SMGR Tak Prioritaskan Ekspor

Harga Semen di mancanegara menanjak signifikan tahun ini. Average Selling Price (ASP) melesat 20,2 persen atau menjadi USD 69 per ton. Sebaliknya, semen di domestik hanya naik 1,2 persen menjadi Rp 818 per kilogram. Tetapi, hal itu tidak membuat PT Semen Gresik Tbk banting setir dengan meningkatkan pasar ekspor.

"Kami berusaha mempertahankan pangsa pasar dalam negeri," kata Sekretaris Perusahaan SMGR Sunardi Prionomurti kepada wartawan di Surabaya kemarin (22/8). karena itu, perusahaan semen pelat merah tersebut berfokus pada jangka panjang dan tidak ingin meraih keuntungan dalam tempo singkat. Terbukti, pada semester I/2011, penjualan ekspor emiten berkode SMGR itu minus 12,1 persen atau hanya 60.723 ton. "Tahun ini market share kita juga tergerus'" ujarnya.

Kinerja SMGR tahun ini memang melambat. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pangsa pasar SG per akhir Juni 2011 hanya 40,8 persen. Angka tersebut turun jika dibandingkan dengan Juni 2010 yang mencapai 42,7 persen. Market Share Indocement malah naik menjadi 18 persen. Selain itu, produksi semester 1/2011 hanya tumbuh 9,7 persen, dibawah rata - rata pertumbuhan industri semen secara keseluruhan 14,8 persen. "Kondisi itu disebabkan utilitas kita sudah mentok 100 persen. Tahun depan tambahan dua pabrik menambah kapasitas 5 juta ton," paparnya.

Akhir tahun ini, lanjut Sunardi, pabrik di Tuban mulai beroperasi. Pada kuartal pertama, pabrik di Pangkep, Sulawesi Selatan, menyusul. Secara kumulatif, penjualan Semen Gresik pada januari - Juni 2011 mencapai 11 juta ton atau sekitar 57 persen dari terget volume penjualan pada 2011 sebesar 19,5 juta ton. Dengan demikian, dalam lima bulan tersisa hingga akhir tahun, Semen Gresik harus bisa menjual 8,5 juta atau rata - rata 1,7 juta ton per bulan.

Target penjualan pada 2011 sebesar 19,5 juta ton, naik 8 persen daripada realisasi volume penjualan pada 2010 sebesar 17,9 juta ton.

Copyright © Semen Gresik . All rights reserved. / Privacy Policy