen selama 2006 justru naik 1,8% yoy. “Kami berharap tingkat bunga kredit bisa turun sehingga sektor riil bisa berjalan dan permintaan semen kembali meningkat,”tambah Dwi. Dwi mengakui, permintaan semen nasional masih lesu.
Dia meramalkan, permintaan semen nasional bakal anjlok sekitar 9% tahun ini. Sebelumnya, volume penjualan semen nasional periode Mei 2009 turun 14,4% yoy menjadi 3,052 juta ton dibandingkan 2008 sebanyak 3,57 juta ton. Sementara periode April 2009 penjualan semen juga menyusut 8,1% yoy dari 3,1 juta ton menjadi 2,85 juta ton.
Secara keseluruhan, volume penjualan semen Januari–Mei 2009 mencapai 14,176 juta ton atau susut 8,1% yoy 2008 sebanyak 15,427 juta ton. Tahun ini perseroan sedang mengkaji pembangunan pabrik di Sumatera Barat. Pabrik tersebut akan dikelola anak usaha, PT Semen Padang untuk mengembangkan usahanya.
Namun, perseroan masih enggan mengatakan jumlah investasi yang bakal digelontorkan. “Rencana pembangunan pabrik tersebut merupakan antisipasi pertumbuhan permintaan semen di dalam negeri,” tambah Direktur Pemasaran SMGR Irwan Suarly. Menurut Irwan,Semen Padang akan mengelola pabrik baru tersebut.
Perseroan juga berencana melakukan penambahan cadangan bahan baku untuk menjamin kelangsungan pabrik di Sumatera Barat atau yang sudah ada. Irwan menjelaskan, SMGR menganggarkan belanja modal (capex) 2009 sekitar USD1,2 miliar. Dana tersebut turun 7,6% yoy 2008 sekitar USD1,3 miliar.
Penurunan capex berpotensi menurunkan pinjaman perseroan. Dalam RUPS tersebut, pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar Rp215,19 per lembar saham atau Rp1,261 triliun.Dividen ini setara 50% dari laba bersih 2008. Pembayaran dividen akan dilakukan pada 7 Agustus 2009. Rp1,259 triliun sisanya akan digunakan sebagai cadangan devisa untuk pengembangan usaha perseroan.
Analis Bhakti Capital Sekuritas Budi Ruseno mengungkapkan, SMGR masih memimpin pasar semen SMGR Indonesia. Ramalan penurunan permintaan 2009 dinilai masih wajar. “Penjualan SMGR angkanya masih lebih baik ketimbang penurunan jumlah permintaan semen,” kata Budi.